Tampilkan postingan dengan label Quotes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quotes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juli 2017

AMAZING JUNI

Baru inget kalo punya blog. Hehe
Akhir akhir ini jengah sama tulisan, sama kata-kata. Sama halaman berlembar lembar.
Dan baru sekarang akhirnya ngumpulin mood buat ngetik lagi.
Juni sudah berlalu, tapi bayang bayangnya sampai sekarang masih terasa. Kuat banget.
Juni selalu punya cerita sendiri dari bulan bulan lainnya.
Sampai akhirnya kemaren, pas duduk sendirian di atas sajadah setelah sholat magrib baru kepikiran.

Thank God, I am alive.
Suka lupa kalo udah dikasih nikmat yang begitu maha dahsyatnya sampai detik ini.
Suka lupa bersyukur kalo udah diberikan kesempatan bernapas sampai usia ini.
Suka lupa kalo Allah selalu punya rencana besar dibalik bulan Juni yang amazing ini.


Senin, 22 Mei 2017

DIPERMAINKAN SISTEM



Pernah gak sih, kecewa sampek mentok banget?
Sampe pengen banget teriak “WHY ME?” atau “WHY ME AGAIN?”
Nyesek. Pasti.

Memang bener kata pepatah.
Kita kecewa karena ekpektasi kita sendiri yang terlalu tinggi pada sesuatu, terlebih lagi manusia.

Dan ini sekarang terjadi.
Aku menjadi saksi ditengah tengah perjuangan panjang dua kisah.

Senin, 15 Mei 2017

TAKKAN MENYESAL TELAH JATUH HATI


Senin malem. Sendiri. Di kosan. Habis beli es krim
Dan bingung mau ngapain.
Tidur belum ngantuk, ngerjain revisi gak ada mood, nonton tv males.
Bener bener gak ada gairah hidup sama sekali.

Sampe akhirnya kegiatan paling menyenangkan di dalam kamar ukuran 3 x 3 meter ini adalah ngikutin gerak gerak ikan neon kesana kemari. Mencermati dengan seksama geng neon baru yang kemaren sepertinya baru terbentuk ketuanya, seharian kemaren gak berhenti-hentinya muterin fish bowl ampe yang liat aja puyeng -___- semacam chelsea menang tapi konvoynya pindah ke akuarium.

Semakin diliat liat, akuarium yang sekarang isinya banyak rerumputan dan semak belukarnya ngingetin ke pengalaman unforgetable snorkling di Lombok.

Dan sekarang jadi kepingin cerita itu, walaupun udah lama, dan yaa .. basi.
Etapi, gak ada kata basi buat moment super precius yang baru aku alami seumur hidup.

Oke, lets me start my story.
*sambil dengerin lagunya Monita- Memulai Kembali biar kerasa feel feel deburan ombaknya*


Senin, 03 April 2017

How Far I Will Go


Ini tentang cerita perjalanan 180 km from home.



Berjarak 180 km dari rumah itu bukan tempat yang dekat. Jauh, bahkan sangat jauh dari jangkauan. Jarak Ponorogo ke Malang saat aku berusia 16 tahun bagai Ponorogo ke Jekardah. Jauhbanget. Ngelipp kalo kata orang desa mah.

Untouchable. Kalo bahasa agak maduranya lah.

Bener-bener susah dibayangin.
Sejauh yang ku tahu, yang pertama terlintas di otak ketika mendengar Malang itu Cuma dua. Jatim Park dan Apel. Selebihnya, aku gak tahu.

Minggu, 11 Desember 2016

STANDING SOLO

 Istilahnya keren, tapi maknanya tetap sama. Berdiri sendirian. Sendirian.
Sendirian dan kesepian.
Aku memang tidak banyak pengalaman soal sendirian, tapi setidaknya aku tahu benar bagaimana rasanya sendirian. Dan itu tidak enak.


Jumat, 23 September 2016

TULUS

Jam setengah empat pagi, di kosan.
Setelah sholat malam dan tidak bisa tidur.
Perpaduan mata yang ngantuk tapi tidak bisa tidur, dan hati yang tidak bisa tenang.
Kemarin sore, tiba tiba grup wasap rame. Awalnya tidak tahu, apa yang terjadi hingga denting notifikasi handphone tidak berjeda beberapa detik.

Gemas dan penasaran.


Akhirnya kubuka, hal yang membuatku penasaran tadi.
Dan ternyata, isinya adalah deretan foto foto siap unduh. Ada kali lebih dari 15 an foto ayah dan ibu yang sedang jalan-jalan berdua. Yaa begitu, kencan seperti biasanya.
Kangen beliau berdua, akhirnya aku becandain mereka dengan pura-pura marah karena aku gak diajak.


Kukira ayah akan menjawab “hehehe.. kami Cuma iseng maen” atau “iya dong, kita kencan lagi” tapi ternyata tidak.
Ayah menjawab kalo sebenarnya ayah dan ibu baru ulang ziarah haji dari rumah salah satu temen kerja Ibu. Kemudian handphone ayah jatuh. Dan ternyata rumah anak yang nemuin handphone ayah deket dengan gunung Beruk, jadi beliau berdua sekalian mampir.

Sedetik kemudian, aku shock. Handphone-ayah-jatuh? Kok bisa?
Aku                 : lhoalah, kok bisa jatuh? Trus udah dibalikin?
Mungkin saat itu ayah lagi sibuk ntah ngapain gak tahu, makanya yang bales ibuk.
Ibu                   : Di taruh kantong, karena jalannya rusak jadi handphonenya jatuh gak tahu
Aku                 : Owalaaah
Ibu                   : Iya di balikin kok, trus sama ibuk dikasih uang tapi dia gak mau, ibu bilang ke dia biar dipake buat uang saku sekolah, dia malah nangis. Kasihan
Dari situ, tanpa sadar mataku mulai panas, pengen nangis.



Aku                 : Huwalaaah, lha gimana jadinya buk? Dia kelas berapa?
Ibu                   : Dia sekolah di SMP Sumberejo, akhirnya tak masukkan sakunya
Aku                 : Cowok apa cewek?
Ibu                   : Ibu tadi juga gak nanya. Anak cowok, ibuk kasih uang kayaknya takut banget. Anaknya polos banget, jujur.


Aku                 : Lha iyaa, jujur banget. Semoga sekolahnya lancar.
Ibu                   : Aminnn

            Bener-bener masih pengen nangis. Ternyata masih banyak orang baik di luar sana, dan salah satunya adalah anak yang barusan ditemui oleh ayah dan ibu. Ada sebuah pelajaran penting banget yang bisa aku rasain dari cerita ini, bahwa kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita, apapun itu dan dengan alas an apaun.
Dari sana, tiba tiba aku inget lagi tentang masalah masalah beberapa hari lalu yang bener-bener sukses bikin aku susah tidur. Aku diliputi dengan satu pertanyaan yang terus saja berulang-ulang muncul di kepala.

APA IYA AKU INI ORANG JAHAT? APA IYA AKU INI SEORANG PENCURI?

            Saakiit banget tiap kali denger dan baca kalimat-kalimat yang mengibaratkan kalo aku ini dianggap tidak lebih dari seorang pencuri. *ambil napas panjang*
            Selama 24 tahun hidup, tidak pernah sekalipun ayah atau ibuku membisiki dengan kata kata

            “kamu boleh ambil sesuatu yang kamu inginkan dari orang lain. Kamu boleh ambil apa yang kamu suka dan buat itu menjadi milikmu”

Aku mungkin gak pekaan, tapi aku masih bisa mikir kok mana yang baik dan mana yang buruk. 

Aku mungkin seenakku sendiri, tapi aku tahu kok apa yang boleh dan gak boleh aku lakuin.

Aku mungkin egois, dan bahkan jahat, tapi tak pernah ada niatan sedikit pun dalam diriku untuk menjadi seorang pencuri, menjadi orang yang merampas sesuatu yang menjadi milik orang lain, menjadi orang yang merusak hidup orang lain.

            Aku inget, aku pernah bertanya pada seseorang. Kenapa di dunia ini ada orang baik dan orang jahat? Dan dia cuma senyum sambil bilang 

“Allah menciptakan manusia dengan wujud yang paling sempurna, dianugerahi dengan tubuh yang baik dan dititipi dengan hati dan akal yang sama. Gak ada yang namanya orang jahat, yang ada adalah orang yang dulu kebaikannya tidak dihargai atau orang yang belum merasakan banyak kebaikan dari orang-orang sekitar .”

Tanpa kita sadari, kata kata yang keluar dari mulut kita benar benar bisa membuat kita berubah menjadi orang jahat, karena telah meninggalkan luka yang sangat dalam. Tanpa kita sadari, kadang kita terlalu sibuk mencari cari kesalahan orang dan akhirnya lupa kalau kita sendiri ternyata belum instrospeksi diri.


Coba deh, lihat sesuatu selalu dari dua sisi. Bukan hanya satu sisi. Dengarkan pendapat orang lain, jangan selalu berspekulasi sendiri dan akhirnya menarik kesimpulan sendiri. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, dibicarakan langsung, dibicarakan dengan tenang, dibicarakan dari hati ke hati.

Jumat, 16 September 2016

AKU, JUNIMU


Sejak kecil, aku selalu bertanya tanya.bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama dan tidur di tempat tidur yang sama, namun tak satupun dari mereka merasa bosan sampai sekarang. Aku juga heran, mengapa dua orang yang bertatap muka dengan intensitas melebihi jadwal minum obat, lebih dari tiga kali sehari dalam satu kurun waktu bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku baru tahu, ternyata sebuah kata “aku  pulang yaa” rasanya bisa seberat “selamat tinggal” dan meninggalkan lagi-lagi pertanyaan “apakah ini akan menjadi yang terakhir? Apakah esok aku sudah tak bisa lagi bertemu dengannya?”

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita saling bercengkerama, tertawa bersama, membicarakan hal-hal biasa yang terasa istimewa dan membahas dunia. Padahal, hari itu kita melewati waktu sarapan sampai makan malam bersama. padahal sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita jalan-jalan melewati jalan yang sama. Namun setiap kali waktunya datang “untuk berpisah”, “pamit” selalu terasa semakin berat.

Perpisahan dalam bentuk apaun, meski tak seberat “selamat tinggal” tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di matamu, tempat aku menemukan keteduhan. 

Baru aku sadar, sedetik setelah seseorang pergi, manusia bisa rindu pada seseorang yang baru ia temui lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Karena ketika disampingmu aku seperti menemukan apa yang aku cari. Karena ketika bersamamu aku lengkap.

Aku sangat bersyukur, meski segala yang kulalui bersamamu selama ini hanya sebuah mimpi, sebuah  mimpi yang panjang.

Sebagian orang berkata bahwa tak ada yang sempurna di dunia. Bagiku itu tidak lagi penting. Karena kamu  telah membuat aku merasa cukup.

Ini rencana semesta, sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku sadar semua ini hanya sementara. Dan akan segera tiba saatnya untukku berucap selamat tinggal. Kelak semuanya akan diakhiri dengan peluk erat dan dekap hangat. aku tak ingin kau ingat sebagai sebuah luka dan penyesalan. aku yang ada di memory mu hanya ingin diingat sebagai aku yang pernah mengisi hari-hari dan sudut kecil hatimu.

Kali ini, setidaknya untuk sementara ini. Aku meminta kamu peluk aku dengan doa. Dan kelak membiarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpiku dan kamu mewujudkan mimpimu.

Bagiku, dalam sebuah drama apapun. Happy ending bukan hanya sebatas bisa hidup bahagia bersama sama, tapi happy ending versiku adalah ketika kita memutuskan untuk bahagia, meski dengan menempuh jalan yang berbeda.

Minggu, 17 Juli 2016

KISAH SEDIH DI HARI MINGGU



Pukul 23.23.
Tolong putarkan lagu paling sedih sedunia, terserah. Apa saja.

Anak kecil itu masih terjaga. Pikirannya masih kacau. Hanya terkulai lemas di atas kamar tidur sambil menatap langit langit kamar yang mulai ikut meredup. Di luar hujan, namun yang basah adalah kedua sisi pipinya. Rasanya masih panas, sesekali dia menarik napas panjang, pandangannya beralih dari langit kamar menuju dinding kamar berwarna ungu pudar dengan wallpaper menara Eiffel yang tulisannya telah mengelupas termakan waktu.

Dia memulai pembicaraan.

Tuhan, jika salah satu hewan peliharaanku mati, dima pergi kemana? Ke surga?

Aku senang di rumah. bersama dengan keluargaku. Ayah, ibu, adek, nenek, dan kucing-kucingku. Ada 7 ekor saat terakhir kali kuhitung. inil-inil, cong reng, cong ping, sibang, limbuk, dan dua si kecil Jhoni dan Jeni.

Orang-orang benar. Saat kau mulai jengah dengan duniamu, pulang dan bertemulah dengan mereka semua.

Sudah lebih dari umurku, nenek selalu memelihara dan menjaga kucing di rumah. Baginya seekor kucing bukan hanya sebatas hewan, tapi juga keluarga. Meskipun kami dalamhal bahasa kami tak saling mengerti, tapi kami yakin hati kami saling memahami.
Tak jarang saat aku merasa sendirian di rumah, saat ayah dan ibu bekerja dan semua sibuk dengan dunia mereka. Ada teman di rumah. Salah satu dari mereka. Mungkin mereka tidak serta merta ikut duduk 2 jam bersama sambil melihat televise, tapi mereka selalu berkeliaran di sekitar tempatku menonton tv. Sesekali meng-eong saking tidak kuat menahan lapar.

Banyak cerita tentang mereka semua.

Mulai dari inil-inil. Si janda muda yang hobi banget melahirkan anak, tapi gak jelas siapa bapak dari satu persatu anaknya. Dia memang emak emak, dan emang selalu seperti itu kelakuannya. Tapi dia bukan ibu yang tidak bertanggung jawab seperti kebanyakan berita di tv. Dia seekor emak kucing yang penuh perhatian. Bukti nyatanya adalah dia adalah kucing yang menyusui cong reng, cong ping dan sibang pada saat emak ketiganya mati. Dan sampe sekarangpun, kalo mereka papas an, mereka pasti saling jilat. Mungkin itu sebagai tanda bukti sayang mereka satu sama lain.


Si bang. Dia lelaki paling alay di rumah. Lelaki paling perfectsionis urusan penampilan. Dikit dikit badannya kena debu, jilat. Kena lumpur, jilat, kena tanah, jilat. Tiada hari tanpa menyalon dirinya sendiri. Dia jago kandang banget, gak pernah keluar rumah dari kecil sampe remaja. Kerjaannya di rumah ya itu tadi. Tapi setelah beranjak ABG, baru baru ini dia baru mulai berani keluar rumah. Pernah sekali waktu, sok sokan dia keluar dari rumah dan hamper 2 hari gak pulang. Pulangnya, badannya udah penuh lumpur, compang camping kayak gelandangan, badannya luka-luka dan kaki kiri depannya pincang. Berasa habis pulang wajib militer.


Limbuk. Cewek paling centil di rumah. Idola para lelaki. Cong reng, cong ping dan sibang adalah korban php an Limbuk. Dia makin sok-sokan karena dia yang dianugerahi bulu yang paling halus walaupun warnanya agak mirip musang. Kalo dia manusia paling dia udah jadi play girl kelas kakap. Semua cowok di gebet. Tiap malem keluar buat kencan, pulang pulang pas subuh -__-. Dan sekarang pacarnya gak maen-maen, preman komplek. Kucing item ekor bundul yang paling garang se Karangmojo. Gak ada yang berani, termasuk Cong reng, cong ping, apalagi si bang. Lewatttt :D
Limbuk adalah satu satunya kucing yang bisa naklukin hati bapak sebagai pria (manusia) di rumah. Yaa gitu, dia pake rayuan maut, dikit dikit nempel, jilat-jilat kaki, guling-guling manja di kaki dan segala rayuan mautnya. Kalo pas pulang ke rumah, sekalinya liat orang rumah langsung teriak teriak kenceng. Mungkin kalo diterjemahin hamper-hampir kaya “aku-pulang-ini-loo, aku-laperrrrr, aku-minta-makaaan” dengan nada manja ala kucing.

Congreng. Akronim dari moncong ireng, dia satu saudara sama cong ping. Congreng ini yang paling manly banget. Berbulu perpaduan item dan putih, wajahnya garang karena dominan bulu warna item numplek blek di sana. Tapi, jangan dilihat dari covernya aja. Garang garang gitu, hatinya hello kitty banget. Dia yang paling sabar ngadepin anak kecil versi kucing. Contohnya Jhoni dan Jeni. Baru beberapa kali ketemu mereka berdua, tapi udah dijilatin, udah diajakin maen bareng, makan bareng di dapur. Dan bukan sama sesama jenisnya aja dia baik, cong reng emang seneng banget kalo di ajakin berkebun di belakang rumah. Contohnya tadi kemarin waktu aku pengen petik sayur singkong buat masak di belakang rumah. Jujur, takut banget, bukan karena hantu atau apa. Ini masih siang bolong, tapi takut kalo ada ular di sekitaran pohon pisang. Begitu aku keluar dari pintu belakang rumah menuju lokasi daun singkong berada, dari belakang ada yang ngeong-ngeong. Dan itu Congreng. Dia ngikutin aku sampe ke semak semak, sesekali ngusap-ngusapin kepala ke kaki kemudian duduk dan nunggu aku yang ribet dan heboh sendiri metik daun singkong yang full nyamuk. Begitunya selesei aku beranjak, kupanggil dia buat pulang. Dia langsung berdiri dari tempatnya dan mengikutiku dari belakang.


Congping. Akronim dari moncong pink, hidungnya berwarna agak kemerah-merahan makanya dia dikasih nama congping. Dia berbulu putih bersih, hanya terdapat beberapa titik hitam berbentuk persegi pangang di pinggang kanannya, sehingga kerap Pebri bilang kalo cong ping kaya punya saku. Dia adalah lemari holic. Seluruh lemari di rumah yang luput dari kuncian pernah dari tempat tidur empuk buatnya, terutama lemari kamarku, yang dari kapan tau udah soak gak bisa di kunci. Alhasil,lemariku lah singgasana nyaman dia buat hibernasi. Congping dan inil-inil memang sekilas tampak sama, karena bulu mereka sama sama didominasi warna putih. Bukan aku dan orang orang rumah yang sering salah ngira dia adalah inil-inil, bahkan Jhoni dan Jeni. Dua anak kecil yang masih sering netek emaknya sering salah ngenalin. Pas congping duduk diem di keset, tak jarang mereka berdua datang dengan santai dan gembiranya dan langsung ndusel-ndusel perut congping minta netek. Aku dan ibu yang beberapa kalo jai saksi kekonyolan kelakukan mereka bertiga pecah ngakak, gak bisa berhenti. Si congping yang jadi emak salah sasaran juga Cuma diem aja biarin dua bocah ribet nyari putting susu yang susah ketemu.


Jhoni dan Jeni. Baru berhasil ngelus dan deket sama mereka sepulang dari malang,pertengahan ramadhan kemarin. Awalnya mereka sama inil-inil ditempatin agak tersembunyi dari jangkauan manusia, tapi begitu aku pulang. Aku pindahin mereka berdua ke deket dapur. Biar bisa diliat, biar bisa diusel-usel tiap hari. Pertama kali ketemu mereka yang udah pada gimbul-gimbul, guemes pengen pegangin terus, elus-elus terus. Sueneng akhirnya ada bayi kucing lagi setelah kematian menik yang tiba-tiba kemarin karena sakit juga. Makanya, ibu yang belum bisa move on dari menik ngasih nama mereka berdua juga nama yang sama, yaitu Menik, tanpa memperdulikan bahwa mereka berdua satu cewek dan satu cowok. Dua duanya tetep dipanggil menik sampe capek.


Dan Tuhan, hari ini .. hariku berat.
Tak ada firasat apapun. Tak ada tanda apapun.
Jhoni mendadak sakit. Gak mau makan gak mau minum dan tingkahnya juga menjadi aneh. Dia sering minum ke kamar mandi dan duduk di sana. Kata nenek kucing kalo lagi sakit, pasti hidungnya gak merah, mereka juga mencari tempat tempat dingin kaya kamar mandi, soalnya mungkin mereka merasa tubuh mereka panas. Jeni yang awalnya gak papa, masih bisa jalan jalan dan makan bahkan nemenin Jhoni di pintu kamar mandi seharian hari ini juga mendadak sakit.
Mereka berdua Cuma bisa diem di keset kamar mandi dari pagi. Udah mulai diobatin pake air kelapa, bahkan air zam-zam. Saking nekatnya aku gak tahu kudu gimana, di kulkas ada air zam-zam yang didapet ibu dari tetangga yang bulan kemarin pulang dari umroh.

Sorenya sekitar jam 3 an, Jeni udah lemes,gak bisa gerak. Cuma tidur di keset. Sementara itu cong ping yang kulihat masih di kamar mandi, sekeluarnya dari kamar mandi dia langsung sempoyongan dan terkulai lemas di samping Jeni yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Baru pertama kali dalam hidup, aku liat seekor kucing menangis dan meneteskan air mata. Sumpah, kalopun tadi aku gak lihat itu, mungkin aku gak bakal sesedih ini. Gatau kenapa rasanya sedih banget.
Begitu Jeni udah dibawa nenek dan dibungkus kain dan dikubur, aku gak sempet lagi melihat keadaan congping dan Jhoni.

Aku sempat menyesal, enak-enak pergi jalan-jalan, ketemu temen-temen, hahahihi, sementara di rumah ada dua makhluk yang menderita menahan sakit.
Dan sampai terakhir pukul 22.00, aku yang udah capek udah setengah ngantuk tapi belom sholat isya mutusin buat pergi ke kamar mandi, niatnya mau ambil air wudhu. Tapi begitu sampai di pintu kamar mandi, congping udah terkulai lemas di keset kamar mandi selatan dan Jhoni terkulai lemas di keset kamar mandi utara. Pemandangan apa ini ya Tuhan? Masih belum cukupkah kau ambil Jeni sore ini? Dan sekarang aku harus melihat lagi dua makhluk ini kembali meregang nyawa?

Kuurungkan niat untuk berwudhu, aku terduduk lemas di depan congping sambil sesekali mengusap tubuhnya yang sudah mulai kaku dan dingin. Kuucapkan semua doa doa yang aku bisa, meskipun aku tak tahu itu cukup membantu meringankan bebannya atau tidak. Congreng yang entah sejak kapan datang ikut duduk di sampingku sambil memperhatikan congping. Dalam hati kecilnya mungkin dia ikut berdoa untuk melepaskan kepergian congping, saudara kandungnya.

Begitu napasnya tersengal beberapa kali akhirnya, nyawa terlepas dari raganya. Kuraparkan kedua kakinya sejajar, kututup kedua mata dan mulutnya. Innalilahi, selamat jalan.

Tak lama nenek datang setelah selesei sholat Isya.
Diusapnya kepala dan tubuh congping berkali kali, sambil berbisik parau

“terima kasih sudah jadi bagian dari keluarga kami. Terima kasih untuk semua kesetiaan dan ketulusanmu selama ini. Maaf kalo aku Cuma bisa menjagamu sebatas ini. Aku tahu beberapa hari ini kamu tidak pulang, karena diluar sana kau sudah sakit dan kau menahannya sampai akhirnya pulang. Aku tidak tahu, dimana Tuhan akan menempatkanmu, tapi aku yakin Tuhan punya tempat terbaik untukmu, mungkin surga adalah tempat yang tepat. aminnn"

Dan aku beralih duduk di dekat Jhoni. Badannya juga sudah lemas. Napasnya sudah mulai cepat, ketika kupegang buku-buku jarinya yang mungil, dia masih sempat bisa membalas pegangannku walau hanya dengan gerakan kecil.
tak lama inil-inil datang, ibunya.
dijilati seluruh badan Jhoni berkali kali tanpa henti, sambil sesekali mengeong, entah aku tak tahu apa maksudnya. tapi jelas, itu juga raungan kesedihan seorang ibu untuk anaknya.

aku dan nenek cuma bisa duduk bersebelahan tanpa bisa berkata kata. hati kami mungkin sama saat ini, sangat sakit. congreng yang dari tadi duduk depan jasad cong ping mulai beranjak mendekatiku. begitu sampai di sampingku, diangkat kedua kaki depannya di pundakku beberapa detik kemudian duduk di pangkuanku.
seperti dia ingin menenangkan hatiku.  seekor kucingpun mengerti betapa kesedihan tengah meliputi hati kami semua, kehilangan saudara, kehilangan keluarga.
sampai akhirnya, tubuh Jhonipun bergetar, napasnya yang cepat mulai berangsur pelan dan sengalan terakhir menjadi tandanya pergi.
Innalilahi.

kulakukan hal yang sama seperti congping, kurapatkan kedua kakinya depan dan belakang, kututup kedua mata dan mulutnya. kubungkus tubuh kecilnya yang membatu dengan kain batik bekas jarit nenek yang sudah disiapkan. kupindahkan dia di dekat congping yang sudah terbungkuss kain. inil-inil masih belum beranjak dari tempatnya. dia terduduk diam dan tak mengeong sedikitpun.

Tuhan, hujanmu begitu deras malam ini.
inikah tanda mereka sudah kau angkat ke langit?

aku tak tahu kenapa, sebegini sakitnya memiliki kehilangan.
pertemuan kami sebagai keluarga memang singkat, tapi sudah begitu banyak kenangan yang kami buat bersama.


untuk cong ping, Jhoni dan Jeni
terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga kecil kami.
terima kasih karena telah membuat hari hari kami tidak sepi.
terima kasih atas tawa dan segala tingkah polah yang membuat kami semua bahagia.
Tuhan memiliki tempat yang lebih baik untuk kalian di surga
tempat dimana kalian bisa tidur bebas, tak perlu sebatas lemari. tempat dimana kalian bisa tidur bebas, tak sebatas kardus bekas,
tempat kalian bisa bermain dan berlarian bebas.
kami ikhlas, melepas ..

kuangkat inil-inil ke pelukanku, dan congreng mengekor di belakang. kuberjalan di belakang nenek yang siap mematikan lampu ruangan belakang.
begitu lampu dipadamkan, aku masih sempat melihat jasad mereka berdua dengan sambil berkata


" selamat tidur .. panjang"



nb:
memang mereka bertiga tak akan pernah baca isi blogku kali ini. tapi setidaknya, kalian yang baca ini tahu. betapa hewan peliharaan yang kita sayangi bisa menjadi bagian dari keluarga kita sendiri. keluarga itu bukan sebatas dalam tubuh kita mengalir darah yang sama, tapi lebih dari itu. keluarga adalah orang orang yang selalu bersama kita melewati suka duka.

dan kalau kamu pikir aku agak gila, mungkin benar. dan anggap saja seperti itu. 

Selasa, 08 September 2015

MANUSIA PASCA SARJANA

MANUSIA PASCA SARJANA

Long time no see..
Sejak postingan terakhir. Bulan Februari 2015
Dan sekarang sudah bulan September. Dan selama itu sudah banyak banget kejadian yang sebenernya pengen diceritain disini, tapi lupa, tapi gak sempet dan akhirnya sekarang kesampaian.
Seneng. Banget

Kesampaian cerita, walaupun gak berharap juga dibaca banyak orang.
Semenjak seminar proposal, hidup gue terus berjalan sampai dengan penelitian skripsi dan menulis laporan akhir. Perjalanan hidup gue sebagai pejuang skripsi menuju ujian skripsi sama beratnya seperti perjuangan gue memperjuangkan seminar proposal skripsi.



Kudu bolak balik ngolah data, jejerin tabel pemaparan data, analisis data dan menarik kesimpulan sampai dengan pengujian kesabaran oleh dosbing yang super gemesin seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya, angkat media sana sini, perjuangan bolak balik anter media ke kosan-sekolah-balik ke kampus sampai akhirnya berakhir dengan nilai A dan lulus menjadi sarjana dengan IPK 3,70.
Gue beneran nangis abis sidang skripsi itu. Tanpa sadar setiap detik perjuangan gue, kalang kabut, capek gue seperti diputar kaya video dokumenter tanpa sutradara yang otomatis berjalan ala timelapse di pikiran gue sukses bikin gue mewek.


Gue gak nyangka, kalo gue bisa lulus bareng temen temen SWASH gue. Gue hampir depresi dan ogah garap skripsi lagi sakit buntunya otak gue gegara dosbing gue yang satu itu. Tapi makin kesini gue makin sadar kalo gue beneran diuji dan skripsi gue beneran punya banyak andil besar dalam perubahan pikir gue selama ini.


Gue juga belom sempet ceria kalo selepas ujian skripsi, gue ditawarin ngajar di SDN Purwantoro 8, tempat gue PPL yang pernah gue posting juga di blog.
Gue yang semula ogah jadi guru, makin kesini gue makin ngerasa kalo ini emang tempat gue. Disinilah tempat gue seharusnya berada.
 
saya selalu yag antimainstrem :D
Jika kamu senang melihat mata anak-anak berbinar saat mereka memahami sesuatu, maka kamu cocok untuk berada di dalam kelas – AYAH

Hidup gue rasanya berjalan begitu cepat setelah ujian dan yudisium, sampai akhirnya gue mikir kembali hal apa yang mesti gue lakuin ke depannya, sementara ayah dan ibu gue pengen gue pulang saat gue udah lulus. Beliau berdua pengen gue jadi guru atau paling gak bekerja di Ponorogo. Sementara dalam hati kecil gue, gue belom siap untuk kembali. Gue gak pengen mengulangi sejarah. Gue gak pengen kembali ke ponorogo dan bekerja di Ponorogo hanya karena dasar nama belakang ayah, bukan karena kemampuan gue sendiri. Dan gue negesin ke diri gue sendiri kalo gue gak mau kayak gitu,

Sebuah ide muncul. Sebuah petunjuk akhirnya nuntun gue ke sebuah jalan.

Daftar S2.

Jalan yang selama ini tak pernah terbesit sedikitpun di dalam benak gue. Otak gue yang selama ini penuh dengan pengharapan kalo setelah kuliah gue baalan ikut SM3T akhirnya kandas karena berbagai faktor eksternal dan internal.
Ayah dan ibu adalah faktor utama pendorong buat gue daftar dan bersedia ikut tes di S2 itu. Gue bukannya gak mau, gue juga lillahi ta’ala kok daftarnya. Tapi gue gak 100% yakin kalo gue bakalan keterima. Dari awal prinsip gue simple. Kalo gue diterima, berarti itu emang jalan gue dengan segala konsekuensi dan keterbatasan gue, sementara kalo gue ga diterima itu artinya itu bukan jalan gue, dan gue yakin Tuhan bakalan nyiapin jalan lain yang lebih baik.

Wallahu alam.
Mukjizzat sekali lagi seperti terjadi pada diri gue dan keluarga gue. Tepat 2 hari sebelum hari raya Idul Fitri, gue mendapat kabar gembira untuk keluarga gue dan untuk diri gue sendiri tentunya. Gue diterima S2, di UM lagi.

Masuk S2 bagai mambuka skemata gue. Mengajarkan kalo selama S1 ini belom banyak ilmu yang gue dapet walaupun gue udah belajar selama empat tahun dengan segala jerih payahnya.


S2 bukanlah S1 yang ditempuh kedua – Prof. Imam Agus
Realize how blessed you are!
Kalimat itu yang selama ini menjadi pelecut semangat gue kalo gue males malesan belajar di program sekolah baru gue. Berapa puluh orang aja yang kecewa dan gak bisa diterima di S2 ini harus berjuang kembali demi cita-cita yang mereka impikan, sementara gue yang udah keterima masih mau enak-enakan dan santai santai. NO way, sekarang bukan waktunya untuk itu.
Gue tahu, dan gue sadar semakin tinggi jenjang pendidikan kita semakin tinggi juga ilmu yang harus kita gapai. Dan semakin tinggi pendidikan kita, kita harus membuktikan bahwa orang yang berpendidika harus bertinda sesua dengan tingkat pendidikannya.


Sudah hampir sebulan gue masuk pasca sarjana. Banyak hal baru yang gue temuin. Banyak pengalaman baru yang gue rasan sekarang ini. Mulai dari berteman dengan manusia manusia baru dari seluruh Indonesia dengan ragaman budaya dan bahasa yang berbeda, dengan pandangan hdup yang berbeda dan dengan cerita hidup yang berbeda yang kemudian bersatu menjadi sebuah keluarga baru di OFF A DIKDAS UM 2015. Gue, merinta, fifin, kiki, titis,mbak Indah, adib, mbak Agustin dan Bagus dari UM, Mas Candra, Mbak Feni, Nindi dari Universitas Jember, mbak Listi, Mbak Nia dan Feri dari UMM Malang, Mas Maxcel dan Mas Adam dari Kupang, mbak Desi dari Kalimantan dan Mbak Reni dari Makasar. Kalo dulu S1 temen temen gue Cuma berkutat dari Jatim, sekarang kami bisa saling berbagi pengalaman lebih luas dengan orang-orang yang memiliki karakter dan keunikan mereka.
Gue juga heran kalo semeter ni gue bertemu dengan etnis yang sangat beragaman selain dari temen temen sekelas. Gue sekarang juga ngajari private les seorang anak bernama Stefani kelas 5 di sebuah SD di Kota Malang. Stefani adalah seorang anak keturunan Tionghoa dengan agama Budha. Nama China nya kalo di rumah adalah Feling. Lucu ya, dia juga cantik dan pinter.



Dan kemarin, satu moment penting lagi terjadi.
WISUDA.
Akhirnya adek jadi sarjana bang! *lap ingus*
Minggu, 6 Septermber 2015.
Akhirnya seorang Putri Yunisda mawarni memakai toga, naik podium dan bersalaman dengan rektor untuk pertama kalinya dalam  4 tahun ribet kuliah. Oh men! Its so awesome moment, walaupun ribet in itu kesana sini. Tapi alhamdulillah lancar acaranya.
Walaupun belum bisa didampingi oleh PW (pendamping wisuda) dan masih didampingi orang tua, tapi itulah rasa syukur yang paling besar bagi gue, di hari penobatan wisuda gue, kedua orang tua gue masih bisa melihat gue secara langsung, berada di dalam gedung yang sama dengan gue, melihat gue naik podium, di geser tali toganya oleh rektor dan dengan senyum bahagia berfoto bersama seperti yang lain.

walaupun gue merem, gue bisa liat jelas kebahagian gue hari itu

THANK GOD!
Akhirnya, seorang putri yunisda berhasil memberikan sedikit kebahagiaan untuk kedua orang tuanya, walaupun sebenarnya perjalanan gue masih panjang dan cita-cita gue masih belom bisa gue raih sepenuhnya untuk membahagiakan mereka.


Terima kasih banyak untuk kedua orang tua, ayah, ibu, adek, nenek, mas Rifin, mas Kiki, Mas Bagas, Rofiq, Setyo, temen temen SMA mulai dari Ferdhin, Simuz, Giri, Redha,sampai dengan mbak Anes yang jauh jauh rela ngirim buket bunga dan coklat, buat semua ucapan yang diberikan teman teman dan rekan rekan, dan untuk teman teman seperjuangan pasca sarjana DIKDAS OFF A 2015 untuk surprise bagi kami yang sedang wisuda.
Penghargaan yang luar biasa. Kebahagiaan yang amat sangat tidak bisa dinilai harganya. Dan sangat bersyukur bahwa gue masih bisa memberikan dan berbagi kebahagiaan di tengah tengah mereka semua.

Dan mulai sekarang, lembaran hidup baru dimulai.
Hidup yang lebih nyata, hidup yang akan menuntun seorang putri yunisda berusaha lebih keras meraih cita-cita.


Kamis, 19 Februari 2015

SEBUAH HASIL, TAK AKAN HIANATI PROSESNYA


Hello.
Sebenernya udah lama banget pengen nulis cerita ini. Udah dari kemaren kemaren malah. Tapi gue, nahan diri. Sampai waktunya tepat. Dan malam ini adalah waktu yang paling pas.

Bingung.
Mau mulai ceritanya dari mana. Soalnya banyak banget yang pengen gue ceritain.

Umm..
Oke, gue udah nemu titik awalnya.
SEMINAR SKRIPSI.


Di jurusan gue lagi ngehits banget Seminar Proposal Skripsi mulai dari akhir bulan Januari kemaren. Seminar proposal itu, adalah titik tengah dimana perjalanan skripsi kami berjalan. Dari awal Januari yang udah mulai serius mantengin laptop tiap hari, nenteng kemasa kemari, ke perpustakaan sampek hafal tempat yang cozy buat nyekripsi dan nyari inspirasi.

KEJAR TARGET.
Sebelum tanggal 19 Februari 2015, gue sama keenam temen gue harusudah selesei semua seminar skripsinya.

Gue emang selalu ngomong dan mikir kalau skripsi itu perjuangan. Dan selama Februari ini gue bener bener udah jadi pejuang sejati.
Dari akhir Januari lalu, dosen pembimbing pertama gue udah ngasih lampu hijau buat gue dan Rima untuk seminar. Kami yang notabene belum berani minta seminar malah ditodong untuk segera cepet cepet seminar. Seneng? Pasti. Tapi senengnya gue harus gue bayar mahal.



Setelah dosen pertama ACC seminar gue dengan bekal 2 tanda tangan di kertas seminar, gue harus nyari 2 tanda tangan lagi. Tanda tangan dosen kedua dan dosen satgas, yang nanti bakalan nguji di seminar.

Selama hampir 2 minggu gue gencr, nelponon, nemuin dan ngeja-ngejar dosbin kedua gue. Minggu pertama hari jumat gue inget banget, kalau gue suruh revisi ini itu. Oke fix. Gue nurut, gue lakuin apa yang disarankan. Sekembalinya gue konsul ke dua, gue dites tentang skripsi gue. Gue serasa seminar 4 mata sama beliau. Oke, gue jabanin. Konsul ke tiga. Beliau minta gue untuk menunjukkan cara kerja media gue, yang notabene media gue itu barang fisik berupa kotak papan kayu gede isinya gambar. Oke, gue turutin. Mulai dari jam 8 pagi sampe jam 12 siang gue minta bantuan Diyud (temen gue yang kece) buat vidioin gueyang udah kaya mbak mbak sales jualan sales seharian belom laku, getol mempengaruhi konsumen. Jam setengah satu siangnya gue konsul lagi bawa videonya. Belum cukup sampai disitu, gue masih harus berjuang lagi. Apa? Perbaiki draft lagi.

Terhitung dua minggu gue ngejar, terhitung pula 6 kali gue konsul. Setiap hari gue serasa kaya orang linglung, bingung mau gimana, udah mau nyerah aja, udah mau pulang aja ngurusin kambing apa ayam dirumah. Sampai temen temen gue, tahu banget kalo gue depresi berat. Mereka selalu ngajakin gue jalan nongkrong kesana kemari dan intinya gue gak boleh sendirian. Padahal kau balik lagi ke kosan gue udah balik lagi jadi zombie.

Sampai pada titik itu. Gue udah nangis tiap hari. Nangis sendirian. Sampai kamar gue di kosan jadi saksi kegalauan gue, kekalutan gue, kestresan gue, dan ke-depresian gue.

Yang bikin gue makin kaya orang gak waras adalah satu persatu temen temen gue udah mau seminar semua. Dan gue KAPAAAAAAANNNN?

Inilah titik terberat gue selama 22 tahun jadi anak. Gue ngerasa, gue bukan anak yang baik buat orang tua gue. Gue Cuma bisanya minta uang mulu, ngeluh mulu sementara itu gue gak pernah bikin mereka bangga. Saking gak berhasilnya buat ACC seminar, gue gak berani baca Wasap dari emak, angkat telepon dari Bapak. Karena apa? Gue pasti bakalan nangis kejer kalo mereka nanya.. GIMANAA? SUDAH ACC SEMINARNYA?

Tapi, untungnya.
Tuhan sayang banget sama gue. Tuhan yang ngasih pengertian ke orang tua gue. Setiap kali wasap atau sms, bapak ibuk selalu bilang
“SEMANGAT YA, JANGAN NYERAH.. JANGAN PATAH SEMANGAT. KAMU PASTI BISA KOK!”

Anak macam apa yang gak terharu diberikan dukungan moril sedemiian dahsyatnya? Hah? ANAK MACAM APA?

Ditambah lagi, yang pernah gue upload di instagram, dukung moril dan semangat dari temen temen yang gue sayangin. Temen temen yang selalu kasih gue kepercayaan kalo gue bisa, kalo gue gak boleh nyerah, dan sampai sampai mereka bersedia ikut gue bimbingan bareng pas gue nemuin dosbing kedua.

APA ADA ALASAH LAGI BUAT GUE UNTUK MENYERAH?
Sementara doa, dukungan dan semangat mereka buat gue begitu besar?

Kamis malam, tanggal 12 Februari kemaren. Doa gue ke Tuhan memang beda dari yang sebelum sebelumnya. Sebelumnya gue sadar kalau gue terlalu memaksakan kehendak, gue selalu pengen ngejar apa yang gue pengen tanpa tau apa yang terbaik untuk gue.

Malam itu gue berdoa, kalau memang Jumat 13 Februati 2015 Tuhan sudah mengijinkan gue seminar, gue seminar. Tapi kalau Tuhan masih memintaku untuk berjuang kembali, gue bakalan berjuang yang labih keras lagi.


Dari situ, gue ngerasa kalo perlahan gue jadi orang yang beda sekarang. Tahan banting! karena kondisi ini gue dipaksa menjadi orang yang berada jauh diluar batas zona nyaman. gue dipaksa bangun kembali setelah beberapa kali terjatuh.
Gue udah terbiasa menunggu, udah terbiasa ditolak, udah terbiasa dipermaluin di depan mahasiswa lain di tepat umum, udah terbiasa dihujat, di bingungkan ini itu. Dan sekarang semangat gue makin parah, besar banget. Karena gak ada lagi alasan gue buat nyerah. Gue bakalan kejar terus sampai dapet ACC nya. Gue bakalan buktikan kalau gue bisa, gue mampu dan gue gak akan nyerah.

Sampai akhirnya Jumat pagi itupun datang. Gue janjian konsul jam 7 pagi. Lo tahu gue dateng jam berapa? Setengah tujuh. Seumur umur gue jadi mahasiswa gak pernah gue dateng sepagi itu, petugas kebersihannya aja masih sibuk nyapu sementara gue di pos satpam Cuma nunggu, diem sendirian sambil sesekali nguap karena ngantuk parah.

Beliau dateng langsung gue cegat. Gue salamin, gue kasih revisian yang kemarin diminta dan catatan revisian kemarin. Dalam hati, gak munafik gue takut, gue takut ditolak lagi untuk kesekian kalinya. Tapi doa gue balik lagi, kalo waktu gue seminar emang udah tiba gue bakalan dapet tanda tangan hari ini tapi kalo belum. Gue harus berjuang lagi.

Hari itu gue gak banyak bicara, fokus gue Cuma berdoa. Berdoa untuk menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Sampai pada akhirnya beliau “kalau begitu mana kertas ACC nya?”

Gue sempet cengo beberapa saat. Gue menatap beliau dengan tatapan “ini gak mimpi kan?”
Perlahan gue yang masih setengah gak percaya, ngeluarin lembar ACC seminar menyerahkan pada beliau dengan anggun, mengamati tiap goresan tanda  tangan dengan bolpion warna oranye dan memandang bolpoin oranye itu dengan pandangan "kamu jadi saksi keberhasilanku menembus seminar proposal!”

Setelah tanda tangan, beliau nyalamin gue sambil berkata “semoga berhasil ya mbak, sampai ketemu di seminar”

Berpisah dengan beliau gue menuju parkiran yang sepi. Kalian tahu apa yang gue lakuin? Jingkrak jingkrak, goyang dombret, goyang dumang segala macemnya saking gue gak percaya kalo gue berhsil dapet tanda tangan beliau hari ini.

Perjuangan gue selama 2 minggu seolah olah mendadak flashback di pikiran gue, mulai dari gue nunggu 2 jam, gue ngeprint materi buat simulasi video ala sales, stres di kamar kosan dengan ngomong sama tembok akhirnya terbayar hari itu.
Dan orang pertama yang gue sms adalah dosen pembimbing pertama gue yang lagi ada di Blitar. Beliau biasanya gak pernah bales sms gue kurang dari sejam, tapi hari itu kurang dari 3 menit sms gue udah dibales. Beliau segera menyarankan gue buat daftar seminar dan menyiapkan semua untuk keperluan seminar.

Setelah itu gue ke kosnya Ratna, laper. Minta makan. Di sana gue nelpon bapak dan ibu kalu gue udah berhasil ACC seminar. Kalian tau apa yang terjadi, di moment momentmengharuskan seperti itu, Ratnalah yang nangis bukan gue. Saking senengnya gue sampek gak bisa nangis, seneeeeeeeng banget.

Gue udah buktiin kalo gue bisa. Semakin beliau meminta ini itu, gue bakalan penui dengan segera dan kejar lagi. Gue gak pengen nunggu lama, gue selalu inisiatip konsul. Karena gue kejar target juga.

Sementara temen temen yang dosbingnya sama dengan dosbing kedua gue, terus gue semangatin gue motivasiin dan gue dukung mereka supaya mereka bisa segera seminar juga. Perjalanan kalian untuk meluluhkan hati dosbing ini tidak mudah kawan. Perlu tenaga ekstra dan penuh perjuangan.



Dan hari ini tiba. Tepat di hari seminar gue.
Banyak ucapan selamat, ucapan semangat, doa dan dukungan dari orang tua, keluarga dansahabat sahabat tersayang yang bikin seminar ini bisa berjalan dengan lancar.
Secara keseluruhan berjalan lancar walaupun waktunya mundur satu setengah jam karena dosen satgas masih ada keperluan lain di kampus.

Dan malem ini, gue ngumpul sama SWASH lagi. Becanda becanda lagi, makan bareng lagi, ngemil bareng lagi, bully bullyan lagi. Dan tradisi barutercipta. Kalau kita lagi quality time, sluruh gadget harus dikumpulkan di tengah meja dan kita fokus ngobrol, bukan malah sibuk dengan gadget sendiri.

Sampai akhrinya gue sadar banget, bahwa peran mereka semua penting banget buat gue selama ini. Mereka adalah orang orang terdekat yang bakalan siaga dan stand by ngebantuin gue selama kuliah.

Mulai dari KRS an, mereka semua udah pada hafal NIM dan pasword siakad masing-masing, mereka juga yang KRS in gue semester ini sementara gue gak ada sinyal dan paketan di rumah, mereka yang rela gue repotin soal ini itu, mereka yang bersedia jadi sandaran gue disaat dua minggu ini gue stres, mereka yang selalu punya inisiatif untuk bikin surprise, mereka yang selalu mau dengerin curhatan, mereka yang selalu mengisi canda tawa gue yang sekarang ini serasa sebatang kara di kosan, mereka yang selalu nyambangin gue ke kosan bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mereka yang ngerawat gue pas gue sakit, mereka yang rela malem malem bawain gue bubur saat gue sakit, mereka yang rela nemenin gue konsultasi dua minggu ini, mereka yang rela gue ribetin di seminar gue hari ini.

Dan hari ini, kami bertujuh telah mencapai target pertama SKRIPSI kami.
Rima, Ratna, Nova, Merinta, Febby, Ary dan Putri
Akhirnya menyeleseikan seminar skripsi sesuai dengan target kami.

Ngumpul malem ini, nyadarin gue sesuatu kalau kebersamaan kami yang erat ini tinggal 7 bulan lagi terhitung setelah kami wisuda.  Siapa yang nyangka 4 tahun berlalu dengan cepat, setelah ini kami akan berjuang sidang skripsi dan selfie pake toga bareng. Amin


Gue nemuin, kata kata bagus andalan dari mereka berenam

Gue gak perlu  khawatir apa-apa, gue gak perlu dukungan orang lain, gue cuma perlu dukungan SWASH – Ratna

Selama ini gue sibuk nyari temen yang bisa gue ajakin gila, dan kalian (SWASH) lebih dari sekedar gila – Rima

Gue selalu berdoa agar temen temen (SWASH) gue sukses semua.dan gue juga berdoa kalo gue bisa sukses sama seperti kalian – Febby

Gue selalu jadi bahan bullyan ampuh buat kalian. Tapi, yang membuat persahabatan kita gak boring adalah pembullyan itu – Merinta

Gue sadar kalo gue bisa ngelakuin hal hal antimainstream yang gak pernah gue pikirkan saat gue sama kalian (SWASH) – Ary

Persahabatan itu penekanan, penekanan dari semua keegoisan. Persahabatan itu bukan tentang siapa dan apa, tapi tentang bagaimana kita? – Nova

Kita ini alay. Sampai-sampai kealay-an kita membuat orang lain sirik- Putri.


 

Beautiful Days Template by Ipietoon Cute Blog Design