Tampilkan postingan dengan label Unforgetable. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unforgetable. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Agustus 2017

My Student Life in Malang

Almost six years have passed, and I'm now reaching the end of my final term in Malang.

Seperti sebuah keajaiban. Di sini aku mendapatkan kesempatan untuk memenuhi impian seorang gadis muda yang dulunya dunianya hanya di rumah.

Melalui kesempatan ini, aku telah menemukan rumah baru, yang 180 km jauhnya dari Ponorogo, rumahku sendiri.

Aku telah tumbuh, mampu beradaptasi dengan gaya hidup baru, misalnya mengandalkan diri sendiri, naek motor sendiri untuk berkeliling.

Hidup disini telah mengajarkan aku banyak hal. Bahkan diluar bayanganku dahulu.


Rabu, 05 Juli 2017

AMAZING JUNI

Baru inget kalo punya blog. Hehe
Akhir akhir ini jengah sama tulisan, sama kata-kata. Sama halaman berlembar lembar.
Dan baru sekarang akhirnya ngumpulin mood buat ngetik lagi.
Juni sudah berlalu, tapi bayang bayangnya sampai sekarang masih terasa. Kuat banget.
Juni selalu punya cerita sendiri dari bulan bulan lainnya.
Sampai akhirnya kemaren, pas duduk sendirian di atas sajadah setelah sholat magrib baru kepikiran.

Thank God, I am alive.
Suka lupa kalo udah dikasih nikmat yang begitu maha dahsyatnya sampai detik ini.
Suka lupa bersyukur kalo udah diberikan kesempatan bernapas sampai usia ini.
Suka lupa kalo Allah selalu punya rencana besar dibalik bulan Juni yang amazing ini.


Senin, 15 Mei 2017

TAKKAN MENYESAL TELAH JATUH HATI


Senin malem. Sendiri. Di kosan. Habis beli es krim
Dan bingung mau ngapain.
Tidur belum ngantuk, ngerjain revisi gak ada mood, nonton tv males.
Bener bener gak ada gairah hidup sama sekali.

Sampe akhirnya kegiatan paling menyenangkan di dalam kamar ukuran 3 x 3 meter ini adalah ngikutin gerak gerak ikan neon kesana kemari. Mencermati dengan seksama geng neon baru yang kemaren sepertinya baru terbentuk ketuanya, seharian kemaren gak berhenti-hentinya muterin fish bowl ampe yang liat aja puyeng -___- semacam chelsea menang tapi konvoynya pindah ke akuarium.

Semakin diliat liat, akuarium yang sekarang isinya banyak rerumputan dan semak belukarnya ngingetin ke pengalaman unforgetable snorkling di Lombok.

Dan sekarang jadi kepingin cerita itu, walaupun udah lama, dan yaa .. basi.
Etapi, gak ada kata basi buat moment super precius yang baru aku alami seumur hidup.

Oke, lets me start my story.
*sambil dengerin lagunya Monita- Memulai Kembali biar kerasa feel feel deburan ombaknya*


Senin, 03 April 2017

How Far I Will Go


Ini tentang cerita perjalanan 180 km from home.



Berjarak 180 km dari rumah itu bukan tempat yang dekat. Jauh, bahkan sangat jauh dari jangkauan. Jarak Ponorogo ke Malang saat aku berusia 16 tahun bagai Ponorogo ke Jekardah. Jauhbanget. Ngelipp kalo kata orang desa mah.

Untouchable. Kalo bahasa agak maduranya lah.

Bener-bener susah dibayangin.
Sejauh yang ku tahu, yang pertama terlintas di otak ketika mendengar Malang itu Cuma dua. Jatim Park dan Apel. Selebihnya, aku gak tahu.

Minggu, 11 Desember 2016

STANDING SOLO

 Istilahnya keren, tapi maknanya tetap sama. Berdiri sendirian. Sendirian.
Sendirian dan kesepian.
Aku memang tidak banyak pengalaman soal sendirian, tapi setidaknya aku tahu benar bagaimana rasanya sendirian. Dan itu tidak enak.


Jumat, 16 September 2016

AKU, JUNIMU


Sejak kecil, aku selalu bertanya tanya.bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama dan tidur di tempat tidur yang sama, namun tak satupun dari mereka merasa bosan sampai sekarang. Aku juga heran, mengapa dua orang yang bertatap muka dengan intensitas melebihi jadwal minum obat, lebih dari tiga kali sehari dalam satu kurun waktu bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku baru tahu, ternyata sebuah kata “aku  pulang yaa” rasanya bisa seberat “selamat tinggal” dan meninggalkan lagi-lagi pertanyaan “apakah ini akan menjadi yang terakhir? Apakah esok aku sudah tak bisa lagi bertemu dengannya?”

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita saling bercengkerama, tertawa bersama, membicarakan hal-hal biasa yang terasa istimewa dan membahas dunia. Padahal, hari itu kita melewati waktu sarapan sampai makan malam bersama. padahal sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita jalan-jalan melewati jalan yang sama. Namun setiap kali waktunya datang “untuk berpisah”, “pamit” selalu terasa semakin berat.

Perpisahan dalam bentuk apaun, meski tak seberat “selamat tinggal” tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di matamu, tempat aku menemukan keteduhan. 

Baru aku sadar, sedetik setelah seseorang pergi, manusia bisa rindu pada seseorang yang baru ia temui lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Karena ketika disampingmu aku seperti menemukan apa yang aku cari. Karena ketika bersamamu aku lengkap.

Aku sangat bersyukur, meski segala yang kulalui bersamamu selama ini hanya sebuah mimpi, sebuah  mimpi yang panjang.

Sebagian orang berkata bahwa tak ada yang sempurna di dunia. Bagiku itu tidak lagi penting. Karena kamu  telah membuat aku merasa cukup.

Ini rencana semesta, sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku sadar semua ini hanya sementara. Dan akan segera tiba saatnya untukku berucap selamat tinggal. Kelak semuanya akan diakhiri dengan peluk erat dan dekap hangat. aku tak ingin kau ingat sebagai sebuah luka dan penyesalan. aku yang ada di memory mu hanya ingin diingat sebagai aku yang pernah mengisi hari-hari dan sudut kecil hatimu.

Kali ini, setidaknya untuk sementara ini. Aku meminta kamu peluk aku dengan doa. Dan kelak membiarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpiku dan kamu mewujudkan mimpimu.

Bagiku, dalam sebuah drama apapun. Happy ending bukan hanya sebatas bisa hidup bahagia bersama sama, tapi happy ending versiku adalah ketika kita memutuskan untuk bahagia, meski dengan menempuh jalan yang berbeda.

Minggu, 17 Juli 2016

KISAH SEDIH DI HARI MINGGU



Pukul 23.23.
Tolong putarkan lagu paling sedih sedunia, terserah. Apa saja.

Anak kecil itu masih terjaga. Pikirannya masih kacau. Hanya terkulai lemas di atas kamar tidur sambil menatap langit langit kamar yang mulai ikut meredup. Di luar hujan, namun yang basah adalah kedua sisi pipinya. Rasanya masih panas, sesekali dia menarik napas panjang, pandangannya beralih dari langit kamar menuju dinding kamar berwarna ungu pudar dengan wallpaper menara Eiffel yang tulisannya telah mengelupas termakan waktu.

Dia memulai pembicaraan.

Tuhan, jika salah satu hewan peliharaanku mati, dima pergi kemana? Ke surga?

Aku senang di rumah. bersama dengan keluargaku. Ayah, ibu, adek, nenek, dan kucing-kucingku. Ada 7 ekor saat terakhir kali kuhitung. inil-inil, cong reng, cong ping, sibang, limbuk, dan dua si kecil Jhoni dan Jeni.

Orang-orang benar. Saat kau mulai jengah dengan duniamu, pulang dan bertemulah dengan mereka semua.

Sudah lebih dari umurku, nenek selalu memelihara dan menjaga kucing di rumah. Baginya seekor kucing bukan hanya sebatas hewan, tapi juga keluarga. Meskipun kami dalamhal bahasa kami tak saling mengerti, tapi kami yakin hati kami saling memahami.
Tak jarang saat aku merasa sendirian di rumah, saat ayah dan ibu bekerja dan semua sibuk dengan dunia mereka. Ada teman di rumah. Salah satu dari mereka. Mungkin mereka tidak serta merta ikut duduk 2 jam bersama sambil melihat televise, tapi mereka selalu berkeliaran di sekitar tempatku menonton tv. Sesekali meng-eong saking tidak kuat menahan lapar.

Banyak cerita tentang mereka semua.

Mulai dari inil-inil. Si janda muda yang hobi banget melahirkan anak, tapi gak jelas siapa bapak dari satu persatu anaknya. Dia memang emak emak, dan emang selalu seperti itu kelakuannya. Tapi dia bukan ibu yang tidak bertanggung jawab seperti kebanyakan berita di tv. Dia seekor emak kucing yang penuh perhatian. Bukti nyatanya adalah dia adalah kucing yang menyusui cong reng, cong ping dan sibang pada saat emak ketiganya mati. Dan sampe sekarangpun, kalo mereka papas an, mereka pasti saling jilat. Mungkin itu sebagai tanda bukti sayang mereka satu sama lain.


Si bang. Dia lelaki paling alay di rumah. Lelaki paling perfectsionis urusan penampilan. Dikit dikit badannya kena debu, jilat. Kena lumpur, jilat, kena tanah, jilat. Tiada hari tanpa menyalon dirinya sendiri. Dia jago kandang banget, gak pernah keluar rumah dari kecil sampe remaja. Kerjaannya di rumah ya itu tadi. Tapi setelah beranjak ABG, baru baru ini dia baru mulai berani keluar rumah. Pernah sekali waktu, sok sokan dia keluar dari rumah dan hamper 2 hari gak pulang. Pulangnya, badannya udah penuh lumpur, compang camping kayak gelandangan, badannya luka-luka dan kaki kiri depannya pincang. Berasa habis pulang wajib militer.


Limbuk. Cewek paling centil di rumah. Idola para lelaki. Cong reng, cong ping dan sibang adalah korban php an Limbuk. Dia makin sok-sokan karena dia yang dianugerahi bulu yang paling halus walaupun warnanya agak mirip musang. Kalo dia manusia paling dia udah jadi play girl kelas kakap. Semua cowok di gebet. Tiap malem keluar buat kencan, pulang pulang pas subuh -__-. Dan sekarang pacarnya gak maen-maen, preman komplek. Kucing item ekor bundul yang paling garang se Karangmojo. Gak ada yang berani, termasuk Cong reng, cong ping, apalagi si bang. Lewatttt :D
Limbuk adalah satu satunya kucing yang bisa naklukin hati bapak sebagai pria (manusia) di rumah. Yaa gitu, dia pake rayuan maut, dikit dikit nempel, jilat-jilat kaki, guling-guling manja di kaki dan segala rayuan mautnya. Kalo pas pulang ke rumah, sekalinya liat orang rumah langsung teriak teriak kenceng. Mungkin kalo diterjemahin hamper-hampir kaya “aku-pulang-ini-loo, aku-laperrrrr, aku-minta-makaaan” dengan nada manja ala kucing.

Congreng. Akronim dari moncong ireng, dia satu saudara sama cong ping. Congreng ini yang paling manly banget. Berbulu perpaduan item dan putih, wajahnya garang karena dominan bulu warna item numplek blek di sana. Tapi, jangan dilihat dari covernya aja. Garang garang gitu, hatinya hello kitty banget. Dia yang paling sabar ngadepin anak kecil versi kucing. Contohnya Jhoni dan Jeni. Baru beberapa kali ketemu mereka berdua, tapi udah dijilatin, udah diajakin maen bareng, makan bareng di dapur. Dan bukan sama sesama jenisnya aja dia baik, cong reng emang seneng banget kalo di ajakin berkebun di belakang rumah. Contohnya tadi kemarin waktu aku pengen petik sayur singkong buat masak di belakang rumah. Jujur, takut banget, bukan karena hantu atau apa. Ini masih siang bolong, tapi takut kalo ada ular di sekitaran pohon pisang. Begitu aku keluar dari pintu belakang rumah menuju lokasi daun singkong berada, dari belakang ada yang ngeong-ngeong. Dan itu Congreng. Dia ngikutin aku sampe ke semak semak, sesekali ngusap-ngusapin kepala ke kaki kemudian duduk dan nunggu aku yang ribet dan heboh sendiri metik daun singkong yang full nyamuk. Begitunya selesei aku beranjak, kupanggil dia buat pulang. Dia langsung berdiri dari tempatnya dan mengikutiku dari belakang.


Congping. Akronim dari moncong pink, hidungnya berwarna agak kemerah-merahan makanya dia dikasih nama congping. Dia berbulu putih bersih, hanya terdapat beberapa titik hitam berbentuk persegi pangang di pinggang kanannya, sehingga kerap Pebri bilang kalo cong ping kaya punya saku. Dia adalah lemari holic. Seluruh lemari di rumah yang luput dari kuncian pernah dari tempat tidur empuk buatnya, terutama lemari kamarku, yang dari kapan tau udah soak gak bisa di kunci. Alhasil,lemariku lah singgasana nyaman dia buat hibernasi. Congping dan inil-inil memang sekilas tampak sama, karena bulu mereka sama sama didominasi warna putih. Bukan aku dan orang orang rumah yang sering salah ngira dia adalah inil-inil, bahkan Jhoni dan Jeni. Dua anak kecil yang masih sering netek emaknya sering salah ngenalin. Pas congping duduk diem di keset, tak jarang mereka berdua datang dengan santai dan gembiranya dan langsung ndusel-ndusel perut congping minta netek. Aku dan ibu yang beberapa kalo jai saksi kekonyolan kelakukan mereka bertiga pecah ngakak, gak bisa berhenti. Si congping yang jadi emak salah sasaran juga Cuma diem aja biarin dua bocah ribet nyari putting susu yang susah ketemu.


Jhoni dan Jeni. Baru berhasil ngelus dan deket sama mereka sepulang dari malang,pertengahan ramadhan kemarin. Awalnya mereka sama inil-inil ditempatin agak tersembunyi dari jangkauan manusia, tapi begitu aku pulang. Aku pindahin mereka berdua ke deket dapur. Biar bisa diliat, biar bisa diusel-usel tiap hari. Pertama kali ketemu mereka yang udah pada gimbul-gimbul, guemes pengen pegangin terus, elus-elus terus. Sueneng akhirnya ada bayi kucing lagi setelah kematian menik yang tiba-tiba kemarin karena sakit juga. Makanya, ibu yang belum bisa move on dari menik ngasih nama mereka berdua juga nama yang sama, yaitu Menik, tanpa memperdulikan bahwa mereka berdua satu cewek dan satu cowok. Dua duanya tetep dipanggil menik sampe capek.


Dan Tuhan, hari ini .. hariku berat.
Tak ada firasat apapun. Tak ada tanda apapun.
Jhoni mendadak sakit. Gak mau makan gak mau minum dan tingkahnya juga menjadi aneh. Dia sering minum ke kamar mandi dan duduk di sana. Kata nenek kucing kalo lagi sakit, pasti hidungnya gak merah, mereka juga mencari tempat tempat dingin kaya kamar mandi, soalnya mungkin mereka merasa tubuh mereka panas. Jeni yang awalnya gak papa, masih bisa jalan jalan dan makan bahkan nemenin Jhoni di pintu kamar mandi seharian hari ini juga mendadak sakit.
Mereka berdua Cuma bisa diem di keset kamar mandi dari pagi. Udah mulai diobatin pake air kelapa, bahkan air zam-zam. Saking nekatnya aku gak tahu kudu gimana, di kulkas ada air zam-zam yang didapet ibu dari tetangga yang bulan kemarin pulang dari umroh.

Sorenya sekitar jam 3 an, Jeni udah lemes,gak bisa gerak. Cuma tidur di keset. Sementara itu cong ping yang kulihat masih di kamar mandi, sekeluarnya dari kamar mandi dia langsung sempoyongan dan terkulai lemas di samping Jeni yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Baru pertama kali dalam hidup, aku liat seekor kucing menangis dan meneteskan air mata. Sumpah, kalopun tadi aku gak lihat itu, mungkin aku gak bakal sesedih ini. Gatau kenapa rasanya sedih banget.
Begitu Jeni udah dibawa nenek dan dibungkus kain dan dikubur, aku gak sempet lagi melihat keadaan congping dan Jhoni.

Aku sempat menyesal, enak-enak pergi jalan-jalan, ketemu temen-temen, hahahihi, sementara di rumah ada dua makhluk yang menderita menahan sakit.
Dan sampai terakhir pukul 22.00, aku yang udah capek udah setengah ngantuk tapi belom sholat isya mutusin buat pergi ke kamar mandi, niatnya mau ambil air wudhu. Tapi begitu sampai di pintu kamar mandi, congping udah terkulai lemas di keset kamar mandi selatan dan Jhoni terkulai lemas di keset kamar mandi utara. Pemandangan apa ini ya Tuhan? Masih belum cukupkah kau ambil Jeni sore ini? Dan sekarang aku harus melihat lagi dua makhluk ini kembali meregang nyawa?

Kuurungkan niat untuk berwudhu, aku terduduk lemas di depan congping sambil sesekali mengusap tubuhnya yang sudah mulai kaku dan dingin. Kuucapkan semua doa doa yang aku bisa, meskipun aku tak tahu itu cukup membantu meringankan bebannya atau tidak. Congreng yang entah sejak kapan datang ikut duduk di sampingku sambil memperhatikan congping. Dalam hati kecilnya mungkin dia ikut berdoa untuk melepaskan kepergian congping, saudara kandungnya.

Begitu napasnya tersengal beberapa kali akhirnya, nyawa terlepas dari raganya. Kuraparkan kedua kakinya sejajar, kututup kedua mata dan mulutnya. Innalilahi, selamat jalan.

Tak lama nenek datang setelah selesei sholat Isya.
Diusapnya kepala dan tubuh congping berkali kali, sambil berbisik parau

“terima kasih sudah jadi bagian dari keluarga kami. Terima kasih untuk semua kesetiaan dan ketulusanmu selama ini. Maaf kalo aku Cuma bisa menjagamu sebatas ini. Aku tahu beberapa hari ini kamu tidak pulang, karena diluar sana kau sudah sakit dan kau menahannya sampai akhirnya pulang. Aku tidak tahu, dimana Tuhan akan menempatkanmu, tapi aku yakin Tuhan punya tempat terbaik untukmu, mungkin surga adalah tempat yang tepat. aminnn"

Dan aku beralih duduk di dekat Jhoni. Badannya juga sudah lemas. Napasnya sudah mulai cepat, ketika kupegang buku-buku jarinya yang mungil, dia masih sempat bisa membalas pegangannku walau hanya dengan gerakan kecil.
tak lama inil-inil datang, ibunya.
dijilati seluruh badan Jhoni berkali kali tanpa henti, sambil sesekali mengeong, entah aku tak tahu apa maksudnya. tapi jelas, itu juga raungan kesedihan seorang ibu untuk anaknya.

aku dan nenek cuma bisa duduk bersebelahan tanpa bisa berkata kata. hati kami mungkin sama saat ini, sangat sakit. congreng yang dari tadi duduk depan jasad cong ping mulai beranjak mendekatiku. begitu sampai di sampingku, diangkat kedua kaki depannya di pundakku beberapa detik kemudian duduk di pangkuanku.
seperti dia ingin menenangkan hatiku.  seekor kucingpun mengerti betapa kesedihan tengah meliputi hati kami semua, kehilangan saudara, kehilangan keluarga.
sampai akhirnya, tubuh Jhonipun bergetar, napasnya yang cepat mulai berangsur pelan dan sengalan terakhir menjadi tandanya pergi.
Innalilahi.

kulakukan hal yang sama seperti congping, kurapatkan kedua kakinya depan dan belakang, kututup kedua mata dan mulutnya. kubungkus tubuh kecilnya yang membatu dengan kain batik bekas jarit nenek yang sudah disiapkan. kupindahkan dia di dekat congping yang sudah terbungkuss kain. inil-inil masih belum beranjak dari tempatnya. dia terduduk diam dan tak mengeong sedikitpun.

Tuhan, hujanmu begitu deras malam ini.
inikah tanda mereka sudah kau angkat ke langit?

aku tak tahu kenapa, sebegini sakitnya memiliki kehilangan.
pertemuan kami sebagai keluarga memang singkat, tapi sudah begitu banyak kenangan yang kami buat bersama.


untuk cong ping, Jhoni dan Jeni
terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga kecil kami.
terima kasih karena telah membuat hari hari kami tidak sepi.
terima kasih atas tawa dan segala tingkah polah yang membuat kami semua bahagia.
Tuhan memiliki tempat yang lebih baik untuk kalian di surga
tempat dimana kalian bisa tidur bebas, tak perlu sebatas lemari. tempat dimana kalian bisa tidur bebas, tak sebatas kardus bekas,
tempat kalian bisa bermain dan berlarian bebas.
kami ikhlas, melepas ..

kuangkat inil-inil ke pelukanku, dan congreng mengekor di belakang. kuberjalan di belakang nenek yang siap mematikan lampu ruangan belakang.
begitu lampu dipadamkan, aku masih sempat melihat jasad mereka berdua dengan sambil berkata


" selamat tidur .. panjang"



nb:
memang mereka bertiga tak akan pernah baca isi blogku kali ini. tapi setidaknya, kalian yang baca ini tahu. betapa hewan peliharaan yang kita sayangi bisa menjadi bagian dari keluarga kita sendiri. keluarga itu bukan sebatas dalam tubuh kita mengalir darah yang sama, tapi lebih dari itu. keluarga adalah orang orang yang selalu bersama kita melewati suka duka.

dan kalau kamu pikir aku agak gila, mungkin benar. dan anggap saja seperti itu. 

Kamis, 30 Juni 2016

PUTRI DI BULAN JUNI



Gak nyangka. Udah tanggal 4 Juni lagi.
Perasaan baru kemaren bareng bareng anak anak SWASH dikasih kejutan tumpeng gede ala monument gembira loka yang dalemnya isi buah-buahan. Sekarang udah ulang tahun lagi.

Perasaan baru kemaren, lagi seneng senengnya bisa naek sepeda diajarin Randy sampe bela-belain siang siangan panas terik dijabanin. Baru kemaren rasanya tabrakan gara gara naek sepeda motor beringasan, baru kemaren berani motoran sendiri Ponorogo-Malang sendirian, sekarang seorang Putri Yunisda, seorang anak yang gak bisa jauh dari ketek bapaknya berusia 24 tahun.

Astaga, lagi lagi gak nyadar juga kalo makin hari.. makin kesini udah makin tua aja saya.
Tapi kelakukan gak ada bener benernya. Masih seneng sama arum manis, mainan sama bubble yang dijual depan SD harga seribuan, main segala bentuk mainan yang layaknya dimainin sama murid sendiri. -___-

dapet dari memer yang rela ngantuk ngantuk nungguin jamnya tepat hahaha

Sejak subuh, 4 Juni udah dimulai dengan lantunan nyanyian selamat ulang tahun oleh kakak. Niatnya dari malem udah pengen bela-belain melek, biar pas pukul 00.00 nya lebih greget. Tapi apa boleh, nemplok bantal dikit langsung amblas ke alam mimpi. Sampai akhirnya dibangunin dering telepon dari kakak.

Diucapin selamat ulang tahun lengkap dengan nyanyian ala korea yang diulang sampai beberapa kali beserta doa doa panjang dan doa doa baik yang aku amini semua. Dan semoga doa doa yang dia panjatkan juga akan didengar Tuhan dan kembali padanya.

Setiap tahun. 4 juni emang selalu beda acara. Kali ini juga,
Anak-anak Pasca udah pada libur, udah pada balik ke kandangnya. Tinggal aku yang masih betah-betahin di Malang karena emang masih ada tanggung jawab terakhirnya. Kencan sama aplikasi raport. Hari inipun juga masuk ke sekolah karena perpisahan kelas enam.

Bulan Juni emang banyak banget yang ulang tahun. Di sekolah juga. Kemarin tanggal 3 Bu Aminatin juga ulang tahun ke 56 tahun. Bu Emmy kepala sekolah juga ulang tahun tanggal 26 Juni kemarin, sampe sampe Hilmy dan Aurel murid sendiri juga ulang tahun di tanggal yang sama kaya gurunya, 4 Juni. Gak perlu koar koar pake toak kalo hari ini Bu Putri ulang tahun, Bapak Ibu Guru juga udah pada peka. Apalagi mbak Pipit yang tiap hari ngurusin data guru guru, apal juga ulang tahun satu satu gurunya.


Diucapin satu satu oleh para guru guru senior, dipeluk gentian mulai dari Bu Emmy, Bu Wiwik, Bu Lilik, Bu Am, Bu Dhika, Bu Nita, Mbak Pipit sampe Pak Agung. Seneng banget. Serasa di rumah. Walaupun mungkin dirumah jauh dari seheboh ini. Dipeluk kenceng sama Bu Maria sambil dibisiki bermacam macam doa orang tua kepada anaknya. Setahun disini bener bener membuat aku merasa beruntung ada di antara beliau semua. Sebagai guru yang paling baru, paling muda dan paling hewa hewe, banyak banget pengalaman berharga yang bisaku dapat.

Walaupun mungkin ini adalah ulang tahun terakhir ketika aku bisa berada di tengah tengah mereka, di Purwantoro 8.

Seharian di sekolah karena sekalian perpisahan kelas enam. Kegiatan di sekolah gak jauh jauh dari ngerjakan raport dan mengerjakan raport. Setibanya acara kelas 6 yang meski sempet hujan deres banget. Kupikir hanya sebatas guru guru aja yang tahu kalo hari ini saya ulang tahun,tapi ternyata nggak. Begitu sampe di pertunjukan operet anak anak, tiba-tiba narrator berkata,

“berikan mawar putih yang kalian pegang sebagai tanda tulus terima kasih kepada bapak/ibu guru yang selama ini telah membimbing kalian”.

Lima belas anak pemain operet itu langsung Berhampur dari panggung menuju bangku bangku deretan guru sambil memberikan setangkai mawar putih. Ketika itu Fafan datang ke hadapanku.
            “Ini untuk Bu Putri”, kata Fafan sambil nyerahin bunga mawar putih
            “Selamat Ulang Tahun Bu Putri”, sahut nya kemudian



            Astagaaaa! Demi neptunus. Pengen nangis kejer saat itu juga. Segini senengnya rasanya diingat, disayang dan dipedulikan oleh siswa sendiri. Mereka dulu yang Cuma sempet kuajar beberapa kali selama PPL tapi udah akrab banget kaya temen sendiri di jam jam luar kelas. Pengen peluk mereka semua, tapi gak mungkin karena durasi kali yaa. Sampe akhirnya cuma bisa ngangguk sambil bilang terima kasih banyak. Mata udah berkaca kaca pengen mewek.


Karena HP mati sejak sore, jadi baru sampe kosan dices dan baru tahu kalo udah banyak ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari temen temen SMA, temen temen S-1 dan temen temen S-2. Daaaaaan, doa mereka yang paling banyak adalah tentang JODOH. AAminn ya ALLAH, semoga Engkau mendengarkan doa mereka semua. Hahahaha.

Di telpon Bapak Ibuk dan Adek juga sambil bilang selamat ulang tahun. Seperti tahun tahun sebelumnya, seperti kata bapak yang sudah-sudah.

            “Kita gak perlu merayakan ulang tahun kamu dengan acara besar. Karena inti dari ulang tahun adalah balik lagi ke doa-doanya. Dan Bapak Ibu gak perlu nunggu doain kamu setiap jelang ulang tahun, kami doain kamu setiap hari”.

            *brb mewek dulu*

Bulan Juni emang bulan baik banget. Di bulan ini juga bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Seneng banget pas dapet berita, anak anak SWASH dan ISTIQOMAH juga pengen puasaan bareng di Malang.Tepat setelah balik dari Jember, kita sepakatin buat kumpul di Malang lagi. Seneng. Banget. Pada bela-belain ke Malang, kumpul bareng. Walaupun sekedar buka puasa yang anti ontime. Karena emang di Malang ribet bisa buka puasa on time di masa masa puasaan, dimana mana pasti penuh sesak. Tapi capeknya balik dari Jember terobati, karena bisa liat mereka semua.

            Rima dan Nova yang bela-belain jauh-jauh dari Ponorogo. Walaupun alesan Rima ke Malang sebenernya mengkambing hitamkan aku juga pas ditanya ayahnya ngapain ke Malang.
            Jawabnya : “aku loo pengen jenguk dan jemput Putri, Putri kok di Malang gak pulang-pulang”
            -_____-  ini apa yaaa?

Rela naek bis hamper 10 jam dari ponorogo ke Malang, desek-desekan, panas panasan saking pengen ketemunya. Astagaaa.. ini banget yaa, pejuang LDR. Long Distance Real-Friendship :D
Ratna juga, bela-belain masak udang yang dia tangkep sendiri dari tambaknya. Ribet masak, trus naek bis dari Lamongan. Keujanan sampe Singosari, demi ketemuan sama temen temennya. Gimana gak pengen peluk-kenceng-gak-pengen-lepas mereka semua L
           
SWASH udah kumpul, berenam. Kurang satu. Ary. Dan kita semua udah tau apa alasannya, dan kita semua udah paham.

ISTIQOMAH juga udah kumpul. Kak Wel yang jauh jauh dari Bondowoso, Kak Can dari Jember, Merinta dari Trenggalek, Fifin dari Tuban dan Nindya dari Tulung Agung. Sebenernya kalo jujur, akulah yang agak merusak rencana puasaan di Malang kemarin. Karena saking lamanya aku kabur ke Jember jadi jadwal puasaan bareng di Malang agak terganggu. Tapi sebegitu tibanya di Malang, bisa buka puasaan bareng SWASH dan ISTIQOMAH itu bener bener udah sueneeng banget. Akhirnya nemu alesan yang tepat buat balik ke Malang, setelah udah jengah luar biasa. Alesannya ya mereka semua.


            Apalagi dengan surprise yang bener bener diluar pikiran. Gak kepikiran sama sekali. Hadiah ulang tahun yang dibikin Nindya, Fifin sama Merinta rombongan buat aku, Kak Wel dan Kak Can yang bener bener bikin speechless. Niat banget mereka bikin kalender ucapan dari temen temen sekelas, temen temen bahasa, dan temen temen yang lain, rela ngirim jauh dari Tulung Agung, rela kasih surprise nari “fortune Cookies” yang kita anggep sedari dulu hanya wacana, lengkap dengan kue ulang tahun lucu bertuliskan “PUT WEL CAN” yang sayang banget buat dimakan. L


            Terharu dan pengen nangis. Gak tahu harus bilang apa. NUIAT!
            Katanya kalo bikin orang atau sahabat sendiri itu bahagia udah dapet pahala, mungkin mereka bertiga udah dapet buanyaaak pahala waktu itu. Nyenengin tiga orang dalam waktu bersamaan. Balesan kata “terima kasih” doang paling gak bisa cukup buat bales apa yang udah mereka lakuin. Pengen peluk satu satu sampek sesek, gak pengen lepas, gak pengen tengkar-tengkar, suayang mereka semua pokoknya.


            SWASH juga. Di malem Ratna ulang tahun, kami sempet jalan jalan ke simpang IJEN, foto-foto di sana, foto box di matos yang udah jadi nyidamnya Rima sejak dari Ponorogo, sampe akhirnya ketahuan mereka bakalan bikin surprise ganda buat aku dan Ratna. Pulangnya, kami mampir ke Citra buat beli Roti. Begitu masuk tokonya, liat di deretan lemari es yang isinya kue kue, terpampang black forest dengan tulisan “HBD Putri an Ratna” gede banget.
            Emm.. ini apa yaaa? *ngakak*
            Karena udah ke-gap di dalem tokonya, Merinta, Rima, Febby dan Nova langsung kicep. Sementara aku sama Ratna udah ngakak gak bisa berhenti. Sampe akhirnya mereka berempat ngambek dan nyuruh kami berdua bawa bawa sendiri dan bayar bayar sendiri kue ulang tahunnya. Hahaha


            Dimana lagi bisa nemu orang orang yang nilainya 90 kaya mereka lagi?

Beberapa kali sempet kepikiran. Pas lagi sendirian. Gimana rasanya dicintain sedemikian dalamnya sama seseorang sepanjang hidup. Sebelumnya anggapanku dicintain sedemikian dalam itu hanya bisa dilakukan oleh satu orang ke orang lain. Tapi 4 Juni dan sepanjang bulan Juni kemarin, aku akui. aku salah besar.

Definisi dicintai sedemikian dalam ternyata adalah dibela-belain, disayang, dipedulikan, diperhatikan, diberikan ketulusan, diberikan senyuman dari orang –orang yang bener bener sayang pada kita. Mulai dari ibu, ayah, adek, keluarga, teman-teman, sahabat tersayang, bahkan sampai rekan rekan guru dan murid sendiri.

Apa yang lebih membahagiakan daripada dicintai sebegiu besarnya oleh orang orang yang juga sangat kita sayangi.

Beruntung. Karena aku mengenal mereka semua, dikenal mereka dan berada di tengah tengah mereka. Gimana aku gak pengen jaga mereka semua, menyayangi mereka semua, sebagaimana apa yang telah mereka lakukan padaku selama ini.

Aku gak butuh caption banyak, butuhnya kalian semua.

Etapi, butuh jodoh juga sih
Lah, baper -___-‘


Kamis, 02 Juni 2016

#KABURSEBENTAR


Pasang background music “Kisah yang Indah – Monita”



Judulnya kabur sebentar, memang bukan maen sebentar.
Sebentar karena memang durasinya hanya 1 x 24 jam. Dan kabur karena ini memang salah satu dari ajang pelarian.
Awalnya Cuma ngerasa capek, dengan semua hal di Malang. Males dan pengen lari. Tapi belum nemu tempat yang pas buat ngelakuin itu, dan belom ada orang yang bisa dijadikan sandaran.
Kalo mau pulang? Kayaknya gak mungkin. Kalo mau nginep di mas? Gak mungkin juga karena mas lagi jaga dan mbak udah pulang ke jember. Akhirnya otak nangkep sinyal kalo ada sebuah tempat yang bakalan cocok jadi tempat kabur.

SURABAYA

Udah hamper 3 tahun gak ke kota ini lagi. Kota yang tiap kali kesna selalu punya cerita baru dan kenangan baru.
Kalo udah ngomong Surabaya, kata pertama yang terlintas di pikiran adalah ITS. Mau diapa-apain ITS buat aku tetep aja keren. Gatau kenapa.
Karena udah gak mungkin ke Surabaya nebeng di Mbak Dyka, akhirnya lari ke Eyin. Temen SMA yang sekarang lagi nempuh kuliah profesi Nurse di Universitas Airlangga. Setelah di BBM dan ngobrol sana sini akhirnya dia setuju nampung mahasiswa ‘yang galau mau kabur kemana’ ini di kosannya Sabtu kemarin. Hari Jumat baru deal, Sabtu siang udah maen berangkat.
Temen temen juga pada nanyain sih, kenapa tiba tiba pengen ke Surabaya disaat sebelum sebelumnya gak ada planning apa-apa. Aku jawabnya juga singkat, “ya gapapa, cuma pengen maen aja ke Surabaya”.

berbekal tiket kucel, dan permen milki ijo kesayangan :D


Singkat cerita akhirnya, Sabtu siang aku berangkat ke stasiun dianter kakak yang udah rela kurepotin terus-terusan, naek kereta jam setengah 1 siang. Dimanapun aku berada, kayaknya selalu ada human error nya. Yaa sama kaya kejadian abis naek kereta ini. Begitu aku naek gerbong, nyari tempat duduk 17C disana udah ada mas-mas berusia sekitar 30 tahunan.

“permisi mas, 17C?”, tanyaku baik-baik sambil benerin tas

Mas-mas itu langsung bangun dari duduknya sambil berkacak pinggang.
Aku sempet shock sama tingkah mas-mas ini, kenapa pake acara berkacak pinggang juga sih?

“Iya mbak, tapi saya juga 17C. ini tiketnya kalo gak percaya!”, jawabnya langsung nyolot, nadanya tinggi sambil merogoh karcis di saku celananya.
Belom juga aku ngrespon, udah ditambahin lagi. “iya.. iya. saya turun blimbing!”.

Elah, santai aja mas. Gak sungkan apa diliatin orang orang segerbong gara-gara teriak-teriak padahal Cuma ditanya soal nomer kursi doing?, pikirku.

Akhirnya sebelum terjadi percekcokan antar penumpang nomer 17C, mas-mas berjaket kulit hitam langsung nawarin.
“Mbaknya duduk sini aja, kebetulan kosong. Mungkin masih banyak yang belom turun juga penumpangnya jadi yaa agak ribet nomer duduknya”, jelas masnya panjang lebar

Aku segera mengangguk dan duduk ditengah antara mas-mas berjaket kulit hitam yang baik hati itu dan seorang ibu ibu tua yang keliatan sangat mengantuk.

Perkaranya selesei? BELOM

Mas-mas songong itu tadi masih aja liatin aku dari atas sampe bawah dengan tampang mengintimidasi.

Apa lu liatin gue? Minta dicolok matanya?
Semakin aku diliatin sinis, semakin tak bales seribu kali lebih sinis.

Heran. Kenal juga enggak. Gak bisa apa sekalinya ketemu orang sikapnya baik dikit gitu? Gak bisa put, udah bawaan orok. Oke bye!
Kita tinggalin mas-mas yang gak penting itu. Saya gamau perjalanan naek kereta api tut—tut—tut saya jadi HELL.


Deret kursi nomer 18ABC harus berhadapan dengan dua orang lagi. Seorang nenek nenek yang dari aku niat duduk udah naikin kaki dikursi (tempat aku duduk sekarang) sambil mangku cucunya yang lagi tidur. Ibu-ibu disampingku langsung nyeletuk, “buk, kok kakinya gak diturunin? Mbaknya gak bisa duduk enak”
Kalo bisa digambarin dengan animasi, kayaknya mataku udah berkaca kaca sambil liat ibunya dengan tatapan you-know-me-so-well ya bu.
Tapi nenek-neneknya Cuma respon, “gapapa kan mbak yaa?”
Aku Cuma nyengir, “iya bu, gapapa”. Padahal dalem hati udah nangis nahan kaki sakit gak bisa dilurusin.
*apa ini yang namanya karena wanita ingin dimengerti? kali ini gue ngrasain apa yang dirasain cowok selama ini -___-*

Kereta api terus bergerak maju tanpa peduli kalo banyak banget drama di dalam gerbong keretanya. Gak peduli kalo udah hamper terjadi pertumpahan darah antar penumpang nomer 17C. Satu persatu stasiun menuju Surabaya udah dilewatin, beberapa kali berhenti lama entah karena apa, sampai akhirnya jalan lagi.

Sepanjang perjalanan Cuma mas-mas jaket hitam yang nolongin aku tadi yang ngajakin ngobrol, mulai dari kuliah dimana, mau kemana, asli dari mana, sampe akhirnya Tanya.

“mas, kata temenku suruh turun gubeng baru. Emang apa perbedaan gubeng baru dan gubeng lama?”,

Dengan pasang segoblok-gobloknya tampang, aku lebih milih beneran tanya daripada nanti ujungnya malah tersesat. Gak lucu lah kalo endingnya malah tersesat setibanya di Surabaya. Itu gak keren!
Akhirnya dia jelasin, “kalo gubeng baru kita turun pintu kanan kereta, kalo gubeng lama kita turun pintu kiri kereta”.

Agak gak mudeng sih, tapi beraniin diri lagi tanya, “kalo masnya turun dimana?”
Masnya dengan baik hati jawab lagi, “gubeng baru, mbak!”
Aku seneng, karena setidaknya ada pencerahan. Bakalan ada satu orang yang bisa dijadikan tuntunan setelah turun dari kereta api yang penuh drama ini. “Saya ikut ya mas, turunnya. Hehe”. Masnya ngangguk pelan dan pembicaraan kami selesai sampai disitu.

Karena apa? Bukan karena ada pihak ketiga atau sejenisnya. Karena begitu obrolan kita selesai, kereta ini yang mulai drama. Setelah berhenti di Bangil, nenek dan cucunya beserta ibu-ibu yang duduk disampingku turun, keretanya jadi lamaaaa banget berhenti dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Mana perut laper banget, Cuma bawa roti sepotong, kebanyakan minum nanti kembung. Duh yaaaa…
Aku gak bakalan biarin express escape ini pecah berantakan.
Sabarr.. sabaarrr..


Beberapa kali eyyin udah nanyain sampe mana beb, sampe mana beb. di jadwalnya sih ekspektasinya dari jam 12.20 sampe jam 15.11. realitanya dari jam 12.20 sampe jam 16.30. hahahaha, ngenes banget udah hamper pingsan di kereta.
Setelah nunggu lama bagai ladang gandum hujan coklat dan jadilah coco crunch akhirnya, mendarat di New York dengan cantik jelitaaaaa. (read: kucel, kusem, wajah berminyak kaya gorengan, dan bau kereta)


Seperti janjinya, aku ngikuti mas-mas jaket hitam menuju jalan yang benar. Perjalanan mencari kitab suci ini diakhiri dengan bertemunya dua insan yang udah hamper setengah tahun gak ketemu. Begitu udah liat mio merah plat AE, hati udah girang banget. Begitu ketemu langsung pelukan kaya teletubies di depan gerbang gubeng. Hahaha lagi lagi drama.


Hallo, gedung gedung tinggi. Kita bertemu lagi.

Sebelum ke kosnya, Eyyin sempet ngajakin jalan jalan keliling kampusnya sampe akhirnya kita mampir makan. Tanpa ditanyapun kayaknya Eyyin tau kalo aku udah laper tingkat kecamatan. Setelah makan, kita menuju kosannya di daerah Karang Menjangan. Capek, kesel, tapi seneng dan semangatnya masih kok. Belom juga mandi Eyyin udah nawarin male mini kita mau maen kemana. Aku yang bener bener buta Surabaya cuma ikut aja mau diajakin kemana. Akhirnya kita mutusin buat ke Food Festival Surabaya.

Setelah sholat magrib, kita mulai jalan. Sebelum ke Food Festival, Eyyin ngajakin ke kampung program kerja profesinya. Sebenarnya Eyyin dalam masa program kerja buat profesinya, dan hari Minggu dia ada proker buat senam bersama para lansia di kampong itu. Jadi, Eyyin ngajak ke pak RW nya dulu buat ijin sekaligus pinjem segala peralatan untuk hari Minggu paginya.

Dalam perjalanan ke Food Festival, aku juga sempet BBM in Alham. Dia juga tahu kalo aku bakalan punya rencana buat ke Surabaya hari ini. Akhirnya dia setuju meskipun dia baru nyusul pas aku dan Eyyin udah penuh kelilingin FF nya.

Ada yang menarik di Food Festival kemaren, yang dari jauh udah ketangkep mata dan buru-buru gak sabar bilang ke Eyyin, “Yin, yuk beli cotton candy”. Iya cotton candy sejenis makanan mirip gulali yang terbuat dari gula yang bentuknya macam sarang laba-laba warna-warni. Udah dari pulang ke Ponorogo udah nyidam makanan ini, tapi belum juga kesampean gara-gara pas dirumah kemaren rempong sendiri.






Eyyin yang notabene menobatkan dirinya sebagai tuan rumah yang baik, nurutin kemauan tamu rewel 24 jam yang dari Malang ini. Antriannya panjaaaang banget, tapi worth it lah. Akhirnya bisa dapet cotton candy warna-warni setelah sekian lama. Puas kelilingin food festival yang isinya makanan semua, akhirnya kita mutusin buat ke food court deretan depan FF sambil nungguin Alham di sana.
tiga orang dengan profesi berbeda dalam satu meja

awalnya pada gamau foto katanya malu, tapi demi nyenengi bu guru rewel akhirnya mereka pada foto juga

Food courtnya penuh, karena malem minggu dan ada live music nya juga. Jadi agak susah nemu tempat yang kosong. Sambil nunggu, kita pesen camilan. Hamper setengah jam nunggu, akhirnya Alham dateng. Baru juga nyamperin, belum juga duduk udah ditodong dengan pertanyaan, “kamu ngapain ke Surabaya?”

Astaga. Emang sekarang berlaku aturan seorang Putri Yunisda gak boleh menginjakkan kaki di Surabaya? Jahat dia.

“Baru juga nyampek, belom juga duduk, belom juga salaman udah gitu pertanyaannya. Jahat banget! Emang gaboleh ke Surabaya?”,
“mencurigakan soalnya. Ngapain tiba tiba ke Surabaya dadakan gitu?”, terus aja ngomel sambil narik kursi buat duduk.
“lha kamu ngapain pake duduk? Pake acara mau nyusulin ke sini hayooo?”
“kan sebagai tuan rumah Surabaya yang baik, hayoooo! Yakan Yin?”

Eyyin cuma nyengir sambil terusin makan cemilan.
Beberapa kali Alham tetep kekeh dengan pertanyaan yang sama, alasan utama kenapa tiba tiba dateng ke Surabaya, dadakan dan bener bener singkat.
Kami bertiga adalah mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang jauh berbeda. Eyyin yang dengan segala bidang kesehatan dan semestanya. Kaitan sama darah, suntik, infuse, dan rumah sakit. Sementara alham dengan segala bidang IT nya. Kaitan sama laptop, computer, memrogramaan dan antah brantahnya. Dan aku dengan bidang pendidikan yang tiap hari ngurusin prota, promes, silabus, RPP, siswa dan kelas bertemu di satu meja dengan bahasan dari bidang masing-masing. Kalo kita bahas kesehatan, aku dan alham yang Cuma bisa bilang “oooo” panjang sambil angguk angguk sok paham, kalo kita bahas tentang IT, aku dan Eyyin juga Cuma bisa “oooo” panjang. Sementara pas aku cerita, mereka yang udah ngerti dunia pendidikan juga Cuma menjadi pendengar segala curhatanku tentang Pasca dan Sekolah.

Gak kerasa udah ngobrol panjang setelah hampir 4 tahun gak ketemu. Alham sempet kerja juga sih di Malang, deket sekolah pula. Tapi semesta gak kasih ijin buat ketemu, sampe akhirnya dia balik lagi ke Surabaya. Dia milih Surabaya yang panas ini daripada Malang.

Eyyin
:
Aku besok ada proker senam pagi bareng lansia, kamu gapapakan tak tinggal nak?
Me
:
Iya gapapa mak
Eyyin
:
Nanti jam 9 udah kelar kok, trus kita maen. Kamu mau maen kemana?
Me
:
*Cuma natap mereka berdua gantian sambil masang wajah gue-gak-tahu-apa-apa-tentang-surabaya* bagusnya kemana?
Alham
:
Banyak lah. Ada car free day di taman bungkul besok pagi, ada mall mall berjejer tinggal milih, ada mangrove, ada masjid ampel
Me
:
*cengo dan keliatan bingung* mangrove? Di Surabaya? Jauh?
Eyyin
:
Aku gatau tempatnya, itu daerah mana sih?
Me
:
*pasang tampang anterin-kita-kesana-plissss*
Alham
:
Ogah, mendingan tidur ampe siang. Nanti ada Liga Champion
Me
:
Dasar, belom juga ngomong
Alham
:
Udah bisa ketebak isi pikiranmu
Eyyin
:
Apa ke danau Unair aja? Aku dulu kalo lagi galau kalo lagi homesick pasti kesana, ngasih makan ikan.
Putri
:
Terserah kalian mau ngajakin kemana, aku nurut pokoknya aku diseneng-senengin 24 jam ini
Alham
:
Iya iya, 24 jam ini kita seneng-senengin tamu dari Malang ini Yin, besok mau gak mau kita usir dia balik pulang ke negaranya. Hahaha

Ngobrol seru, ngobrol panjang sampe bully-bullyan. Sekitar jam setengah 11 an akhirnya kita mutusin buat pulang. Alham ngajakin kita keliling ITS dulu sebelum akhirnya dia pisah di deket perumahan kontrakannya.
Saking capek, saking senengnya juga. Setelah sampe kos Eyyin langsung tepar sampe pagi. Pagi-pagi buta Eyyin udah ribet sendiri dengan training dan baju baju olahraga, sementara anaknya (read: aku) masih gak gerak di atas kasur. Mager parah. Di kosan cengo sendirian sambil nunggu Eyyin pulang mirip anak ayam yang udah kelaperan sementara emaknya masih berjuang cari makan.
Sesuai jadwal, next jalan-jalan kita rencananya adalah mangrove. Hal pertama yang harus dilakukan adalah nelpon guide yang kemaren nawarin mangrove itu sendiri. Saudara Alham. Dan setelah ditinggal makan sampe kenyang, di bbm, di PING, di sms, dan dengan usaha terakhir di telpon tidak ada respon bagai menghilang dari peradaban karena Liga Champion atau apalah itu namanya, kita berdua mikir ulang buat tempat yang bakalan kita kunjungi. Eyyin udah ngaku sendiri kalo emang selama hampir lima tahun dia belom apal daerah Surabaya dan semestanya. Taunya paling itu itu doang, dan gak lucu kan kalo kita berdua yang buta baca GPS ini juga tersesat? Cari jalan aman akhirnya kita mutusin ke danau UNAIR yang Eyyin certain kemaren. Tepatnya di Kampus C Mulyorejo.



Sebelum ke danau, kita mapir stasiun dulu, berniat beli tiket balik malang. Dan baguslah saudara saudara, tiketnya habis dalam sekejap mata. Yang tersisa hanya tiket untuk jam 8 malam dan itupun berdiri. Matilah awak.. beberapa menit didepan loket bingung sambil mikir akhirnya gak jadi beli. HELL banget.

Diajakin maen keliling danau, keliling kampus aja udah sueneng banget. Diajakin beli makan ikan, ngasih makan ikan, ngobrol di tepi danau sambil liat kapal-kapalan aja rasanya udah luar biasa seneng. Ditambah lagi bisa puas-puasin gulung-gulung dirumput ijo depan danau sampe bikin malu. Panasnya Surabaya yang bener bener terasa sampe tulang gak jadi masalah sama sekali. Yang penting seneng, itu aja sih pointnya.


kalo sendirian kesini pas galau galaunya palingan udah nyebur -__-



keliling UNAIR aja sanggup, apalagi kelilingin hati kamu bang :D

pokoknya dikit dikit foto




ini sesion paling malu-maluin. gulung-gulung di rumput di siang bolong



kasur sama rumput gak bisa bedain, udah mager :D


ngasih makan ikan nila :D



Abis puas alay-alayan, bikin video, foto foto dan pulangbalik ke kosan akhirnya Alham nelpon. Kayaknya dia baru balik dari planet Namex. Nanyain kita sekarang posisi dimana, jadi ke mangrove gak? Udah telat, basi. Hahahaha
Oya, hari itu tanggal 29 Mei. Hari ulang tahun Eyyin. Aku juga awale gak nyangka kalo ngepas banget kesana pas bisa nemenin dia ulang tahun di Surabaya. Meskipun aku Cuma bisa nyusahin, rewel, alay, ngajakin maen ke sana sini padahal dia ada program kerja profesi. Dia rela-relain nyenengin aku, ngajakin makan dan jalan-jalan.



Selamat ulang tahun cewek kece dan super setrong se surabaya@eyin_eryin semoga bertambah semua kebaikan, bertambah kedewasaan. semoga lancar profesi nurse nyaa. semoga diberikan kemudahan rejeki, umur, kesehatan dan jodohnya. terima kasih telah menjadi bagian dari cerita pendek ku "kabur dari Malang". suayaaang kamu poll.aku akan datang lagi, pasti. dan kamuu mau gak mau harus nunggu aku

Balik ke malang, Eyyin ternyata gabisa anter aku karena ada program kerja jam setengah 5. Akhirnya setelah omel omelan, debat panjang, dan bully-bullyan akhirnya Alham yang anter aku ke terminal.
Gara gara berdosa gak bisa ngajakin maen ke mangrove Bu Guru yang lagi nyidam liburan itu, akhirnya dia bersedia nganterin ke terminal. Dan ternyata itu jauh sekali saudara saudara. Sekitar 30 menitan dari kos Eyyin. Hahaha mayan yaa..


Di tengah perjalanan, masing dengan pertanyaan yang sama
“ngapain kok tiba tiba ke Surabaya?”
Aku nyengir di boncengan belakang.
“Beneran kabur ternyata?”
“Iya, udah capek sama Malang dan seisinya.”
“Gausah pulang dulu, maen dulu disini. Baru juga kemaren sampek. Balik seminggu lagi”
“Gak bisalah, besok jaga UKK. Kasian anak anakku”
“Iya ding, bu Guru”
“padahal masih pengen di sini, pengen maen. Gamau balik malang.”
“Lha makanya”
“Ntar lagi, aku maen ke sini lagi. Aku pengen Surabaya tetep jadi kota yang ngangenin. Sesekali aja kukunjungi biar aku gak bosen.”
“iya, tapi Surabaya gak mau kamu jadiin pelarian”



Intinya, niatin ke Surabaya tu healing, bukan escaping.
Setelah ngobrol panjang, nglewatin jalan jalan perumahan dan kampung yang aku gak kenal akhirnya sampe di dalem terminal.

“trus abis ini aku kudu nyari plang Surabaya-malang kan?”, memastikan diri
“kamu sebelume belom pernah naek bis dari Surabaya-malang?”
“udah pernah sekali tapi gak sendirian. Jadi pas itu aku Cuma ikut aja”
“jadi bener bener gak ngerti?”
Aku menggeleng, orang beneran gak ngerti.
“dasar, nekat!”
Akhirnya dianter nyari bis jurusan Surabaya-Malang sampe dapet, macam bapak-bapak yang nganterian anak TKnya berangkat naek bus sekolah sampe depan pintu bisnya.
“kalo ada apa apa BBM aja, kalo udah nyampe BBM”
“Iya.. iya.”

Dan itulah akhir acara kabur singkatku ke Surabaya kemarin. Selama di bis, Cuma bengong sendirian sambil liat jalan. Mulai mikir.
Ternyata benar, aku aja yang gak mengakui. Kalo perjalanan 24 jam ini adalah pelarian. Pelarian dari segala ke-jengah-an Malang. Capek sama UAS, capek sama sekolah, capek sama semua hal. Pengen pulang tapi gak bisa, pengen maen jauh tapi bingung mau kemana, mau ke timezone tapi lagi gak mood.

Gak heran, tiap kali aku ganti DP selama di Surabaya Rima, Ferdhin, Ratna semuanya komen kalo setiap DP ku aku bisa ketawa puas banget, seperti keluar dari penjara. Keliatan seneng banget padahal aku Cuma pasang DP yang itu-itu aja di tempat yang sama.
Beruntungnya aku, bisa dapet temen temen yang bersedia tak repotin, tak bawelin, tak ajakin kesana kemari padahal mereka juga lagi pada sibuk, lagi punya urusan masing-masing. Beruntung punya temen temen yang care, yang bisa jagain dari gerbang gubeng baru sampai gerbang terminal Purabaya biar aku gak jadi anak ilang. Beruntung punya mereka yang selalu baik, selalu ngertiin aku yang menjadikan Surabaya sebagai pelarian diri.
Begitu balik ke malang, udah full energy lagi. Udah siap ngadepin sekolah dengan segala dramanya, udah siap ngadepin tumpkan koreksian UKK, ngadepin aplikasi raport yang HELL sedunia.




Pokoknya, hari itu. Minggu, 29 Mei 2016 dari jam 06.00 sampai jam 24.00 udah dibuat seneng banget banget banget.
 

Beautiful Days Template by Ipietoon Cute Blog Design