Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

[ Review ] Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dari HomeTesterClub


Hallo guys! Jadi sekitar satu minggu yang lalu aku dapat kiriman istimewa dari @hometesterclub (Instagram) sebuah produk kecantikan untuk di review di rumah. Produk yang dikirim oleh @hometesterclub adalah Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dan Sun Dullness Removal Facial Scrub

Ponds adalah produk yang kerap muncul di iklan televisi, sehingga kita sudah tidak asing lagi dengan produknya. Sebenarnya aku udah pake Ponds dari masa SMA. Awalnya Ibu yang pake Ponds duluan dan aku ikutan coba coba juga.
Sekarang mereka mengelurkan produk terbaru bernama Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dan Sun Dullness Removal Facial Scrub. Produk ini memiliki klaim baru bahwa dapat membuat wajah putih merona serta menyamarkan noda hitam dalam 2 minggu.
Sebelumnya aku ngucapin makasih banget buat @hometesterclub dan Kak Anna yang udah memberikan kesempatan buat mencoba produk ini di rumah. Nah, untuk review lengkapnya silahkan langsung disimak aja yaah! 😊

Minggu, 06 Agustus 2017

My Student Life in Malang

Almost six years have passed, and I'm now reaching the end of my final term in Malang.

Seperti sebuah keajaiban. Di sini aku mendapatkan kesempatan untuk memenuhi impian seorang gadis muda yang dulunya dunianya hanya di rumah.

Melalui kesempatan ini, aku telah menemukan rumah baru, yang 180 km jauhnya dari Ponorogo, rumahku sendiri.

Aku telah tumbuh, mampu beradaptasi dengan gaya hidup baru, misalnya mengandalkan diri sendiri, naek motor sendiri untuk berkeliling.

Hidup disini telah mengajarkan aku banyak hal. Bahkan diluar bayanganku dahulu.


Rabu, 05 Juli 2017

AMAZING JUNI

Baru inget kalo punya blog. Hehe
Akhir akhir ini jengah sama tulisan, sama kata-kata. Sama halaman berlembar lembar.
Dan baru sekarang akhirnya ngumpulin mood buat ngetik lagi.
Juni sudah berlalu, tapi bayang bayangnya sampai sekarang masih terasa. Kuat banget.
Juni selalu punya cerita sendiri dari bulan bulan lainnya.
Sampai akhirnya kemaren, pas duduk sendirian di atas sajadah setelah sholat magrib baru kepikiran.

Thank God, I am alive.
Suka lupa kalo udah dikasih nikmat yang begitu maha dahsyatnya sampai detik ini.
Suka lupa bersyukur kalo udah diberikan kesempatan bernapas sampai usia ini.
Suka lupa kalo Allah selalu punya rencana besar dibalik bulan Juni yang amazing ini.


Senin, 22 Mei 2017

DIPERMAINKAN SISTEM



Pernah gak sih, kecewa sampek mentok banget?
Sampe pengen banget teriak “WHY ME?” atau “WHY ME AGAIN?”
Nyesek. Pasti.

Memang bener kata pepatah.
Kita kecewa karena ekpektasi kita sendiri yang terlalu tinggi pada sesuatu, terlebih lagi manusia.

Dan ini sekarang terjadi.
Aku menjadi saksi ditengah tengah perjuangan panjang dua kisah.

Minggu, 11 Desember 2016

STANDING SOLO

 Istilahnya keren, tapi maknanya tetap sama. Berdiri sendirian. Sendirian.
Sendirian dan kesepian.
Aku memang tidak banyak pengalaman soal sendirian, tapi setidaknya aku tahu benar bagaimana rasanya sendirian. Dan itu tidak enak.


Jumat, 23 September 2016

TULUS

Jam setengah empat pagi, di kosan.
Setelah sholat malam dan tidak bisa tidur.
Perpaduan mata yang ngantuk tapi tidak bisa tidur, dan hati yang tidak bisa tenang.
Kemarin sore, tiba tiba grup wasap rame. Awalnya tidak tahu, apa yang terjadi hingga denting notifikasi handphone tidak berjeda beberapa detik.

Gemas dan penasaran.


Akhirnya kubuka, hal yang membuatku penasaran tadi.
Dan ternyata, isinya adalah deretan foto foto siap unduh. Ada kali lebih dari 15 an foto ayah dan ibu yang sedang jalan-jalan berdua. Yaa begitu, kencan seperti biasanya.
Kangen beliau berdua, akhirnya aku becandain mereka dengan pura-pura marah karena aku gak diajak.


Kukira ayah akan menjawab “hehehe.. kami Cuma iseng maen” atau “iya dong, kita kencan lagi” tapi ternyata tidak.
Ayah menjawab kalo sebenarnya ayah dan ibu baru ulang ziarah haji dari rumah salah satu temen kerja Ibu. Kemudian handphone ayah jatuh. Dan ternyata rumah anak yang nemuin handphone ayah deket dengan gunung Beruk, jadi beliau berdua sekalian mampir.

Sedetik kemudian, aku shock. Handphone-ayah-jatuh? Kok bisa?
Aku                 : lhoalah, kok bisa jatuh? Trus udah dibalikin?
Mungkin saat itu ayah lagi sibuk ntah ngapain gak tahu, makanya yang bales ibuk.
Ibu                   : Di taruh kantong, karena jalannya rusak jadi handphonenya jatuh gak tahu
Aku                 : Owalaaah
Ibu                   : Iya di balikin kok, trus sama ibuk dikasih uang tapi dia gak mau, ibu bilang ke dia biar dipake buat uang saku sekolah, dia malah nangis. Kasihan
Dari situ, tanpa sadar mataku mulai panas, pengen nangis.



Aku                 : Huwalaaah, lha gimana jadinya buk? Dia kelas berapa?
Ibu                   : Dia sekolah di SMP Sumberejo, akhirnya tak masukkan sakunya
Aku                 : Cowok apa cewek?
Ibu                   : Ibu tadi juga gak nanya. Anak cowok, ibuk kasih uang kayaknya takut banget. Anaknya polos banget, jujur.


Aku                 : Lha iyaa, jujur banget. Semoga sekolahnya lancar.
Ibu                   : Aminnn

            Bener-bener masih pengen nangis. Ternyata masih banyak orang baik di luar sana, dan salah satunya adalah anak yang barusan ditemui oleh ayah dan ibu. Ada sebuah pelajaran penting banget yang bisa aku rasain dari cerita ini, bahwa kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita, apapun itu dan dengan alas an apaun.
Dari sana, tiba tiba aku inget lagi tentang masalah masalah beberapa hari lalu yang bener-bener sukses bikin aku susah tidur. Aku diliputi dengan satu pertanyaan yang terus saja berulang-ulang muncul di kepala.

APA IYA AKU INI ORANG JAHAT? APA IYA AKU INI SEORANG PENCURI?

            Saakiit banget tiap kali denger dan baca kalimat-kalimat yang mengibaratkan kalo aku ini dianggap tidak lebih dari seorang pencuri. *ambil napas panjang*
            Selama 24 tahun hidup, tidak pernah sekalipun ayah atau ibuku membisiki dengan kata kata

            “kamu boleh ambil sesuatu yang kamu inginkan dari orang lain. Kamu boleh ambil apa yang kamu suka dan buat itu menjadi milikmu”

Aku mungkin gak pekaan, tapi aku masih bisa mikir kok mana yang baik dan mana yang buruk. 

Aku mungkin seenakku sendiri, tapi aku tahu kok apa yang boleh dan gak boleh aku lakuin.

Aku mungkin egois, dan bahkan jahat, tapi tak pernah ada niatan sedikit pun dalam diriku untuk menjadi seorang pencuri, menjadi orang yang merampas sesuatu yang menjadi milik orang lain, menjadi orang yang merusak hidup orang lain.

            Aku inget, aku pernah bertanya pada seseorang. Kenapa di dunia ini ada orang baik dan orang jahat? Dan dia cuma senyum sambil bilang 

“Allah menciptakan manusia dengan wujud yang paling sempurna, dianugerahi dengan tubuh yang baik dan dititipi dengan hati dan akal yang sama. Gak ada yang namanya orang jahat, yang ada adalah orang yang dulu kebaikannya tidak dihargai atau orang yang belum merasakan banyak kebaikan dari orang-orang sekitar .”

Tanpa kita sadari, kata kata yang keluar dari mulut kita benar benar bisa membuat kita berubah menjadi orang jahat, karena telah meninggalkan luka yang sangat dalam. Tanpa kita sadari, kadang kita terlalu sibuk mencari cari kesalahan orang dan akhirnya lupa kalau kita sendiri ternyata belum instrospeksi diri.


Coba deh, lihat sesuatu selalu dari dua sisi. Bukan hanya satu sisi. Dengarkan pendapat orang lain, jangan selalu berspekulasi sendiri dan akhirnya menarik kesimpulan sendiri. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, dibicarakan langsung, dibicarakan dengan tenang, dibicarakan dari hati ke hati.

Jumat, 16 September 2016

AKU, JUNIMU


Sejak kecil, aku selalu bertanya tanya.bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama dan tidur di tempat tidur yang sama, namun tak satupun dari mereka merasa bosan sampai sekarang. Aku juga heran, mengapa dua orang yang bertatap muka dengan intensitas melebihi jadwal minum obat, lebih dari tiga kali sehari dalam satu kurun waktu bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku baru tahu, ternyata sebuah kata “aku  pulang yaa” rasanya bisa seberat “selamat tinggal” dan meninggalkan lagi-lagi pertanyaan “apakah ini akan menjadi yang terakhir? Apakah esok aku sudah tak bisa lagi bertemu dengannya?”

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita saling bercengkerama, tertawa bersama, membicarakan hal-hal biasa yang terasa istimewa dan membahas dunia. Padahal, hari itu kita melewati waktu sarapan sampai makan malam bersama. padahal sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita jalan-jalan melewati jalan yang sama. Namun setiap kali waktunya datang “untuk berpisah”, “pamit” selalu terasa semakin berat.

Perpisahan dalam bentuk apaun, meski tak seberat “selamat tinggal” tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di matamu, tempat aku menemukan keteduhan. 

Baru aku sadar, sedetik setelah seseorang pergi, manusia bisa rindu pada seseorang yang baru ia temui lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Karena ketika disampingmu aku seperti menemukan apa yang aku cari. Karena ketika bersamamu aku lengkap.

Aku sangat bersyukur, meski segala yang kulalui bersamamu selama ini hanya sebuah mimpi, sebuah  mimpi yang panjang.

Sebagian orang berkata bahwa tak ada yang sempurna di dunia. Bagiku itu tidak lagi penting. Karena kamu  telah membuat aku merasa cukup.

Ini rencana semesta, sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku sadar semua ini hanya sementara. Dan akan segera tiba saatnya untukku berucap selamat tinggal. Kelak semuanya akan diakhiri dengan peluk erat dan dekap hangat. aku tak ingin kau ingat sebagai sebuah luka dan penyesalan. aku yang ada di memory mu hanya ingin diingat sebagai aku yang pernah mengisi hari-hari dan sudut kecil hatimu.

Kali ini, setidaknya untuk sementara ini. Aku meminta kamu peluk aku dengan doa. Dan kelak membiarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpiku dan kamu mewujudkan mimpimu.

Bagiku, dalam sebuah drama apapun. Happy ending bukan hanya sebatas bisa hidup bahagia bersama sama, tapi happy ending versiku adalah ketika kita memutuskan untuk bahagia, meski dengan menempuh jalan yang berbeda.

Kamis, 30 Juni 2016

PUTRI DI BULAN JUNI



Gak nyangka. Udah tanggal 4 Juni lagi.
Perasaan baru kemaren bareng bareng anak anak SWASH dikasih kejutan tumpeng gede ala monument gembira loka yang dalemnya isi buah-buahan. Sekarang udah ulang tahun lagi.

Perasaan baru kemaren, lagi seneng senengnya bisa naek sepeda diajarin Randy sampe bela-belain siang siangan panas terik dijabanin. Baru kemaren rasanya tabrakan gara gara naek sepeda motor beringasan, baru kemaren berani motoran sendiri Ponorogo-Malang sendirian, sekarang seorang Putri Yunisda, seorang anak yang gak bisa jauh dari ketek bapaknya berusia 24 tahun.

Astaga, lagi lagi gak nyadar juga kalo makin hari.. makin kesini udah makin tua aja saya.
Tapi kelakukan gak ada bener benernya. Masih seneng sama arum manis, mainan sama bubble yang dijual depan SD harga seribuan, main segala bentuk mainan yang layaknya dimainin sama murid sendiri. -___-

dapet dari memer yang rela ngantuk ngantuk nungguin jamnya tepat hahaha

Sejak subuh, 4 Juni udah dimulai dengan lantunan nyanyian selamat ulang tahun oleh kakak. Niatnya dari malem udah pengen bela-belain melek, biar pas pukul 00.00 nya lebih greget. Tapi apa boleh, nemplok bantal dikit langsung amblas ke alam mimpi. Sampai akhirnya dibangunin dering telepon dari kakak.

Diucapin selamat ulang tahun lengkap dengan nyanyian ala korea yang diulang sampai beberapa kali beserta doa doa panjang dan doa doa baik yang aku amini semua. Dan semoga doa doa yang dia panjatkan juga akan didengar Tuhan dan kembali padanya.

Setiap tahun. 4 juni emang selalu beda acara. Kali ini juga,
Anak-anak Pasca udah pada libur, udah pada balik ke kandangnya. Tinggal aku yang masih betah-betahin di Malang karena emang masih ada tanggung jawab terakhirnya. Kencan sama aplikasi raport. Hari inipun juga masuk ke sekolah karena perpisahan kelas enam.

Bulan Juni emang banyak banget yang ulang tahun. Di sekolah juga. Kemarin tanggal 3 Bu Aminatin juga ulang tahun ke 56 tahun. Bu Emmy kepala sekolah juga ulang tahun tanggal 26 Juni kemarin, sampe sampe Hilmy dan Aurel murid sendiri juga ulang tahun di tanggal yang sama kaya gurunya, 4 Juni. Gak perlu koar koar pake toak kalo hari ini Bu Putri ulang tahun, Bapak Ibu Guru juga udah pada peka. Apalagi mbak Pipit yang tiap hari ngurusin data guru guru, apal juga ulang tahun satu satu gurunya.


Diucapin satu satu oleh para guru guru senior, dipeluk gentian mulai dari Bu Emmy, Bu Wiwik, Bu Lilik, Bu Am, Bu Dhika, Bu Nita, Mbak Pipit sampe Pak Agung. Seneng banget. Serasa di rumah. Walaupun mungkin dirumah jauh dari seheboh ini. Dipeluk kenceng sama Bu Maria sambil dibisiki bermacam macam doa orang tua kepada anaknya. Setahun disini bener bener membuat aku merasa beruntung ada di antara beliau semua. Sebagai guru yang paling baru, paling muda dan paling hewa hewe, banyak banget pengalaman berharga yang bisaku dapat.

Walaupun mungkin ini adalah ulang tahun terakhir ketika aku bisa berada di tengah tengah mereka, di Purwantoro 8.

Seharian di sekolah karena sekalian perpisahan kelas enam. Kegiatan di sekolah gak jauh jauh dari ngerjakan raport dan mengerjakan raport. Setibanya acara kelas 6 yang meski sempet hujan deres banget. Kupikir hanya sebatas guru guru aja yang tahu kalo hari ini saya ulang tahun,tapi ternyata nggak. Begitu sampe di pertunjukan operet anak anak, tiba-tiba narrator berkata,

“berikan mawar putih yang kalian pegang sebagai tanda tulus terima kasih kepada bapak/ibu guru yang selama ini telah membimbing kalian”.

Lima belas anak pemain operet itu langsung Berhampur dari panggung menuju bangku bangku deretan guru sambil memberikan setangkai mawar putih. Ketika itu Fafan datang ke hadapanku.
            “Ini untuk Bu Putri”, kata Fafan sambil nyerahin bunga mawar putih
            “Selamat Ulang Tahun Bu Putri”, sahut nya kemudian



            Astagaaaa! Demi neptunus. Pengen nangis kejer saat itu juga. Segini senengnya rasanya diingat, disayang dan dipedulikan oleh siswa sendiri. Mereka dulu yang Cuma sempet kuajar beberapa kali selama PPL tapi udah akrab banget kaya temen sendiri di jam jam luar kelas. Pengen peluk mereka semua, tapi gak mungkin karena durasi kali yaa. Sampe akhirnya cuma bisa ngangguk sambil bilang terima kasih banyak. Mata udah berkaca kaca pengen mewek.


Karena HP mati sejak sore, jadi baru sampe kosan dices dan baru tahu kalo udah banyak ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari temen temen SMA, temen temen S-1 dan temen temen S-2. Daaaaaan, doa mereka yang paling banyak adalah tentang JODOH. AAminn ya ALLAH, semoga Engkau mendengarkan doa mereka semua. Hahahaha.

Di telpon Bapak Ibuk dan Adek juga sambil bilang selamat ulang tahun. Seperti tahun tahun sebelumnya, seperti kata bapak yang sudah-sudah.

            “Kita gak perlu merayakan ulang tahun kamu dengan acara besar. Karena inti dari ulang tahun adalah balik lagi ke doa-doanya. Dan Bapak Ibu gak perlu nunggu doain kamu setiap jelang ulang tahun, kami doain kamu setiap hari”.

            *brb mewek dulu*

Bulan Juni emang bulan baik banget. Di bulan ini juga bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Seneng banget pas dapet berita, anak anak SWASH dan ISTIQOMAH juga pengen puasaan bareng di Malang.Tepat setelah balik dari Jember, kita sepakatin buat kumpul di Malang lagi. Seneng. Banget. Pada bela-belain ke Malang, kumpul bareng. Walaupun sekedar buka puasa yang anti ontime. Karena emang di Malang ribet bisa buka puasa on time di masa masa puasaan, dimana mana pasti penuh sesak. Tapi capeknya balik dari Jember terobati, karena bisa liat mereka semua.

            Rima dan Nova yang bela-belain jauh-jauh dari Ponorogo. Walaupun alesan Rima ke Malang sebenernya mengkambing hitamkan aku juga pas ditanya ayahnya ngapain ke Malang.
            Jawabnya : “aku loo pengen jenguk dan jemput Putri, Putri kok di Malang gak pulang-pulang”
            -_____-  ini apa yaaa?

Rela naek bis hamper 10 jam dari ponorogo ke Malang, desek-desekan, panas panasan saking pengen ketemunya. Astagaaa.. ini banget yaa, pejuang LDR. Long Distance Real-Friendship :D
Ratna juga, bela-belain masak udang yang dia tangkep sendiri dari tambaknya. Ribet masak, trus naek bis dari Lamongan. Keujanan sampe Singosari, demi ketemuan sama temen temennya. Gimana gak pengen peluk-kenceng-gak-pengen-lepas mereka semua L
           
SWASH udah kumpul, berenam. Kurang satu. Ary. Dan kita semua udah tau apa alasannya, dan kita semua udah paham.

ISTIQOMAH juga udah kumpul. Kak Wel yang jauh jauh dari Bondowoso, Kak Can dari Jember, Merinta dari Trenggalek, Fifin dari Tuban dan Nindya dari Tulung Agung. Sebenernya kalo jujur, akulah yang agak merusak rencana puasaan di Malang kemarin. Karena saking lamanya aku kabur ke Jember jadi jadwal puasaan bareng di Malang agak terganggu. Tapi sebegitu tibanya di Malang, bisa buka puasaan bareng SWASH dan ISTIQOMAH itu bener bener udah sueneeng banget. Akhirnya nemu alesan yang tepat buat balik ke Malang, setelah udah jengah luar biasa. Alesannya ya mereka semua.


            Apalagi dengan surprise yang bener bener diluar pikiran. Gak kepikiran sama sekali. Hadiah ulang tahun yang dibikin Nindya, Fifin sama Merinta rombongan buat aku, Kak Wel dan Kak Can yang bener bener bikin speechless. Niat banget mereka bikin kalender ucapan dari temen temen sekelas, temen temen bahasa, dan temen temen yang lain, rela ngirim jauh dari Tulung Agung, rela kasih surprise nari “fortune Cookies” yang kita anggep sedari dulu hanya wacana, lengkap dengan kue ulang tahun lucu bertuliskan “PUT WEL CAN” yang sayang banget buat dimakan. L


            Terharu dan pengen nangis. Gak tahu harus bilang apa. NUIAT!
            Katanya kalo bikin orang atau sahabat sendiri itu bahagia udah dapet pahala, mungkin mereka bertiga udah dapet buanyaaak pahala waktu itu. Nyenengin tiga orang dalam waktu bersamaan. Balesan kata “terima kasih” doang paling gak bisa cukup buat bales apa yang udah mereka lakuin. Pengen peluk satu satu sampek sesek, gak pengen lepas, gak pengen tengkar-tengkar, suayang mereka semua pokoknya.


            SWASH juga. Di malem Ratna ulang tahun, kami sempet jalan jalan ke simpang IJEN, foto-foto di sana, foto box di matos yang udah jadi nyidamnya Rima sejak dari Ponorogo, sampe akhirnya ketahuan mereka bakalan bikin surprise ganda buat aku dan Ratna. Pulangnya, kami mampir ke Citra buat beli Roti. Begitu masuk tokonya, liat di deretan lemari es yang isinya kue kue, terpampang black forest dengan tulisan “HBD Putri an Ratna” gede banget.
            Emm.. ini apa yaaa? *ngakak*
            Karena udah ke-gap di dalem tokonya, Merinta, Rima, Febby dan Nova langsung kicep. Sementara aku sama Ratna udah ngakak gak bisa berhenti. Sampe akhirnya mereka berempat ngambek dan nyuruh kami berdua bawa bawa sendiri dan bayar bayar sendiri kue ulang tahunnya. Hahaha


            Dimana lagi bisa nemu orang orang yang nilainya 90 kaya mereka lagi?

Beberapa kali sempet kepikiran. Pas lagi sendirian. Gimana rasanya dicintain sedemikian dalamnya sama seseorang sepanjang hidup. Sebelumnya anggapanku dicintain sedemikian dalam itu hanya bisa dilakukan oleh satu orang ke orang lain. Tapi 4 Juni dan sepanjang bulan Juni kemarin, aku akui. aku salah besar.

Definisi dicintai sedemikian dalam ternyata adalah dibela-belain, disayang, dipedulikan, diperhatikan, diberikan ketulusan, diberikan senyuman dari orang –orang yang bener bener sayang pada kita. Mulai dari ibu, ayah, adek, keluarga, teman-teman, sahabat tersayang, bahkan sampai rekan rekan guru dan murid sendiri.

Apa yang lebih membahagiakan daripada dicintai sebegiu besarnya oleh orang orang yang juga sangat kita sayangi.

Beruntung. Karena aku mengenal mereka semua, dikenal mereka dan berada di tengah tengah mereka. Gimana aku gak pengen jaga mereka semua, menyayangi mereka semua, sebagaimana apa yang telah mereka lakukan padaku selama ini.

Aku gak butuh caption banyak, butuhnya kalian semua.

Etapi, butuh jodoh juga sih
Lah, baper -___-‘


Kamis, 02 Juni 2016

#KABURSEBENTAR


Pasang background music “Kisah yang Indah – Monita”



Judulnya kabur sebentar, memang bukan maen sebentar.
Sebentar karena memang durasinya hanya 1 x 24 jam. Dan kabur karena ini memang salah satu dari ajang pelarian.
Awalnya Cuma ngerasa capek, dengan semua hal di Malang. Males dan pengen lari. Tapi belum nemu tempat yang pas buat ngelakuin itu, dan belom ada orang yang bisa dijadikan sandaran.
Kalo mau pulang? Kayaknya gak mungkin. Kalo mau nginep di mas? Gak mungkin juga karena mas lagi jaga dan mbak udah pulang ke jember. Akhirnya otak nangkep sinyal kalo ada sebuah tempat yang bakalan cocok jadi tempat kabur.

SURABAYA

Udah hamper 3 tahun gak ke kota ini lagi. Kota yang tiap kali kesna selalu punya cerita baru dan kenangan baru.
Kalo udah ngomong Surabaya, kata pertama yang terlintas di pikiran adalah ITS. Mau diapa-apain ITS buat aku tetep aja keren. Gatau kenapa.
Karena udah gak mungkin ke Surabaya nebeng di Mbak Dyka, akhirnya lari ke Eyin. Temen SMA yang sekarang lagi nempuh kuliah profesi Nurse di Universitas Airlangga. Setelah di BBM dan ngobrol sana sini akhirnya dia setuju nampung mahasiswa ‘yang galau mau kabur kemana’ ini di kosannya Sabtu kemarin. Hari Jumat baru deal, Sabtu siang udah maen berangkat.
Temen temen juga pada nanyain sih, kenapa tiba tiba pengen ke Surabaya disaat sebelum sebelumnya gak ada planning apa-apa. Aku jawabnya juga singkat, “ya gapapa, cuma pengen maen aja ke Surabaya”.

berbekal tiket kucel, dan permen milki ijo kesayangan :D


Singkat cerita akhirnya, Sabtu siang aku berangkat ke stasiun dianter kakak yang udah rela kurepotin terus-terusan, naek kereta jam setengah 1 siang. Dimanapun aku berada, kayaknya selalu ada human error nya. Yaa sama kaya kejadian abis naek kereta ini. Begitu aku naek gerbong, nyari tempat duduk 17C disana udah ada mas-mas berusia sekitar 30 tahunan.

“permisi mas, 17C?”, tanyaku baik-baik sambil benerin tas

Mas-mas itu langsung bangun dari duduknya sambil berkacak pinggang.
Aku sempet shock sama tingkah mas-mas ini, kenapa pake acara berkacak pinggang juga sih?

“Iya mbak, tapi saya juga 17C. ini tiketnya kalo gak percaya!”, jawabnya langsung nyolot, nadanya tinggi sambil merogoh karcis di saku celananya.
Belom juga aku ngrespon, udah ditambahin lagi. “iya.. iya. saya turun blimbing!”.

Elah, santai aja mas. Gak sungkan apa diliatin orang orang segerbong gara-gara teriak-teriak padahal Cuma ditanya soal nomer kursi doing?, pikirku.

Akhirnya sebelum terjadi percekcokan antar penumpang nomer 17C, mas-mas berjaket kulit hitam langsung nawarin.
“Mbaknya duduk sini aja, kebetulan kosong. Mungkin masih banyak yang belom turun juga penumpangnya jadi yaa agak ribet nomer duduknya”, jelas masnya panjang lebar

Aku segera mengangguk dan duduk ditengah antara mas-mas berjaket kulit hitam yang baik hati itu dan seorang ibu ibu tua yang keliatan sangat mengantuk.

Perkaranya selesei? BELOM

Mas-mas songong itu tadi masih aja liatin aku dari atas sampe bawah dengan tampang mengintimidasi.

Apa lu liatin gue? Minta dicolok matanya?
Semakin aku diliatin sinis, semakin tak bales seribu kali lebih sinis.

Heran. Kenal juga enggak. Gak bisa apa sekalinya ketemu orang sikapnya baik dikit gitu? Gak bisa put, udah bawaan orok. Oke bye!
Kita tinggalin mas-mas yang gak penting itu. Saya gamau perjalanan naek kereta api tut—tut—tut saya jadi HELL.


Deret kursi nomer 18ABC harus berhadapan dengan dua orang lagi. Seorang nenek nenek yang dari aku niat duduk udah naikin kaki dikursi (tempat aku duduk sekarang) sambil mangku cucunya yang lagi tidur. Ibu-ibu disampingku langsung nyeletuk, “buk, kok kakinya gak diturunin? Mbaknya gak bisa duduk enak”
Kalo bisa digambarin dengan animasi, kayaknya mataku udah berkaca kaca sambil liat ibunya dengan tatapan you-know-me-so-well ya bu.
Tapi nenek-neneknya Cuma respon, “gapapa kan mbak yaa?”
Aku Cuma nyengir, “iya bu, gapapa”. Padahal dalem hati udah nangis nahan kaki sakit gak bisa dilurusin.
*apa ini yang namanya karena wanita ingin dimengerti? kali ini gue ngrasain apa yang dirasain cowok selama ini -___-*

Kereta api terus bergerak maju tanpa peduli kalo banyak banget drama di dalam gerbong keretanya. Gak peduli kalo udah hamper terjadi pertumpahan darah antar penumpang nomer 17C. Satu persatu stasiun menuju Surabaya udah dilewatin, beberapa kali berhenti lama entah karena apa, sampai akhirnya jalan lagi.

Sepanjang perjalanan Cuma mas-mas jaket hitam yang nolongin aku tadi yang ngajakin ngobrol, mulai dari kuliah dimana, mau kemana, asli dari mana, sampe akhirnya Tanya.

“mas, kata temenku suruh turun gubeng baru. Emang apa perbedaan gubeng baru dan gubeng lama?”,

Dengan pasang segoblok-gobloknya tampang, aku lebih milih beneran tanya daripada nanti ujungnya malah tersesat. Gak lucu lah kalo endingnya malah tersesat setibanya di Surabaya. Itu gak keren!
Akhirnya dia jelasin, “kalo gubeng baru kita turun pintu kanan kereta, kalo gubeng lama kita turun pintu kiri kereta”.

Agak gak mudeng sih, tapi beraniin diri lagi tanya, “kalo masnya turun dimana?”
Masnya dengan baik hati jawab lagi, “gubeng baru, mbak!”
Aku seneng, karena setidaknya ada pencerahan. Bakalan ada satu orang yang bisa dijadikan tuntunan setelah turun dari kereta api yang penuh drama ini. “Saya ikut ya mas, turunnya. Hehe”. Masnya ngangguk pelan dan pembicaraan kami selesai sampai disitu.

Karena apa? Bukan karena ada pihak ketiga atau sejenisnya. Karena begitu obrolan kita selesai, kereta ini yang mulai drama. Setelah berhenti di Bangil, nenek dan cucunya beserta ibu-ibu yang duduk disampingku turun, keretanya jadi lamaaaa banget berhenti dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Mana perut laper banget, Cuma bawa roti sepotong, kebanyakan minum nanti kembung. Duh yaaaa…
Aku gak bakalan biarin express escape ini pecah berantakan.
Sabarr.. sabaarrr..


Beberapa kali eyyin udah nanyain sampe mana beb, sampe mana beb. di jadwalnya sih ekspektasinya dari jam 12.20 sampe jam 15.11. realitanya dari jam 12.20 sampe jam 16.30. hahahaha, ngenes banget udah hamper pingsan di kereta.
Setelah nunggu lama bagai ladang gandum hujan coklat dan jadilah coco crunch akhirnya, mendarat di New York dengan cantik jelitaaaaa. (read: kucel, kusem, wajah berminyak kaya gorengan, dan bau kereta)


Seperti janjinya, aku ngikuti mas-mas jaket hitam menuju jalan yang benar. Perjalanan mencari kitab suci ini diakhiri dengan bertemunya dua insan yang udah hamper setengah tahun gak ketemu. Begitu udah liat mio merah plat AE, hati udah girang banget. Begitu ketemu langsung pelukan kaya teletubies di depan gerbang gubeng. Hahaha lagi lagi drama.


Hallo, gedung gedung tinggi. Kita bertemu lagi.

Sebelum ke kosnya, Eyyin sempet ngajakin jalan jalan keliling kampusnya sampe akhirnya kita mampir makan. Tanpa ditanyapun kayaknya Eyyin tau kalo aku udah laper tingkat kecamatan. Setelah makan, kita menuju kosannya di daerah Karang Menjangan. Capek, kesel, tapi seneng dan semangatnya masih kok. Belom juga mandi Eyyin udah nawarin male mini kita mau maen kemana. Aku yang bener bener buta Surabaya cuma ikut aja mau diajakin kemana. Akhirnya kita mutusin buat ke Food Festival Surabaya.

Setelah sholat magrib, kita mulai jalan. Sebelum ke Food Festival, Eyyin ngajakin ke kampung program kerja profesinya. Sebenarnya Eyyin dalam masa program kerja buat profesinya, dan hari Minggu dia ada proker buat senam bersama para lansia di kampong itu. Jadi, Eyyin ngajak ke pak RW nya dulu buat ijin sekaligus pinjem segala peralatan untuk hari Minggu paginya.

Dalam perjalanan ke Food Festival, aku juga sempet BBM in Alham. Dia juga tahu kalo aku bakalan punya rencana buat ke Surabaya hari ini. Akhirnya dia setuju meskipun dia baru nyusul pas aku dan Eyyin udah penuh kelilingin FF nya.

Ada yang menarik di Food Festival kemaren, yang dari jauh udah ketangkep mata dan buru-buru gak sabar bilang ke Eyyin, “Yin, yuk beli cotton candy”. Iya cotton candy sejenis makanan mirip gulali yang terbuat dari gula yang bentuknya macam sarang laba-laba warna-warni. Udah dari pulang ke Ponorogo udah nyidam makanan ini, tapi belum juga kesampean gara-gara pas dirumah kemaren rempong sendiri.






Eyyin yang notabene menobatkan dirinya sebagai tuan rumah yang baik, nurutin kemauan tamu rewel 24 jam yang dari Malang ini. Antriannya panjaaaang banget, tapi worth it lah. Akhirnya bisa dapet cotton candy warna-warni setelah sekian lama. Puas kelilingin food festival yang isinya makanan semua, akhirnya kita mutusin buat ke food court deretan depan FF sambil nungguin Alham di sana.
tiga orang dengan profesi berbeda dalam satu meja

awalnya pada gamau foto katanya malu, tapi demi nyenengi bu guru rewel akhirnya mereka pada foto juga

Food courtnya penuh, karena malem minggu dan ada live music nya juga. Jadi agak susah nemu tempat yang kosong. Sambil nunggu, kita pesen camilan. Hamper setengah jam nunggu, akhirnya Alham dateng. Baru juga nyamperin, belum juga duduk udah ditodong dengan pertanyaan, “kamu ngapain ke Surabaya?”

Astaga. Emang sekarang berlaku aturan seorang Putri Yunisda gak boleh menginjakkan kaki di Surabaya? Jahat dia.

“Baru juga nyampek, belom juga duduk, belom juga salaman udah gitu pertanyaannya. Jahat banget! Emang gaboleh ke Surabaya?”,
“mencurigakan soalnya. Ngapain tiba tiba ke Surabaya dadakan gitu?”, terus aja ngomel sambil narik kursi buat duduk.
“lha kamu ngapain pake duduk? Pake acara mau nyusulin ke sini hayooo?”
“kan sebagai tuan rumah Surabaya yang baik, hayoooo! Yakan Yin?”

Eyyin cuma nyengir sambil terusin makan cemilan.
Beberapa kali Alham tetep kekeh dengan pertanyaan yang sama, alasan utama kenapa tiba tiba dateng ke Surabaya, dadakan dan bener bener singkat.
Kami bertiga adalah mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang jauh berbeda. Eyyin yang dengan segala bidang kesehatan dan semestanya. Kaitan sama darah, suntik, infuse, dan rumah sakit. Sementara alham dengan segala bidang IT nya. Kaitan sama laptop, computer, memrogramaan dan antah brantahnya. Dan aku dengan bidang pendidikan yang tiap hari ngurusin prota, promes, silabus, RPP, siswa dan kelas bertemu di satu meja dengan bahasan dari bidang masing-masing. Kalo kita bahas kesehatan, aku dan alham yang Cuma bisa bilang “oooo” panjang sambil angguk angguk sok paham, kalo kita bahas tentang IT, aku dan Eyyin juga Cuma bisa “oooo” panjang. Sementara pas aku cerita, mereka yang udah ngerti dunia pendidikan juga Cuma menjadi pendengar segala curhatanku tentang Pasca dan Sekolah.

Gak kerasa udah ngobrol panjang setelah hampir 4 tahun gak ketemu. Alham sempet kerja juga sih di Malang, deket sekolah pula. Tapi semesta gak kasih ijin buat ketemu, sampe akhirnya dia balik lagi ke Surabaya. Dia milih Surabaya yang panas ini daripada Malang.

Eyyin
:
Aku besok ada proker senam pagi bareng lansia, kamu gapapakan tak tinggal nak?
Me
:
Iya gapapa mak
Eyyin
:
Nanti jam 9 udah kelar kok, trus kita maen. Kamu mau maen kemana?
Me
:
*Cuma natap mereka berdua gantian sambil masang wajah gue-gak-tahu-apa-apa-tentang-surabaya* bagusnya kemana?
Alham
:
Banyak lah. Ada car free day di taman bungkul besok pagi, ada mall mall berjejer tinggal milih, ada mangrove, ada masjid ampel
Me
:
*cengo dan keliatan bingung* mangrove? Di Surabaya? Jauh?
Eyyin
:
Aku gatau tempatnya, itu daerah mana sih?
Me
:
*pasang tampang anterin-kita-kesana-plissss*
Alham
:
Ogah, mendingan tidur ampe siang. Nanti ada Liga Champion
Me
:
Dasar, belom juga ngomong
Alham
:
Udah bisa ketebak isi pikiranmu
Eyyin
:
Apa ke danau Unair aja? Aku dulu kalo lagi galau kalo lagi homesick pasti kesana, ngasih makan ikan.
Putri
:
Terserah kalian mau ngajakin kemana, aku nurut pokoknya aku diseneng-senengin 24 jam ini
Alham
:
Iya iya, 24 jam ini kita seneng-senengin tamu dari Malang ini Yin, besok mau gak mau kita usir dia balik pulang ke negaranya. Hahaha

Ngobrol seru, ngobrol panjang sampe bully-bullyan. Sekitar jam setengah 11 an akhirnya kita mutusin buat pulang. Alham ngajakin kita keliling ITS dulu sebelum akhirnya dia pisah di deket perumahan kontrakannya.
Saking capek, saking senengnya juga. Setelah sampe kos Eyyin langsung tepar sampe pagi. Pagi-pagi buta Eyyin udah ribet sendiri dengan training dan baju baju olahraga, sementara anaknya (read: aku) masih gak gerak di atas kasur. Mager parah. Di kosan cengo sendirian sambil nunggu Eyyin pulang mirip anak ayam yang udah kelaperan sementara emaknya masih berjuang cari makan.
Sesuai jadwal, next jalan-jalan kita rencananya adalah mangrove. Hal pertama yang harus dilakukan adalah nelpon guide yang kemaren nawarin mangrove itu sendiri. Saudara Alham. Dan setelah ditinggal makan sampe kenyang, di bbm, di PING, di sms, dan dengan usaha terakhir di telpon tidak ada respon bagai menghilang dari peradaban karena Liga Champion atau apalah itu namanya, kita berdua mikir ulang buat tempat yang bakalan kita kunjungi. Eyyin udah ngaku sendiri kalo emang selama hampir lima tahun dia belom apal daerah Surabaya dan semestanya. Taunya paling itu itu doang, dan gak lucu kan kalo kita berdua yang buta baca GPS ini juga tersesat? Cari jalan aman akhirnya kita mutusin ke danau UNAIR yang Eyyin certain kemaren. Tepatnya di Kampus C Mulyorejo.



Sebelum ke danau, kita mapir stasiun dulu, berniat beli tiket balik malang. Dan baguslah saudara saudara, tiketnya habis dalam sekejap mata. Yang tersisa hanya tiket untuk jam 8 malam dan itupun berdiri. Matilah awak.. beberapa menit didepan loket bingung sambil mikir akhirnya gak jadi beli. HELL banget.

Diajakin maen keliling danau, keliling kampus aja udah sueneng banget. Diajakin beli makan ikan, ngasih makan ikan, ngobrol di tepi danau sambil liat kapal-kapalan aja rasanya udah luar biasa seneng. Ditambah lagi bisa puas-puasin gulung-gulung dirumput ijo depan danau sampe bikin malu. Panasnya Surabaya yang bener bener terasa sampe tulang gak jadi masalah sama sekali. Yang penting seneng, itu aja sih pointnya.


kalo sendirian kesini pas galau galaunya palingan udah nyebur -__-



keliling UNAIR aja sanggup, apalagi kelilingin hati kamu bang :D

pokoknya dikit dikit foto




ini sesion paling malu-maluin. gulung-gulung di rumput di siang bolong



kasur sama rumput gak bisa bedain, udah mager :D


ngasih makan ikan nila :D



Abis puas alay-alayan, bikin video, foto foto dan pulangbalik ke kosan akhirnya Alham nelpon. Kayaknya dia baru balik dari planet Namex. Nanyain kita sekarang posisi dimana, jadi ke mangrove gak? Udah telat, basi. Hahahaha
Oya, hari itu tanggal 29 Mei. Hari ulang tahun Eyyin. Aku juga awale gak nyangka kalo ngepas banget kesana pas bisa nemenin dia ulang tahun di Surabaya. Meskipun aku Cuma bisa nyusahin, rewel, alay, ngajakin maen ke sana sini padahal dia ada program kerja profesi. Dia rela-relain nyenengin aku, ngajakin makan dan jalan-jalan.



Selamat ulang tahun cewek kece dan super setrong se surabaya@eyin_eryin semoga bertambah semua kebaikan, bertambah kedewasaan. semoga lancar profesi nurse nyaa. semoga diberikan kemudahan rejeki, umur, kesehatan dan jodohnya. terima kasih telah menjadi bagian dari cerita pendek ku "kabur dari Malang". suayaaang kamu poll.aku akan datang lagi, pasti. dan kamuu mau gak mau harus nunggu aku

Balik ke malang, Eyyin ternyata gabisa anter aku karena ada program kerja jam setengah 5. Akhirnya setelah omel omelan, debat panjang, dan bully-bullyan akhirnya Alham yang anter aku ke terminal.
Gara gara berdosa gak bisa ngajakin maen ke mangrove Bu Guru yang lagi nyidam liburan itu, akhirnya dia bersedia nganterin ke terminal. Dan ternyata itu jauh sekali saudara saudara. Sekitar 30 menitan dari kos Eyyin. Hahaha mayan yaa..


Di tengah perjalanan, masing dengan pertanyaan yang sama
“ngapain kok tiba tiba ke Surabaya?”
Aku nyengir di boncengan belakang.
“Beneran kabur ternyata?”
“Iya, udah capek sama Malang dan seisinya.”
“Gausah pulang dulu, maen dulu disini. Baru juga kemaren sampek. Balik seminggu lagi”
“Gak bisalah, besok jaga UKK. Kasian anak anakku”
“Iya ding, bu Guru”
“padahal masih pengen di sini, pengen maen. Gamau balik malang.”
“Lha makanya”
“Ntar lagi, aku maen ke sini lagi. Aku pengen Surabaya tetep jadi kota yang ngangenin. Sesekali aja kukunjungi biar aku gak bosen.”
“iya, tapi Surabaya gak mau kamu jadiin pelarian”



Intinya, niatin ke Surabaya tu healing, bukan escaping.
Setelah ngobrol panjang, nglewatin jalan jalan perumahan dan kampung yang aku gak kenal akhirnya sampe di dalem terminal.

“trus abis ini aku kudu nyari plang Surabaya-malang kan?”, memastikan diri
“kamu sebelume belom pernah naek bis dari Surabaya-malang?”
“udah pernah sekali tapi gak sendirian. Jadi pas itu aku Cuma ikut aja”
“jadi bener bener gak ngerti?”
Aku menggeleng, orang beneran gak ngerti.
“dasar, nekat!”
Akhirnya dianter nyari bis jurusan Surabaya-Malang sampe dapet, macam bapak-bapak yang nganterian anak TKnya berangkat naek bus sekolah sampe depan pintu bisnya.
“kalo ada apa apa BBM aja, kalo udah nyampe BBM”
“Iya.. iya.”

Dan itulah akhir acara kabur singkatku ke Surabaya kemarin. Selama di bis, Cuma bengong sendirian sambil liat jalan. Mulai mikir.
Ternyata benar, aku aja yang gak mengakui. Kalo perjalanan 24 jam ini adalah pelarian. Pelarian dari segala ke-jengah-an Malang. Capek sama UAS, capek sama sekolah, capek sama semua hal. Pengen pulang tapi gak bisa, pengen maen jauh tapi bingung mau kemana, mau ke timezone tapi lagi gak mood.

Gak heran, tiap kali aku ganti DP selama di Surabaya Rima, Ferdhin, Ratna semuanya komen kalo setiap DP ku aku bisa ketawa puas banget, seperti keluar dari penjara. Keliatan seneng banget padahal aku Cuma pasang DP yang itu-itu aja di tempat yang sama.
Beruntungnya aku, bisa dapet temen temen yang bersedia tak repotin, tak bawelin, tak ajakin kesana kemari padahal mereka juga lagi pada sibuk, lagi punya urusan masing-masing. Beruntung punya temen temen yang care, yang bisa jagain dari gerbang gubeng baru sampai gerbang terminal Purabaya biar aku gak jadi anak ilang. Beruntung punya mereka yang selalu baik, selalu ngertiin aku yang menjadikan Surabaya sebagai pelarian diri.
Begitu balik ke malang, udah full energy lagi. Udah siap ngadepin sekolah dengan segala dramanya, udah siap ngadepin tumpkan koreksian UKK, ngadepin aplikasi raport yang HELL sedunia.




Pokoknya, hari itu. Minggu, 29 Mei 2016 dari jam 06.00 sampai jam 24.00 udah dibuat seneng banget banget banget.
 

Beautiful Days Template by Ipietoon Cute Blog Design