Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 April 2017

How Far I Will Go


Ini tentang cerita perjalanan 180 km from home.



Berjarak 180 km dari rumah itu bukan tempat yang dekat. Jauh, bahkan sangat jauh dari jangkauan. Jarak Ponorogo ke Malang saat aku berusia 16 tahun bagai Ponorogo ke Jekardah. Jauhbanget. Ngelipp kalo kata orang desa mah.

Untouchable. Kalo bahasa agak maduranya lah.

Bener-bener susah dibayangin.
Sejauh yang ku tahu, yang pertama terlintas di otak ketika mendengar Malang itu Cuma dua. Jatim Park dan Apel. Selebihnya, aku gak tahu.

Jumat, 16 September 2016

AKU, JUNIMU


Sejak kecil, aku selalu bertanya tanya.bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama dan tidur di tempat tidur yang sama, namun tak satupun dari mereka merasa bosan sampai sekarang. Aku juga heran, mengapa dua orang yang bertatap muka dengan intensitas melebihi jadwal minum obat, lebih dari tiga kali sehari dalam satu kurun waktu bisa tidak merasa jenuh.

Aku sering memikirkan hal itu. Sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku baru tahu, ternyata sebuah kata “aku  pulang yaa” rasanya bisa seberat “selamat tinggal” dan meninggalkan lagi-lagi pertanyaan “apakah ini akan menjadi yang terakhir? Apakah esok aku sudah tak bisa lagi bertemu dengannya?”

Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita saling bercengkerama, tertawa bersama, membicarakan hal-hal biasa yang terasa istimewa dan membahas dunia. Padahal, hari itu kita melewati waktu sarapan sampai makan malam bersama. padahal sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita jalan-jalan melewati jalan yang sama. Namun setiap kali waktunya datang “untuk berpisah”, “pamit” selalu terasa semakin berat.

Perpisahan dalam bentuk apaun, meski tak seberat “selamat tinggal” tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah terlanjur meninggalkan hatiku di matamu, tempat aku menemukan keteduhan. 

Baru aku sadar, sedetik setelah seseorang pergi, manusia bisa rindu pada seseorang yang baru ia temui lagi.

Aku tidak akan pergi jika tidak harus. Tidak akan dan tidak ingin. Karena ketika disampingmu aku seperti menemukan apa yang aku cari. Karena ketika bersamamu aku lengkap.

Aku sangat bersyukur, meski segala yang kulalui bersamamu selama ini hanya sebuah mimpi, sebuah  mimpi yang panjang.

Sebagian orang berkata bahwa tak ada yang sempurna di dunia. Bagiku itu tidak lagi penting. Karena kamu  telah membuat aku merasa cukup.

Ini rencana semesta, sampai akhirnya aku bertemu kamu.

Aku sadar semua ini hanya sementara. Dan akan segera tiba saatnya untukku berucap selamat tinggal. Kelak semuanya akan diakhiri dengan peluk erat dan dekap hangat. aku tak ingin kau ingat sebagai sebuah luka dan penyesalan. aku yang ada di memory mu hanya ingin diingat sebagai aku yang pernah mengisi hari-hari dan sudut kecil hatimu.

Kali ini, setidaknya untuk sementara ini. Aku meminta kamu peluk aku dengan doa. Dan kelak membiarkan aku melanjutkan bergelut dengan hidup, untuk mewujudkan mimpiku dan kamu mewujudkan mimpimu.

Bagiku, dalam sebuah drama apapun. Happy ending bukan hanya sebatas bisa hidup bahagia bersama sama, tapi happy ending versiku adalah ketika kita memutuskan untuk bahagia, meski dengan menempuh jalan yang berbeda.

Kamis, 30 Juni 2016

PUTRI DI BULAN JUNI



Gak nyangka. Udah tanggal 4 Juni lagi.
Perasaan baru kemaren bareng bareng anak anak SWASH dikasih kejutan tumpeng gede ala monument gembira loka yang dalemnya isi buah-buahan. Sekarang udah ulang tahun lagi.

Perasaan baru kemaren, lagi seneng senengnya bisa naek sepeda diajarin Randy sampe bela-belain siang siangan panas terik dijabanin. Baru kemaren rasanya tabrakan gara gara naek sepeda motor beringasan, baru kemaren berani motoran sendiri Ponorogo-Malang sendirian, sekarang seorang Putri Yunisda, seorang anak yang gak bisa jauh dari ketek bapaknya berusia 24 tahun.

Astaga, lagi lagi gak nyadar juga kalo makin hari.. makin kesini udah makin tua aja saya.
Tapi kelakukan gak ada bener benernya. Masih seneng sama arum manis, mainan sama bubble yang dijual depan SD harga seribuan, main segala bentuk mainan yang layaknya dimainin sama murid sendiri. -___-

dapet dari memer yang rela ngantuk ngantuk nungguin jamnya tepat hahaha

Sejak subuh, 4 Juni udah dimulai dengan lantunan nyanyian selamat ulang tahun oleh kakak. Niatnya dari malem udah pengen bela-belain melek, biar pas pukul 00.00 nya lebih greget. Tapi apa boleh, nemplok bantal dikit langsung amblas ke alam mimpi. Sampai akhirnya dibangunin dering telepon dari kakak.

Diucapin selamat ulang tahun lengkap dengan nyanyian ala korea yang diulang sampai beberapa kali beserta doa doa panjang dan doa doa baik yang aku amini semua. Dan semoga doa doa yang dia panjatkan juga akan didengar Tuhan dan kembali padanya.

Setiap tahun. 4 juni emang selalu beda acara. Kali ini juga,
Anak-anak Pasca udah pada libur, udah pada balik ke kandangnya. Tinggal aku yang masih betah-betahin di Malang karena emang masih ada tanggung jawab terakhirnya. Kencan sama aplikasi raport. Hari inipun juga masuk ke sekolah karena perpisahan kelas enam.

Bulan Juni emang banyak banget yang ulang tahun. Di sekolah juga. Kemarin tanggal 3 Bu Aminatin juga ulang tahun ke 56 tahun. Bu Emmy kepala sekolah juga ulang tahun tanggal 26 Juni kemarin, sampe sampe Hilmy dan Aurel murid sendiri juga ulang tahun di tanggal yang sama kaya gurunya, 4 Juni. Gak perlu koar koar pake toak kalo hari ini Bu Putri ulang tahun, Bapak Ibu Guru juga udah pada peka. Apalagi mbak Pipit yang tiap hari ngurusin data guru guru, apal juga ulang tahun satu satu gurunya.


Diucapin satu satu oleh para guru guru senior, dipeluk gentian mulai dari Bu Emmy, Bu Wiwik, Bu Lilik, Bu Am, Bu Dhika, Bu Nita, Mbak Pipit sampe Pak Agung. Seneng banget. Serasa di rumah. Walaupun mungkin dirumah jauh dari seheboh ini. Dipeluk kenceng sama Bu Maria sambil dibisiki bermacam macam doa orang tua kepada anaknya. Setahun disini bener bener membuat aku merasa beruntung ada di antara beliau semua. Sebagai guru yang paling baru, paling muda dan paling hewa hewe, banyak banget pengalaman berharga yang bisaku dapat.

Walaupun mungkin ini adalah ulang tahun terakhir ketika aku bisa berada di tengah tengah mereka, di Purwantoro 8.

Seharian di sekolah karena sekalian perpisahan kelas enam. Kegiatan di sekolah gak jauh jauh dari ngerjakan raport dan mengerjakan raport. Setibanya acara kelas 6 yang meski sempet hujan deres banget. Kupikir hanya sebatas guru guru aja yang tahu kalo hari ini saya ulang tahun,tapi ternyata nggak. Begitu sampe di pertunjukan operet anak anak, tiba-tiba narrator berkata,

“berikan mawar putih yang kalian pegang sebagai tanda tulus terima kasih kepada bapak/ibu guru yang selama ini telah membimbing kalian”.

Lima belas anak pemain operet itu langsung Berhampur dari panggung menuju bangku bangku deretan guru sambil memberikan setangkai mawar putih. Ketika itu Fafan datang ke hadapanku.
            “Ini untuk Bu Putri”, kata Fafan sambil nyerahin bunga mawar putih
            “Selamat Ulang Tahun Bu Putri”, sahut nya kemudian



            Astagaaaa! Demi neptunus. Pengen nangis kejer saat itu juga. Segini senengnya rasanya diingat, disayang dan dipedulikan oleh siswa sendiri. Mereka dulu yang Cuma sempet kuajar beberapa kali selama PPL tapi udah akrab banget kaya temen sendiri di jam jam luar kelas. Pengen peluk mereka semua, tapi gak mungkin karena durasi kali yaa. Sampe akhirnya cuma bisa ngangguk sambil bilang terima kasih banyak. Mata udah berkaca kaca pengen mewek.


Karena HP mati sejak sore, jadi baru sampe kosan dices dan baru tahu kalo udah banyak ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari temen temen SMA, temen temen S-1 dan temen temen S-2. Daaaaaan, doa mereka yang paling banyak adalah tentang JODOH. AAminn ya ALLAH, semoga Engkau mendengarkan doa mereka semua. Hahahaha.

Di telpon Bapak Ibuk dan Adek juga sambil bilang selamat ulang tahun. Seperti tahun tahun sebelumnya, seperti kata bapak yang sudah-sudah.

            “Kita gak perlu merayakan ulang tahun kamu dengan acara besar. Karena inti dari ulang tahun adalah balik lagi ke doa-doanya. Dan Bapak Ibu gak perlu nunggu doain kamu setiap jelang ulang tahun, kami doain kamu setiap hari”.

            *brb mewek dulu*

Bulan Juni emang bulan baik banget. Di bulan ini juga bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Seneng banget pas dapet berita, anak anak SWASH dan ISTIQOMAH juga pengen puasaan bareng di Malang.Tepat setelah balik dari Jember, kita sepakatin buat kumpul di Malang lagi. Seneng. Banget. Pada bela-belain ke Malang, kumpul bareng. Walaupun sekedar buka puasa yang anti ontime. Karena emang di Malang ribet bisa buka puasa on time di masa masa puasaan, dimana mana pasti penuh sesak. Tapi capeknya balik dari Jember terobati, karena bisa liat mereka semua.

            Rima dan Nova yang bela-belain jauh-jauh dari Ponorogo. Walaupun alesan Rima ke Malang sebenernya mengkambing hitamkan aku juga pas ditanya ayahnya ngapain ke Malang.
            Jawabnya : “aku loo pengen jenguk dan jemput Putri, Putri kok di Malang gak pulang-pulang”
            -_____-  ini apa yaaa?

Rela naek bis hamper 10 jam dari ponorogo ke Malang, desek-desekan, panas panasan saking pengen ketemunya. Astagaaa.. ini banget yaa, pejuang LDR. Long Distance Real-Friendship :D
Ratna juga, bela-belain masak udang yang dia tangkep sendiri dari tambaknya. Ribet masak, trus naek bis dari Lamongan. Keujanan sampe Singosari, demi ketemuan sama temen temennya. Gimana gak pengen peluk-kenceng-gak-pengen-lepas mereka semua L
           
SWASH udah kumpul, berenam. Kurang satu. Ary. Dan kita semua udah tau apa alasannya, dan kita semua udah paham.

ISTIQOMAH juga udah kumpul. Kak Wel yang jauh jauh dari Bondowoso, Kak Can dari Jember, Merinta dari Trenggalek, Fifin dari Tuban dan Nindya dari Tulung Agung. Sebenernya kalo jujur, akulah yang agak merusak rencana puasaan di Malang kemarin. Karena saking lamanya aku kabur ke Jember jadi jadwal puasaan bareng di Malang agak terganggu. Tapi sebegitu tibanya di Malang, bisa buka puasaan bareng SWASH dan ISTIQOMAH itu bener bener udah sueneeng banget. Akhirnya nemu alesan yang tepat buat balik ke Malang, setelah udah jengah luar biasa. Alesannya ya mereka semua.


            Apalagi dengan surprise yang bener bener diluar pikiran. Gak kepikiran sama sekali. Hadiah ulang tahun yang dibikin Nindya, Fifin sama Merinta rombongan buat aku, Kak Wel dan Kak Can yang bener bener bikin speechless. Niat banget mereka bikin kalender ucapan dari temen temen sekelas, temen temen bahasa, dan temen temen yang lain, rela ngirim jauh dari Tulung Agung, rela kasih surprise nari “fortune Cookies” yang kita anggep sedari dulu hanya wacana, lengkap dengan kue ulang tahun lucu bertuliskan “PUT WEL CAN” yang sayang banget buat dimakan. L


            Terharu dan pengen nangis. Gak tahu harus bilang apa. NUIAT!
            Katanya kalo bikin orang atau sahabat sendiri itu bahagia udah dapet pahala, mungkin mereka bertiga udah dapet buanyaaak pahala waktu itu. Nyenengin tiga orang dalam waktu bersamaan. Balesan kata “terima kasih” doang paling gak bisa cukup buat bales apa yang udah mereka lakuin. Pengen peluk satu satu sampek sesek, gak pengen lepas, gak pengen tengkar-tengkar, suayang mereka semua pokoknya.


            SWASH juga. Di malem Ratna ulang tahun, kami sempet jalan jalan ke simpang IJEN, foto-foto di sana, foto box di matos yang udah jadi nyidamnya Rima sejak dari Ponorogo, sampe akhirnya ketahuan mereka bakalan bikin surprise ganda buat aku dan Ratna. Pulangnya, kami mampir ke Citra buat beli Roti. Begitu masuk tokonya, liat di deretan lemari es yang isinya kue kue, terpampang black forest dengan tulisan “HBD Putri an Ratna” gede banget.
            Emm.. ini apa yaaa? *ngakak*
            Karena udah ke-gap di dalem tokonya, Merinta, Rima, Febby dan Nova langsung kicep. Sementara aku sama Ratna udah ngakak gak bisa berhenti. Sampe akhirnya mereka berempat ngambek dan nyuruh kami berdua bawa bawa sendiri dan bayar bayar sendiri kue ulang tahunnya. Hahaha


            Dimana lagi bisa nemu orang orang yang nilainya 90 kaya mereka lagi?

Beberapa kali sempet kepikiran. Pas lagi sendirian. Gimana rasanya dicintain sedemikian dalamnya sama seseorang sepanjang hidup. Sebelumnya anggapanku dicintain sedemikian dalam itu hanya bisa dilakukan oleh satu orang ke orang lain. Tapi 4 Juni dan sepanjang bulan Juni kemarin, aku akui. aku salah besar.

Definisi dicintai sedemikian dalam ternyata adalah dibela-belain, disayang, dipedulikan, diperhatikan, diberikan ketulusan, diberikan senyuman dari orang –orang yang bener bener sayang pada kita. Mulai dari ibu, ayah, adek, keluarga, teman-teman, sahabat tersayang, bahkan sampai rekan rekan guru dan murid sendiri.

Apa yang lebih membahagiakan daripada dicintai sebegiu besarnya oleh orang orang yang juga sangat kita sayangi.

Beruntung. Karena aku mengenal mereka semua, dikenal mereka dan berada di tengah tengah mereka. Gimana aku gak pengen jaga mereka semua, menyayangi mereka semua, sebagaimana apa yang telah mereka lakukan padaku selama ini.

Aku gak butuh caption banyak, butuhnya kalian semua.

Etapi, butuh jodoh juga sih
Lah, baper -___-‘


Senin, 19 Oktober 2015

LIFE HARD

Gue lagi ngalami masa sulit.
iya sulit banget, sampe sampe gue ngerasa gak sanggup buat ngapa-ngapain lagi dari hari kamis sapai hari sabtu.
rasanya 3 hari itu, berubah menjadi hell banget sejak tanggal 19 September kemaren.



ampun Tuhan. hanya dengan sekilas gue ngeflashback semua memory gue pada saat gue jadi siswa sekolah dasar dulu dengan pertanyaan yang sama.

Tuhan, apa iya gue dulunya sebengal itu?

bukannya apa-apa. gue berasa dapat karma. hidup gue semenjak tanggal 19 september kemaren berasa sinetron yang drama abisss. ABIS lah pokoknya.

lu semua coba bayangin, kalian jadi guru muda yang ngadepin kelas paling bengal, paling rame, paling dari segala paling yang jelek jelek. bukan yang baik baik. tiap hari rasanya seperti pengen gantung diri di pohon toge tau gak.

gue kira selama ini, kelas yang isinya rebel semua tuh cuma ada di dalam adegan sinetron dan drama drama kolosal indonesia, tapi ini sekarang ... NYATAAAAA. udah bunuh aja guaaa sekarang.

kalo bisa didrama dramain tiap kali di kelas, gue beras teriak dengan suara kelewat 2 oktaf dengan nada frustasi minta dipecat hari itu juga. gue-beneran-stres.

gue bener bener gak ngerti, dan mungkin sekarang sedikit mulai ngerti kalo kelas 5 ditaraf sekolah dasar merupakan taraf seorang anak lagi nakal-nakal dan bengal bengalnya. gak ada rasa takut, berasa udah sok gede dan udah beras tau dunia. emang gue dulu kayak gitu apa yak? perasaan umur segitu dulu gue baru bisa elap ingus dengan bener. tapi anak sekarang. Tuhan, gue gak ngerti, kena racun apa bocah bocah jaman sekarang hingga mereka bisa berubah macem gini bentuknya. gak punya rasa takut.

tiap hari masuk kelas, doa gue cuma satu. semoga hari itu dosa gue yang udah banyak gak ditambah lebih dan lebih banyak lagi di kelas ini. tapi nyatanya apa teman teman sekalian, bar juga setelah asmaul husna, baru juga setelah baca doa bru juga selesei nyanyiin lagu Indonesia raya, kelas gue berasa kaya pasar besar Malang pindah. kalo dibahasa inggrisin sih "WIS ORA KARU-KARUAN". setelah Indonesia Raya selesei dikumandangi gue udah berasa pengen langsung mengheningkan cipta. ya Tuhan, dosaaa apa haaambaaaa?


banyak banget kasus yang udah gue temuin selama genep sebulan mendiami kelas itu sebagai guru kelas baru. eits, guru kelas beda dengan wali kelas. gue cuma guru kelas yang tugasnya ngajar, kalo guru kelas tugasny ngurusi segala sesuatu di kelas itu. tapi selama berjalan sebulan ini gue gak ngerasain bedanya dimana, endingnya tetep aja gue yang ngerjain apa apanya. oke, jangan dibahas lebih jauh. baper maksimal gue kalo bahas ke sono sono.

karena gue cuma bisa ketemu mereka hari kamis Jumat dan Sabtu gue beneran gak tahu perkembangan mereka dari Hari Senin sampai hari Rabu. entah begundl begundal itu ngapain, buat onar apa lagi, gue bener bener gak peduli tahu. endingnya gue dapet lporan hari kamisnya kalo selama 3 hari awal minggu udah sukses berantem, udah sukses buat onar dan bikin guru senior di sekolah melayangkan sapu terbang ke salah satu dari mereka. mantep kan ya? banget.

geleng geleng kepala. its not enough. gak ngefek put kalo lo juga cuma geleng geleng kpala.


yang gue heran selama ini, sebenernya mereka semua kenapa sih? apa yang salah dari mereka semua? kenap mereka jadi anak anak yang ada di luar kendali seperti itu? sementara sebelumnya yang gue kenal mereka di kelas sebelumnya mereka adalah anak anak yang patuh dan gak banyak tingkah, sekarang mereka seperti dapet kekuatan dari bulan semuanya gak cewek gak cowok berubah jadi makhluk astral.

gue udah sering ditegur sama guru senior tetnang tingkah anak anak itu, mulai dar berantem, gak takut sama gurunya, kerjaannya cuma rame sendiri, pokoknya intinya kelakuan penuh pelanggaran dari mereka.



pengen nangis, pengen teriak teriak. gue udah lakuin semua, tapi kayaknya percuma. gue udah sok sokan ngambek di kelas, tapi endingnya gue malah yang dicuekin. kampret banget gak sih? mereka udah berasa hebat, jagoan dan bisa sendiri. kalo kata emak gue mah, itu masa masa mereka berada diambang antara anak kecil menuju dewasa.

saking susahnya usaha diet, kayaknya gue bentar lagi jadi kurus deh. bukan karena jarang dan kurang makan tapi karena ngenes ngadepin ank anak yang susahnya minta ampin diatur itu.


gue jadi sadar kalo selama ini gue emang belum bisa jadi gur yang baik dan gue emang masih jauh dari itu semua. dan mereka adalah ujian kesabaran gue sebagai seorang guru walaupun gue ngerasa gue udah hampir nyerah jadi seorang guru karena mereka juga. karena nyerah sebenarnya bukan pilihan, karena nyerah di titik ini bukan solusi, dan membuktikan bahwa gue orang yang gak tanggung jawab dengan apa yang telah dipercayakan kepada gue. gue pengen mereka jadi anak anak yang baik, anak anak pinter yang patuh ke gurunya, namun sampai saat ini gue belum bisa nemu caranya. God please, help me :(

gue juga bisa berkaca dari kedua orang tua gue, kalo emang menjadi sorang gueu itu bukan pekerjaan yang mudah. bukan cuma memberikan pengajaran tapi juga pendidikan. gue gak kebayarng, gue yang masih 4 bulan mencoba jadi guru aja masih ugal uagalan kaya gini ngadepin anak orang, gimana emak bapak gu yang udah puluhan tahun ngadepin dan momong anak orang. ya ALLAH, jaga mereka :)

Sabtu, 30 Agustus 2014

Teacher’s Diary

Sudah ditetapkan, bahwa mulai tangal 18 Agustus 2014 kemaren  Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) resmi dilaksanakan. Sama artinya hari penderitaan buat gue dan temen temen gue yang lain dimulai.
Berkaca dari berbagai pengalaman senior yang lalu, mereka selalu bertutur bahwa , PPL gue belom bisa dikatakan berhasil kalo suara unyu gue dan teman teman seangkatan belom berubah jadi cepreng mirip bebek, serek kaya mobil kurang oli.
Dan setelah menjalani ini, gue sadar. Itu bener banget.


Mendidik adalah kewajiban setiap orang yang terdidik – Anis Baswedan

Kata kata itu, cukup sukses membuat gue tertohok. Mendidik adalah kewajiban setiap orang yang terdidik. Dan sekarang ini gue dalam status sebagai calon pendidik baru, yang mau gak mau dituntut untuk membuktikan bahwa gue bener bener orang yang terdidik.
Mengingat kembali kata kata itu, bikin gue merinding. Beban kerja gue, mendidik anak orang berasa udah kaya tugas negara yang wajib dijalankan dan kalo terjadi kesalahan akibatnya dosa. Iya, beneran. Sekarang gue jadi mikir ke situ situ.

Sejak melangkahkan hari senin di SDN Purwantoro 8 kemarin, mata gue seperti terbuka kembali. Mengingat masa lalu indah, kenangan indah kalo gue, seorang Putri Yunisda Mawarni juga pernah jadi siswa SD yang memakai seragam merah-putih dengan kaos kaki putih belel, sepatu hitamyang udah agak buluk karena terpakai setiap hari, tas yang nangkring dipunggung yang selalu berat karena penuh dengan isi materi mata pelajaran setiap hari.

Saat gue melangkah ke gerbang sekolah itu, gue inget saat gue pertama kali masuk sekolah kelas 1 SD. Dimana gue, yang masih 6 tahun udah berangkat rapi dari rumah dengan rambut berkuncir 2 lengkap dengan poni depan kebanggaan, tas rangsel berwarna pink bergambar apa dulu gue lupa, seragam kemeja putih yang masih kinclong karena kena korban iklan BaycL*n dan rok merah yang masih kedodoran dibawah lutut, tak lupa dengan sepatu hitam mengkilat yang pasti masih baru.berangkat ke sekolah dengan naik sepedah kecil berwarna oranye, yang entah dimana sekarang keberadaannya.

Mengingat muris-murid gue di pagi hari, membuat gue kembali ingat masa masa Sekolah Dasar yang kalo gue punya kesempatan selalu pengen gue ulang, dan selalu pengen gue terpenjara di waktu itu.
Seminggu pertama PPL, gue beserta 11 rekankerja gue mahasiswa PPL yang lain masih melakukan observasi di setiap kelas dari kelas 1 sampai kelas 6.
SDN Purwantoro 8 Malang terletak di Jalan Nikel. Kalo lebih mudah akses gue, dari kosan gue kudu lewat Lapangan Rampal belok kiri sampai arah Belimbing. Ketemu lampu merah, kalo ke kiri ke arah Suber Sambal dan Pizza Hut Ciliwung, gue kudu masih lurus sekitar 50 meter dan belok kanan. Seperti biasa, kalo kulih gue butuh waktu 20 menitan, untuk berangkat ke sekolah gue juga perlu waktu kurang lebih segitu.

halaman SDN Purwantoro 8

Tapi perbedaan PPL dan kampus, beneran kentara banget gue rasain. Kalo kuliah jam 6 pagi guebaru bisa bangun, kalo PPL ini jam 6 gue kudu harus berangkat. Kontras kan? Iya, sekali lagi. Gue udah bukan mahasiswa labil lagi, melainkan sekarang udah kudu siap siap berancang ancang menjadi seorang guru Sekolah Dasar.

SDN Purwantoro 08 Malang memiliki kira kira 15 orang guru dan staff dengan 330 siswa yang terbagi menjadi 8 kelas, 2 kelas paralel di kelas 1 dan 5.
Dulu gue beneran tipikal orang, yang gak pernah bisa membaur dengan anak kecil.kalo berhadapan dengan anak usia SD paling Cuma gue tanya nama, kelas berapa, selebihnya.. habis perkaara.
Tapi PPL ini, gue mulai berasa perlahan lahan diri gue berubah. Diawali dengan berpikir bahwa, oh.. ini loh yang dikerjakan oleh ayah danibu gue setiap hari selama hampir lebih dari 20 tahun, oh.. gini rasanya capeknya oang tua gue selama bekerja di sekolah.

Nginget itu, gue gak kuasa nahan tangis.

evaluasi siswa segambreng.. banyak banget

Baru 3 jam berdiri dengan sepatu berhak tinggi, kaki gue udah pegel, kram dan udah stres gak ketulungan. Gue udah ngeluh ini itu.. ngeluh capek, gak kuat lagi dan siap angka tangan ke kamera. Padahal abis dari sekolah kalo gue gak ada kulih langsung pulang dan tidur.
Kebayang gak, ibu gue yang notabene sebagai seorang guru juga harus full time di sekolah dari jam 07.00 sampai pulang, belom lagi kalo harus rapat dan ngurusin hal lain. Sampe dirumah harus menyeleseikan pekerjaan rumah, masak, ngerjain ini itu. Itupun gue sebagai anaknya masih aja bandel gak mau bantuin. Kurang kurang ajar apa coba gue hah?
Di sekolah, selama 20 tahun ini udah berapa ratus siswa aja yang udah ayah dan ibu gue berikan ilmu, udah berapa peluh aja yang menetes dari dahi mereka, udah berapa kenangan yang mereka buat bersama siswa-siswa mereka.
Semua pikiran itu tiba tiba terbesit di otak gue, saat kemaren gue pertama kali melakukan praktek di kelas 5A. Dengan jumlah 40 anak, yang berbeda karakter, berbeda tingkat intelegensi, gue memberikan sesuatu yang baru untuk mereka, apa? Ilmu.
Betapa senengnya ayah dan ibu gue ketika siswa-siswanya lulus, ketika mereka dapat nilai bagus, ketika mereka paham penjelasan kita, ketika mereka bisa meraih cita cita mereka. Dan itu gue renungkan sekarang.
Gue gak pernah berpikir, bahwa gue akan sampai di titik ini, dimana ilmu yang gue peroleh selama hampir 14 tahun sekolah ini bisa berguna untuk orang lain,
Gue gak pernah berpikir, gue yang takut sama anak kecil atau dulunya bahkan cenderung menjauhi mereka, dihormati dengan cara mereka selalu nyapa gue kalo ketemu baik di kantin, di luar kelas ataupun di luar sekolah, dihargai dengan cara pada saat mereka rame di kelas, mendadak mereka akan diem saat gue suruh, disayangi dengan cara diajak main bersama mereka ketika istirahat walaupun gue gak tahu peraturan mainnya dan mereka senantiasa akan menjelaskan aturannya ke gue.
Kepolosan mereka saat ngajak gue main, ngajak gue salaman, nyapa gue di jalan, sampe pada saat ulangan dimana gue kembali melihat anak-anak susah payah menutupi lembar kerja mereka agar tidak dicontek teman yang lain, keseriusan mereka saat menjawab soal ulangan dan segala celoteh mereka.

manik manik sebagai media pembelajaran praktek pertama

Itu semua nyadarin gue, kalo saat gue di usia mereka... gue juga seperti itu. Lucu banget.
Pengalaman gue praktik mengajar pertama di kelas 5 A, juga kembali membuka memory gue pada saat gue seusia mereka, kelas 5 SD.  Setiap kali teringat masa Sekolah Dasar, akan muncul satu orng yang akan selalu muncul pertama kali di dalam otak gue. Dia, cinta pertama.. yag sampai saat inipun masih sukses membuat gue tersenyum sendiri saat mengingatnya.

Dan secara kebetulan atau sesuatu yang telah direncanakan Tuhan secara diam-diam, gue kembali seperti melihat dia lagi di sosok seorang murid gue di 5A. Secara tampilan fisik, hampir sama. Kurus, berkulit putih, tinggi, dengan rambut potongan pendek dan baju yang selalu rapi. Dia yang pendiam, pinter dan kritis bener-bener mirip dengan cinta pertama gue itu.  Dan secara gak sengaja, dia sukses bikin gue terkenang masa masa dulu, dimana dia yang bahkan pernah ngajarin gue naik sepeda waktu kecil, dia yang selalu jadi ketua kelas, dia yang selalu menulis dengan tulisan tegak bersambung yang rapi, dia yang selalu datang ke sekolah paling akhir sebelum bel tanda masuk berbunyi, dia yang pernah berusaha mati-matian buat minta maaf ke gue gara gara ngacuhin gue seharian, dia yang selalu jadi saingan gue untuk jadi rangking 1 tapi dia selalu ngalah walaupun gue beneran tau dialah yang lebih pantes jadi juara pertama, dia yang marahin gue karena gue gak menang pada saat lomba mata pelajaran sedangkan dia menang, dia yang pernah jadi partner gue menjadi siswa teladan di Kabupaten, dia yang lebih tua dari gue 3 hari, dia yang terlihat pendiam padahal aslinya sangat cerewet, dia yang mendadak jadi benci banget sama gue semenjak gue ditaksir kakak kelas, dia yang selalu membuat gue penasaran bagaimana keadaannya sekarang, dan dia yang sampai detik inipun masih sering banget masuk ke dalam mimpi gue. Beneran, yang teakhir, gue gak ngerti.
Hey, aku kangen kamu.


oke, nyelfie sukaesih dulu biar tambah semangat!

Hanya dengan sebuah tempat, mampu membuka ribuan memory gue yang gue kira udah gue lupain, tapi memory ini kembali terbuka sekarang.

Jumat, 15 Agustus 2014

Super KKN ( Kuliah Kerja Nyata )

Hello gaes.

Terhitung.. udah .. umm.. ngg.. udah lama banget pokoknya sejak postingan gue yang terakhir tentang pengalaman ulang tahun gue 2 bulan lalu. Dan gue belom sempet nulis lagi, sorry juga.. gue gak bermaksud buat ngelupain blog unyu ini. Sampe beberapa waktu lalu, gue keinget janji yang gue bikin tentang ceritapengalaman super duper waow gue selama KKN.



Mungkin bukan Cuma gue yang KKN nya merupakan pengalaman yang menarik, tapi gak banyak yang mau nge-review KKN mereka selama hampir 50 hari itu. Dan sekarang gue bakalan ceritain tapi bakalan gue kemas dalam bentuk cerita versi gue.


KKN adalah Kuliah Kerja Nyata, sebagian dari mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa di kampus gue. Meskipun sebenernya gak semua jurusan ikut. Karena ini juga masuk mata kuliah wajib dalam jurusan gue, maka jumlah SKSnya pun juga lumayan. 4 SKS.
Oke, singkat cerita. KKN hampir sejenis kaya BIG Brother kalo lo pernah nonton TV. 22 orang mahasiswa dari berbagai jurusan dikumpulin di satu desa selama 50 hari dengan deretan program kerja di desa yang kudu dilaksanain.
Ada 15 cewek, yaitu
Ferdina, Putri, Diah, Debrina, Ika, Maya, Fila, Pramisya, Fafa, Kamil, Iza, Sida, Ratna, Amel, dan Betty

Sementara cowoknya:
Dedy, Dani, Prima, Aziz, Riza, Syirul dan Bagus



KKN kami berlokasi di Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Letaknya sekitar 15 km dari Pusat Kota dan kurang lebih 4 km dari kampus gue. Tidak terlalu primitif, karena masih deket dengan SPBU, ATM dan Indomaret walaupun satu satunya di Sumberpasir.
Desa ini dibagi menjadi 4 dusun yaitu Kraja, Boto Putih, Ngrangin dan Gagakasinan. Rumah cewek dan cowokpun terpisah dusun. Mahasiswa cewek di dusun Krajan dan Mahasiswa Cowok di Dusun Gagakasinan yang sekaligus dijadikan tempat posko KKN kami. Desa Sumberpasir mayoritas
Seperti kehidupan biasanya, di awal- awal belom saling kenal. Gue Cuma kenal sama Ferdin yang notabene juga udah sohib gue  malem mingguan di Malang.
Rumah yang ditinggali para cewek cukup kecil untuk dihuni oleh 14 orang.


( lho? Kok 14 put? Yang satu kemana?)
Oh iya, sebelumnya gue belom cerita. Salah satu dari kami yaitu Betty atau yang sering kami sebut Mama Betty atau Mak sudah berkeluarga, bahkan udah punya seorang anak berusia 2 tahunan bernama Bintang yang cakep kaya mamanya. Jadi setiap hari Mama harus pulang-pergi dari posko ke rumahnya. Jam operasionalnya jam 08.00 sampe jam 15.00 diluar pelaksanaan program kerja.


Oke, balik ke awal cerita..
Rumah yang sempit, dengan 14 orang cewek, 2 kamar, tanpa dapur, dan satu kamarmandi awalnya sempet bikin kami was was sekaligus mikir keras gimana bisa satu kamar mandi bisa menujang kehidupan kami 50 harimendatang. Tapi yang namanya KKN, semuanya bisa. Iya, dibisa-bisain lebih tepatnya.
Diawal awal kehidupan, kami harus antri.. apa apa antri. Apalagi perkara kamar mandi. Mandi pagi merupakan problem terbesar dalam hidup kami. Siapa yang bangun duluan akan menjadi manusia yang dapat kehormatan mandi pertama, dan itu pukul 04.00 sodara sodara sekalian. Dan kebanyakan pada males buat jadi yang pertama. Gue? Gue yang unyu ini gak pernah jadi yang pertama tapi sering jadi yang terakhir.. haha. Langganan pertama biasanya adalan amel dan Debrina selebihnya nomer sekian.
Perkara tidur, berhubung rumah kami hanya punya 2 kamar kecil dan mengingat jumlah penghuni yang kaya pengungsi. Jadi kami putuskan untuk membagi 3 bagian untuk dijadikan tempat tidur. Kamar depan, kamar belakang dan ... ruang tamu.

Penghuni kamar depan adalah
IKA,PRAM, FILA, FAFA
( Cuma 4 orang karena di kamar ini barangnya bejibun)

Penghuni kamar belakang adalah
KAMIL, MAYA, IZA, SIDA, DIAH DAN RATNA
( muat 6 orang karena mereka pada kecil-kecil dan barangnya dikit dikit)
Sisanya?

FIX .. diruang tamu

DEBRINA, AMEL, FERDIN dan GUE ...


Meskipun kita tidur di ruang tamu, gak pernah sekalipun kami berasakan kesenjangan sosial, iri-irian kamar atau gimana. Karena manusia yang tidur diruang tamu menurut gue termasuk beruntung, karena ruang tamu paling luar dan paling ekstrim. Karenas ekaligus tidur dengan motor-motor. Iya, sekalian aja motor lu kelonin put. Yaa, maunya gitu emang. -___-


Dan sekian hari bersama sama cewek cewek ini, kami alhamdulillah banget gak pernah nemu-nemu konflik keras dan hampir bikin pecah. Satu kelucuan yang sampe sekarang masih kami terapkan adalah ngurutin tanggal lahir kami para cewek cewek dan manggil kakak untuk yang lebih tua. Urutannya gue gak inget bener, yang pasti FERDIN, GUE, DIAH, DEBRINA, IKA, FILA, MAYA sampai yang paling kecil SIDA.
Perkara makan, konsumsi.


Mungkin ini yang paling bisa diharepin dari sekian hal yang kami semua harus antri.
Di sebagian posko KKN di dunia mungkin mereka berusaha untuk masak makanan mereka sendiri, tapi berhubungan ketidak adaan dapur dan banyaknya faktor X lainnya termasuk faktor M... males, kami sepakat buat cathering untuk makan di Bu RT Gagakasinan yang rumahnya ditempati oleh mahasiswa cowok. Setiap hari kami makan 2 kali dengan lauk yang kami list sendiri tiap minggunya. Keuntungannya jelas, kami gak pernah kelaparan, kami gak perlu was was mikir mau-makan-apa-nanti pada saat proker berjalan, tapi faktor kelemahannya adaah duit keluar dompet deres banget. Iye, boros.. banget.
Tapi ya mau gimana, inilah HIDUP.. di KKN.


Di awal –awal yang kami masih sering banger makan bareng, seiring program kerja berjalan kami jadi makan pisah pisah dan gak saling nunggu yang lain.

Di awal-awal yang kami masih pada malu-malu buat duluan ambil nasi pas makan bareng, seiring program kerja berjalan kami juga harus mikirin siapa keluarga kami yang belum makan, lauk yang tersedia, jadwal piket yang berjalan dan semua yang harus kami tanggung bersama sama.


nemenin futsal anak cowok dan selalu menang hahaha

Satu hal yang sampe saat ini bikin gue senyum senyum sendiri saat inget itu yaitu..
Di suatu hari, setelah kami selesai kerja bakti persiapan program besar KRPL. Manusia ber 22 ini pada kelaparan setengah mati. Yang semula mikirin siapa-yang-belom-makan berubah menjadi ego gue-pokoknya-kudu-kenyang-sumpah-gue-laper-setengah-mati. Alhasil hanya 20 manusia yang berhasil mendapatkan nasi di piring unyu mereka masing-masing, sisanya Prima dan Syirul yang belakangan hadir hanya dapet tempat nasi kosong.
Disinilah solidaritas dan hati nurani kami semua terketuk. Karena miris sekaligus gak tega liat piring kosong mereka berdua, kami putuskan untuk membagi nasi yang sudah kami peroleh untuk bereka berdua. Barang satu sendok atau dua sendok kami sisihkan untuk Prima dan Syirul yang tidak berdaya. Hahaha..
Selain satu moment ini banyak banget moment moment menarik yang gak bisa gue lupain selama KKN dan selama program kerja.


Diantara 12 program kerja yang kami lakuin, kami harus tetep saling kerja sama, baik perkara internernal maupun eksternal diluar duit. Kalo duit diluar persoalan lagi..
1.    Program Kerja Ferdin Dan Bagus
PHBS sejenis kebiasaan hidup bersih untuk anak TK dan PAUD disana. Mulai dari gosok gigi, senam pagi sampek cuci tangan bersama.
2.    Program Kerja Ika dan Pram
Jumantik. Pelatihan Juru Pemantau Jentik untuk ibu Ibu PKK
3.    Program Kerja Gue dan Dedy
Penberdayaan Perpustakaan Sekolah Untuk Guru dan Siswa MINU Sumberpasir, serta tata cara administrasi perpustakaan.
4.    Program Kerja Iza dan Diah
Pengenalan perpustakaan mini untuk TK dan PAUD yang sama dengan Ferdin dan Bagus
5.    Program Kerja Kamil dan Ratna
Pemberdayaan Perpustakaan dan Sekolah untuk Guru dan Siswa SDN 02 Sumberpasir
6.    Program Kerja Dani dan Fila
Pemberdayaan dan pengenalan bahaya Narkotika untuk siswa SMKN 8 Muhammadiyah Pakis
7.    Program Kerja Aziz dan riza
Pembuatan dan pemberdayaan Blog Desa Sumberpasir
8.    ProgramKerja Debrina dan Betty
Pelatihan Dokter kecil untuk siswa MINU SUMberpasir
9.    Program Kerja Sida Dan Syirul
Pemberdayaan Dasawarga di Dusun Ngrangin Desa Sumberpasir
10. Program Kerja Amel dan Fafa
Pelatihan Administrasi kependudukan Dusun Ngrangin Desa Sumberpasir
11. Program Kerja Maya dan Prima
Senam lansia dan penyuluhan tanaman Toga untuk PKK Sumberpasir
12. Program kerja besar KRPL
Pemberdayaan Kawasan Ramah Pangan Lestari Sumberpasir

Dari semua program kerja kami, alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Program kerja inilah yang bisa bikin kita semakin dekat, akrab, dan kompak karena kami saling bantu mulai dari persiapan proker.

Misalnya, proker Maya dan Prima nih yang paling ekstrim. Proker mereka kudu berjalan 5 kali, beda sama yang lain yang sekali jalan langsung kelar.
Senam pagi lansia setiap kamis dan Minggu pagi. Dan itupun dimulai pukul 05.00 pemirsa, disaat selimut lagi manja-manjanya gak pengen dilepas. Kami semua harus ikut, tanpa terkecuali, antri sholat, antri mandi dan bareng-bareng buat senam.



Program kerja Debrina yang awalnya ada narasumber, yaitu salah satu temen gue tapi mendadak ngebatalin karena sakit. Kami semua kudu nge-handle langsung acara debrina tentang pelatihan dokter kecil ini dari awal sampai akhir.

Program kerja gue, yang semula oke fine dan siap goo.. mendadak acara dimajuin karena narasumber gabisa dan LCD yang dipake gak bisa nyala.  Gue Cuma bilang ke Syirul kalo gue butuh banyak bantuan laptop langsung dibawain semua laptop yang ada di posko buat tampilan slide power point peserta.
Program kerja besar KRPL yang ngeharusin kami menanam 1000 pohon cabe. Bibit dan tanah yang dibawa Kapten (dani), bagus, Pram, Dedi dan Mama dari Wajak kami serbu satu pick up sama sama dan berhasil selesei sebelum sore. Gilak, amazing! Amazing juga capeknya..


Gak bakalan cukup gu ketik semua pengalaman indah dan kenangan indah yang kami lalui bersama selama KKN di Desa Sumberpasir ini. Semua yang kami alami bersama, lelah, senang, kenyang dan laparsampek ngerayain ulang tahun 6 orang  bersama membuat kami tanpa sadar membentuk sebuah keluarga baru. Keluarga yang lengkap, karena selalu ada canda tawa, tangis dan kebahagiaan yang mengiringi.
Mungkin kalau kami ingin berterima kasih, kepada bapak ketua LP3M lah kami seharusnya mengatakannya. Karena ALLAH, lewat tangan beliau kami dipertemukan, kami dipersatukan, kami dibentuk menjadi keluarga. Dan bener kata beliau, diluar dari KKN ( yang hanya berisi Kisah Kasih Nyata) kami menemukan orang baru. Di masa masa kenal, kami serasa gak betah dan pengen cepet cepet udahan ngejalanin KKN ini, tapi udah mulai deket deketnya.. akrab-akrabnya, kompak-kompaknya.. mendadak dipaksa dipisahin. Dan itu bener bener nyakitin..




 

Beautiful Days Template by Ipietoon Cute Blog Design