Tampilkan postingan dengan label Keren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keren. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

[ Review ] Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dari HomeTesterClub


Hallo guys! Jadi sekitar satu minggu yang lalu aku dapat kiriman istimewa dari @hometesterclub (Instagram) sebuah produk kecantikan untuk di review di rumah. Produk yang dikirim oleh @hometesterclub adalah Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dan Sun Dullness Removal Facial Scrub

Ponds adalah produk yang kerap muncul di iklan televisi, sehingga kita sudah tidak asing lagi dengan produknya. Sebenarnya aku udah pake Ponds dari masa SMA. Awalnya Ibu yang pake Ponds duluan dan aku ikutan coba coba juga.
Sekarang mereka mengelurkan produk terbaru bernama Ponds White Beauty Spot Less Rosy White Daily Facial Foam dan Sun Dullness Removal Facial Scrub. Produk ini memiliki klaim baru bahwa dapat membuat wajah putih merona serta menyamarkan noda hitam dalam 2 minggu.
Sebelumnya aku ngucapin makasih banget buat @hometesterclub dan Kak Anna yang udah memberikan kesempatan buat mencoba produk ini di rumah. Nah, untuk review lengkapnya silahkan langsung disimak aja yaah! 😊

Minggu, 11 Maret 2018

Yukcobain Kosmetik Gratis [ Review Sariayu Putih Langsat Facial Scrub]

Assalamu Alaikum,


Hey cewek-cewek, siapa yang mau kosmetik gratis? Haha
Wanita mana sih yang gak mau diberi kosmetik gratis dan worth it juga. Nah, semuanya bermula dari iseng-iseng daftar jadi member website yukcoba.in. awalnya belum ngeh, ini website untuk apa. Dan ternyataaa, yukcoba in adalah salah satu website yang memungkinkan penggunanya untuk mendapat sebuah produk secara gratis untuk dicoba di rumah dan direview sesuai dengan apa yang kita rasain.
Begitu jadi member, mata saya langsung tertuju pada rangkaian produk kosmetik yang saat itu sedang ditawarkan, salah satunya adalah Sariayu Putih Langsat Facial Scrub. Setelah memilih produk, apabila kita berniat untuk menjadi salah satu reviewer kita harus mengisi beberapa syarat dari yukcoba.in. apabila kita beruntung, member yang terpilih bakalan dikabari lewat email. Nah, kita tinggal mengkonfirmasi deh kalo kita bersedia mereview, selanjutnya tinggal nunggu mas-mas ganteng ngetuk pintu rumah bawa produk yang bakalan di review. Hehehe, seru kan.
Sariayu Putih Langsat Facial Scrub merupakan produk pertama yang saya dapat dari yukcoba.in, lanjut ke reviewnya aja ya ladies, silahkan di simak!

Selasa, 08 September 2015

MANUSIA PASCA SARJANA

MANUSIA PASCA SARJANA

Long time no see..
Sejak postingan terakhir. Bulan Februari 2015
Dan sekarang sudah bulan September. Dan selama itu sudah banyak banget kejadian yang sebenernya pengen diceritain disini, tapi lupa, tapi gak sempet dan akhirnya sekarang kesampaian.
Seneng. Banget

Kesampaian cerita, walaupun gak berharap juga dibaca banyak orang.
Semenjak seminar proposal, hidup gue terus berjalan sampai dengan penelitian skripsi dan menulis laporan akhir. Perjalanan hidup gue sebagai pejuang skripsi menuju ujian skripsi sama beratnya seperti perjuangan gue memperjuangkan seminar proposal skripsi.



Kudu bolak balik ngolah data, jejerin tabel pemaparan data, analisis data dan menarik kesimpulan sampai dengan pengujian kesabaran oleh dosbing yang super gemesin seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya, angkat media sana sini, perjuangan bolak balik anter media ke kosan-sekolah-balik ke kampus sampai akhirnya berakhir dengan nilai A dan lulus menjadi sarjana dengan IPK 3,70.
Gue beneran nangis abis sidang skripsi itu. Tanpa sadar setiap detik perjuangan gue, kalang kabut, capek gue seperti diputar kaya video dokumenter tanpa sutradara yang otomatis berjalan ala timelapse di pikiran gue sukses bikin gue mewek.


Gue gak nyangka, kalo gue bisa lulus bareng temen temen SWASH gue. Gue hampir depresi dan ogah garap skripsi lagi sakit buntunya otak gue gegara dosbing gue yang satu itu. Tapi makin kesini gue makin sadar kalo gue beneran diuji dan skripsi gue beneran punya banyak andil besar dalam perubahan pikir gue selama ini.


Gue juga belom sempet ceria kalo selepas ujian skripsi, gue ditawarin ngajar di SDN Purwantoro 8, tempat gue PPL yang pernah gue posting juga di blog.
Gue yang semula ogah jadi guru, makin kesini gue makin ngerasa kalo ini emang tempat gue. Disinilah tempat gue seharusnya berada.
 
saya selalu yag antimainstrem :D
Jika kamu senang melihat mata anak-anak berbinar saat mereka memahami sesuatu, maka kamu cocok untuk berada di dalam kelas – AYAH

Hidup gue rasanya berjalan begitu cepat setelah ujian dan yudisium, sampai akhirnya gue mikir kembali hal apa yang mesti gue lakuin ke depannya, sementara ayah dan ibu gue pengen gue pulang saat gue udah lulus. Beliau berdua pengen gue jadi guru atau paling gak bekerja di Ponorogo. Sementara dalam hati kecil gue, gue belom siap untuk kembali. Gue gak pengen mengulangi sejarah. Gue gak pengen kembali ke ponorogo dan bekerja di Ponorogo hanya karena dasar nama belakang ayah, bukan karena kemampuan gue sendiri. Dan gue negesin ke diri gue sendiri kalo gue gak mau kayak gitu,

Sebuah ide muncul. Sebuah petunjuk akhirnya nuntun gue ke sebuah jalan.

Daftar S2.

Jalan yang selama ini tak pernah terbesit sedikitpun di dalam benak gue. Otak gue yang selama ini penuh dengan pengharapan kalo setelah kuliah gue baalan ikut SM3T akhirnya kandas karena berbagai faktor eksternal dan internal.
Ayah dan ibu adalah faktor utama pendorong buat gue daftar dan bersedia ikut tes di S2 itu. Gue bukannya gak mau, gue juga lillahi ta’ala kok daftarnya. Tapi gue gak 100% yakin kalo gue bakalan keterima. Dari awal prinsip gue simple. Kalo gue diterima, berarti itu emang jalan gue dengan segala konsekuensi dan keterbatasan gue, sementara kalo gue ga diterima itu artinya itu bukan jalan gue, dan gue yakin Tuhan bakalan nyiapin jalan lain yang lebih baik.

Wallahu alam.
Mukjizzat sekali lagi seperti terjadi pada diri gue dan keluarga gue. Tepat 2 hari sebelum hari raya Idul Fitri, gue mendapat kabar gembira untuk keluarga gue dan untuk diri gue sendiri tentunya. Gue diterima S2, di UM lagi.

Masuk S2 bagai mambuka skemata gue. Mengajarkan kalo selama S1 ini belom banyak ilmu yang gue dapet walaupun gue udah belajar selama empat tahun dengan segala jerih payahnya.


S2 bukanlah S1 yang ditempuh kedua – Prof. Imam Agus
Realize how blessed you are!
Kalimat itu yang selama ini menjadi pelecut semangat gue kalo gue males malesan belajar di program sekolah baru gue. Berapa puluh orang aja yang kecewa dan gak bisa diterima di S2 ini harus berjuang kembali demi cita-cita yang mereka impikan, sementara gue yang udah keterima masih mau enak-enakan dan santai santai. NO way, sekarang bukan waktunya untuk itu.
Gue tahu, dan gue sadar semakin tinggi jenjang pendidikan kita semakin tinggi juga ilmu yang harus kita gapai. Dan semakin tinggi pendidikan kita, kita harus membuktikan bahwa orang yang berpendidika harus bertinda sesua dengan tingkat pendidikannya.


Sudah hampir sebulan gue masuk pasca sarjana. Banyak hal baru yang gue temuin. Banyak pengalaman baru yang gue rasan sekarang ini. Mulai dari berteman dengan manusia manusia baru dari seluruh Indonesia dengan ragaman budaya dan bahasa yang berbeda, dengan pandangan hdup yang berbeda dan dengan cerita hidup yang berbeda yang kemudian bersatu menjadi sebuah keluarga baru di OFF A DIKDAS UM 2015. Gue, merinta, fifin, kiki, titis,mbak Indah, adib, mbak Agustin dan Bagus dari UM, Mas Candra, Mbak Feni, Nindi dari Universitas Jember, mbak Listi, Mbak Nia dan Feri dari UMM Malang, Mas Maxcel dan Mas Adam dari Kupang, mbak Desi dari Kalimantan dan Mbak Reni dari Makasar. Kalo dulu S1 temen temen gue Cuma berkutat dari Jatim, sekarang kami bisa saling berbagi pengalaman lebih luas dengan orang-orang yang memiliki karakter dan keunikan mereka.
Gue juga heran kalo semeter ni gue bertemu dengan etnis yang sangat beragaman selain dari temen temen sekelas. Gue sekarang juga ngajari private les seorang anak bernama Stefani kelas 5 di sebuah SD di Kota Malang. Stefani adalah seorang anak keturunan Tionghoa dengan agama Budha. Nama China nya kalo di rumah adalah Feling. Lucu ya, dia juga cantik dan pinter.



Dan kemarin, satu moment penting lagi terjadi.
WISUDA.
Akhirnya adek jadi sarjana bang! *lap ingus*
Minggu, 6 Septermber 2015.
Akhirnya seorang Putri Yunisda mawarni memakai toga, naik podium dan bersalaman dengan rektor untuk pertama kalinya dalam  4 tahun ribet kuliah. Oh men! Its so awesome moment, walaupun ribet in itu kesana sini. Tapi alhamdulillah lancar acaranya.
Walaupun belum bisa didampingi oleh PW (pendamping wisuda) dan masih didampingi orang tua, tapi itulah rasa syukur yang paling besar bagi gue, di hari penobatan wisuda gue, kedua orang tua gue masih bisa melihat gue secara langsung, berada di dalam gedung yang sama dengan gue, melihat gue naik podium, di geser tali toganya oleh rektor dan dengan senyum bahagia berfoto bersama seperti yang lain.

walaupun gue merem, gue bisa liat jelas kebahagian gue hari itu

THANK GOD!
Akhirnya, seorang putri yunisda berhasil memberikan sedikit kebahagiaan untuk kedua orang tuanya, walaupun sebenarnya perjalanan gue masih panjang dan cita-cita gue masih belom bisa gue raih sepenuhnya untuk membahagiakan mereka.


Terima kasih banyak untuk kedua orang tua, ayah, ibu, adek, nenek, mas Rifin, mas Kiki, Mas Bagas, Rofiq, Setyo, temen temen SMA mulai dari Ferdhin, Simuz, Giri, Redha,sampai dengan mbak Anes yang jauh jauh rela ngirim buket bunga dan coklat, buat semua ucapan yang diberikan teman teman dan rekan rekan, dan untuk teman teman seperjuangan pasca sarjana DIKDAS OFF A 2015 untuk surprise bagi kami yang sedang wisuda.
Penghargaan yang luar biasa. Kebahagiaan yang amat sangat tidak bisa dinilai harganya. Dan sangat bersyukur bahwa gue masih bisa memberikan dan berbagi kebahagiaan di tengah tengah mereka semua.

Dan mulai sekarang, lembaran hidup baru dimulai.
Hidup yang lebih nyata, hidup yang akan menuntun seorang putri yunisda berusaha lebih keras meraih cita-cita.


Kamis, 19 Februari 2015

SEBUAH HASIL, TAK AKAN HIANATI PROSESNYA


Hello.
Sebenernya udah lama banget pengen nulis cerita ini. Udah dari kemaren kemaren malah. Tapi gue, nahan diri. Sampai waktunya tepat. Dan malam ini adalah waktu yang paling pas.

Bingung.
Mau mulai ceritanya dari mana. Soalnya banyak banget yang pengen gue ceritain.

Umm..
Oke, gue udah nemu titik awalnya.
SEMINAR SKRIPSI.


Di jurusan gue lagi ngehits banget Seminar Proposal Skripsi mulai dari akhir bulan Januari kemaren. Seminar proposal itu, adalah titik tengah dimana perjalanan skripsi kami berjalan. Dari awal Januari yang udah mulai serius mantengin laptop tiap hari, nenteng kemasa kemari, ke perpustakaan sampek hafal tempat yang cozy buat nyekripsi dan nyari inspirasi.

KEJAR TARGET.
Sebelum tanggal 19 Februari 2015, gue sama keenam temen gue harusudah selesei semua seminar skripsinya.

Gue emang selalu ngomong dan mikir kalau skripsi itu perjuangan. Dan selama Februari ini gue bener bener udah jadi pejuang sejati.
Dari akhir Januari lalu, dosen pembimbing pertama gue udah ngasih lampu hijau buat gue dan Rima untuk seminar. Kami yang notabene belum berani minta seminar malah ditodong untuk segera cepet cepet seminar. Seneng? Pasti. Tapi senengnya gue harus gue bayar mahal.



Setelah dosen pertama ACC seminar gue dengan bekal 2 tanda tangan di kertas seminar, gue harus nyari 2 tanda tangan lagi. Tanda tangan dosen kedua dan dosen satgas, yang nanti bakalan nguji di seminar.

Selama hampir 2 minggu gue gencr, nelponon, nemuin dan ngeja-ngejar dosbin kedua gue. Minggu pertama hari jumat gue inget banget, kalau gue suruh revisi ini itu. Oke fix. Gue nurut, gue lakuin apa yang disarankan. Sekembalinya gue konsul ke dua, gue dites tentang skripsi gue. Gue serasa seminar 4 mata sama beliau. Oke, gue jabanin. Konsul ke tiga. Beliau minta gue untuk menunjukkan cara kerja media gue, yang notabene media gue itu barang fisik berupa kotak papan kayu gede isinya gambar. Oke, gue turutin. Mulai dari jam 8 pagi sampe jam 12 siang gue minta bantuan Diyud (temen gue yang kece) buat vidioin gueyang udah kaya mbak mbak sales jualan sales seharian belom laku, getol mempengaruhi konsumen. Jam setengah satu siangnya gue konsul lagi bawa videonya. Belum cukup sampai disitu, gue masih harus berjuang lagi. Apa? Perbaiki draft lagi.

Terhitung dua minggu gue ngejar, terhitung pula 6 kali gue konsul. Setiap hari gue serasa kaya orang linglung, bingung mau gimana, udah mau nyerah aja, udah mau pulang aja ngurusin kambing apa ayam dirumah. Sampai temen temen gue, tahu banget kalo gue depresi berat. Mereka selalu ngajakin gue jalan nongkrong kesana kemari dan intinya gue gak boleh sendirian. Padahal kau balik lagi ke kosan gue udah balik lagi jadi zombie.

Sampai pada titik itu. Gue udah nangis tiap hari. Nangis sendirian. Sampai kamar gue di kosan jadi saksi kegalauan gue, kekalutan gue, kestresan gue, dan ke-depresian gue.

Yang bikin gue makin kaya orang gak waras adalah satu persatu temen temen gue udah mau seminar semua. Dan gue KAPAAAAAAANNNN?

Inilah titik terberat gue selama 22 tahun jadi anak. Gue ngerasa, gue bukan anak yang baik buat orang tua gue. Gue Cuma bisanya minta uang mulu, ngeluh mulu sementara itu gue gak pernah bikin mereka bangga. Saking gak berhasilnya buat ACC seminar, gue gak berani baca Wasap dari emak, angkat telepon dari Bapak. Karena apa? Gue pasti bakalan nangis kejer kalo mereka nanya.. GIMANAA? SUDAH ACC SEMINARNYA?

Tapi, untungnya.
Tuhan sayang banget sama gue. Tuhan yang ngasih pengertian ke orang tua gue. Setiap kali wasap atau sms, bapak ibuk selalu bilang
“SEMANGAT YA, JANGAN NYERAH.. JANGAN PATAH SEMANGAT. KAMU PASTI BISA KOK!”

Anak macam apa yang gak terharu diberikan dukungan moril sedemiian dahsyatnya? Hah? ANAK MACAM APA?

Ditambah lagi, yang pernah gue upload di instagram, dukung moril dan semangat dari temen temen yang gue sayangin. Temen temen yang selalu kasih gue kepercayaan kalo gue bisa, kalo gue gak boleh nyerah, dan sampai sampai mereka bersedia ikut gue bimbingan bareng pas gue nemuin dosbing kedua.

APA ADA ALASAH LAGI BUAT GUE UNTUK MENYERAH?
Sementara doa, dukungan dan semangat mereka buat gue begitu besar?

Kamis malam, tanggal 12 Februari kemaren. Doa gue ke Tuhan memang beda dari yang sebelum sebelumnya. Sebelumnya gue sadar kalau gue terlalu memaksakan kehendak, gue selalu pengen ngejar apa yang gue pengen tanpa tau apa yang terbaik untuk gue.

Malam itu gue berdoa, kalau memang Jumat 13 Februati 2015 Tuhan sudah mengijinkan gue seminar, gue seminar. Tapi kalau Tuhan masih memintaku untuk berjuang kembali, gue bakalan berjuang yang labih keras lagi.


Dari situ, gue ngerasa kalo perlahan gue jadi orang yang beda sekarang. Tahan banting! karena kondisi ini gue dipaksa menjadi orang yang berada jauh diluar batas zona nyaman. gue dipaksa bangun kembali setelah beberapa kali terjatuh.
Gue udah terbiasa menunggu, udah terbiasa ditolak, udah terbiasa dipermaluin di depan mahasiswa lain di tepat umum, udah terbiasa dihujat, di bingungkan ini itu. Dan sekarang semangat gue makin parah, besar banget. Karena gak ada lagi alasan gue buat nyerah. Gue bakalan kejar terus sampai dapet ACC nya. Gue bakalan buktikan kalau gue bisa, gue mampu dan gue gak akan nyerah.

Sampai akhirnya Jumat pagi itupun datang. Gue janjian konsul jam 7 pagi. Lo tahu gue dateng jam berapa? Setengah tujuh. Seumur umur gue jadi mahasiswa gak pernah gue dateng sepagi itu, petugas kebersihannya aja masih sibuk nyapu sementara gue di pos satpam Cuma nunggu, diem sendirian sambil sesekali nguap karena ngantuk parah.

Beliau dateng langsung gue cegat. Gue salamin, gue kasih revisian yang kemarin diminta dan catatan revisian kemarin. Dalam hati, gak munafik gue takut, gue takut ditolak lagi untuk kesekian kalinya. Tapi doa gue balik lagi, kalo waktu gue seminar emang udah tiba gue bakalan dapet tanda tangan hari ini tapi kalo belum. Gue harus berjuang lagi.

Hari itu gue gak banyak bicara, fokus gue Cuma berdoa. Berdoa untuk menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Sampai pada akhirnya beliau “kalau begitu mana kertas ACC nya?”

Gue sempet cengo beberapa saat. Gue menatap beliau dengan tatapan “ini gak mimpi kan?”
Perlahan gue yang masih setengah gak percaya, ngeluarin lembar ACC seminar menyerahkan pada beliau dengan anggun, mengamati tiap goresan tanda  tangan dengan bolpion warna oranye dan memandang bolpoin oranye itu dengan pandangan "kamu jadi saksi keberhasilanku menembus seminar proposal!”

Setelah tanda tangan, beliau nyalamin gue sambil berkata “semoga berhasil ya mbak, sampai ketemu di seminar”

Berpisah dengan beliau gue menuju parkiran yang sepi. Kalian tahu apa yang gue lakuin? Jingkrak jingkrak, goyang dombret, goyang dumang segala macemnya saking gue gak percaya kalo gue berhsil dapet tanda tangan beliau hari ini.

Perjuangan gue selama 2 minggu seolah olah mendadak flashback di pikiran gue, mulai dari gue nunggu 2 jam, gue ngeprint materi buat simulasi video ala sales, stres di kamar kosan dengan ngomong sama tembok akhirnya terbayar hari itu.
Dan orang pertama yang gue sms adalah dosen pembimbing pertama gue yang lagi ada di Blitar. Beliau biasanya gak pernah bales sms gue kurang dari sejam, tapi hari itu kurang dari 3 menit sms gue udah dibales. Beliau segera menyarankan gue buat daftar seminar dan menyiapkan semua untuk keperluan seminar.

Setelah itu gue ke kosnya Ratna, laper. Minta makan. Di sana gue nelpon bapak dan ibu kalu gue udah berhasil ACC seminar. Kalian tau apa yang terjadi, di moment momentmengharuskan seperti itu, Ratnalah yang nangis bukan gue. Saking senengnya gue sampek gak bisa nangis, seneeeeeeeng banget.

Gue udah buktiin kalo gue bisa. Semakin beliau meminta ini itu, gue bakalan penui dengan segera dan kejar lagi. Gue gak pengen nunggu lama, gue selalu inisiatip konsul. Karena gue kejar target juga.

Sementara temen temen yang dosbingnya sama dengan dosbing kedua gue, terus gue semangatin gue motivasiin dan gue dukung mereka supaya mereka bisa segera seminar juga. Perjalanan kalian untuk meluluhkan hati dosbing ini tidak mudah kawan. Perlu tenaga ekstra dan penuh perjuangan.



Dan hari ini tiba. Tepat di hari seminar gue.
Banyak ucapan selamat, ucapan semangat, doa dan dukungan dari orang tua, keluarga dansahabat sahabat tersayang yang bikin seminar ini bisa berjalan dengan lancar.
Secara keseluruhan berjalan lancar walaupun waktunya mundur satu setengah jam karena dosen satgas masih ada keperluan lain di kampus.

Dan malem ini, gue ngumpul sama SWASH lagi. Becanda becanda lagi, makan bareng lagi, ngemil bareng lagi, bully bullyan lagi. Dan tradisi barutercipta. Kalau kita lagi quality time, sluruh gadget harus dikumpulkan di tengah meja dan kita fokus ngobrol, bukan malah sibuk dengan gadget sendiri.

Sampai akhrinya gue sadar banget, bahwa peran mereka semua penting banget buat gue selama ini. Mereka adalah orang orang terdekat yang bakalan siaga dan stand by ngebantuin gue selama kuliah.

Mulai dari KRS an, mereka semua udah pada hafal NIM dan pasword siakad masing-masing, mereka juga yang KRS in gue semester ini sementara gue gak ada sinyal dan paketan di rumah, mereka yang rela gue repotin soal ini itu, mereka yang bersedia jadi sandaran gue disaat dua minggu ini gue stres, mereka yang selalu punya inisiatif untuk bikin surprise, mereka yang selalu mau dengerin curhatan, mereka yang selalu mengisi canda tawa gue yang sekarang ini serasa sebatang kara di kosan, mereka yang selalu nyambangin gue ke kosan bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mereka yang ngerawat gue pas gue sakit, mereka yang rela malem malem bawain gue bubur saat gue sakit, mereka yang rela nemenin gue konsultasi dua minggu ini, mereka yang rela gue ribetin di seminar gue hari ini.

Dan hari ini, kami bertujuh telah mencapai target pertama SKRIPSI kami.
Rima, Ratna, Nova, Merinta, Febby, Ary dan Putri
Akhirnya menyeleseikan seminar skripsi sesuai dengan target kami.

Ngumpul malem ini, nyadarin gue sesuatu kalau kebersamaan kami yang erat ini tinggal 7 bulan lagi terhitung setelah kami wisuda.  Siapa yang nyangka 4 tahun berlalu dengan cepat, setelah ini kami akan berjuang sidang skripsi dan selfie pake toga bareng. Amin


Gue nemuin, kata kata bagus andalan dari mereka berenam

Gue gak perlu  khawatir apa-apa, gue gak perlu dukungan orang lain, gue cuma perlu dukungan SWASH – Ratna

Selama ini gue sibuk nyari temen yang bisa gue ajakin gila, dan kalian (SWASH) lebih dari sekedar gila – Rima

Gue selalu berdoa agar temen temen (SWASH) gue sukses semua.dan gue juga berdoa kalo gue bisa sukses sama seperti kalian – Febby

Gue selalu jadi bahan bullyan ampuh buat kalian. Tapi, yang membuat persahabatan kita gak boring adalah pembullyan itu – Merinta

Gue sadar kalo gue bisa ngelakuin hal hal antimainstream yang gak pernah gue pikirkan saat gue sama kalian (SWASH) – Ary

Persahabatan itu penekanan, penekanan dari semua keegoisan. Persahabatan itu bukan tentang siapa dan apa, tapi tentang bagaimana kita? – Nova

Kita ini alay. Sampai-sampai kealay-an kita membuat orang lain sirik- Putri.


Senin, 12 Januari 2015

TIDAK 100 %



 HALLO.
Rasanya lama banget gak ngintip blog sendiri sejak postingan terakhir. Oiya, sebelumnya. Selamat tahun baru 2015 yaa.. yuhuuu *tebar konveti*. Semoga di tahun yang baru ini menjadikan kita orang –orang yang lebih baru lagi, lebih baik di segala bidang dan sukses maksimal. dan segala resolusi kalian baik resolusi baru maupun nerusin resolusi di tahun kemaren yang belum kelar bisa selesei tahun ini.
Dan gue? Harapan gue simple. Skripsi lancar-wisuda-lulus.

AMIN YA ALLAH
Ayo penonton aminin bareng bareng..
AMIIIINNN...
*manggut manggut puas* makasih ya *kecup satu-satu*



Akhir-akhir ini, gara-gara kebanyakan mikir skripsi atau mikir jodoh, otak gue agak geser kayaknya, mata gue agak meleng dan segala gejala-gejala aneh yang nimpa mahasiswa tingkat akhir.
Bukan sekali dua kali, tapi beberapa kali dan itu di depan umum. Bisa tau sendirikan gimana malunya kalo lo ngerjain sesuatu hal yang absurd di depan kalayak rame. Iya, simplenya diketawain, dikatain atau ditimpukin.
Kejadian pertama adalah saat gue dan temen temen gue berniat lillahi ta’ala buat nontonfilm Supernova. Wiihii.. udah keren banget gak tuh, gue bakalan nonton film yang ngehits banget. Gue inget banget, hari itu hari Kamis, karena ada salah satu temen gue yang puasa. Berhubung jadwal nontonya abis magrib agak menjurus ke isya’ gue, yang notabene adalah seorang sohib yang care, yang peduli, yang setia, yang pengertian gak bakalan ngebiarin temen gue lemes karena kelaperan telat buka puasa. Nah, gue inisiatip. Inisiatip sendiri sih, bawain dia camilan, berupa apa?  Kacang polong ijo, yang ... yang gurih, enak, kriuk, yang ... gratis. Dan gue emang tau banget kalo ini adalah jajanan favorit.


Berangkat ke TKP, gue cuma berdua sama temen gue, karena janjiannya berempat kami berdua beli tiket duluan dan nunggu 2 orang lagi di depan pintu masuk. Di depan pintu masuknya mas-masnya udah getol banget bilang “mbak, filnya udah mulai loh, nanti ketinggalan loh...” pokoknya banyak omong banget kaya sales baru. Gue mah senyumin aja, gak juga pengen jelasin kenapa alesan gue masih duduk santai di depan pintu.
Barang 10 menit disitu, gue sama temen gue beneran gak melakukan hal mencurigakan apapun, beneran sumpah. Beberapa orang lain yang nonton juga dipersilahkan masuk dengan baik, disenyumin tapi begitu temen gue yang 2 orang itu dateng kami yangberniat masuk ke dalam studio mendadak dicegat oleh mas-mas yang beda.
“Mbak, maaf.. diperiksa dulu tasnya!”, kata mas-mas yang satunya, bukan yang cerewet kaya sales baru tadi.

Kami berempatpun tanpa babibu langsung buka tas, dan terakhir gue. Di detik-detik akhir tas gue mau dibuka gue baru sadar kalo-gue-ternyata-bawa-kacang-polong-ijo-gak-berdosa-itu. Seketika pengen aja gue freeze time pake kekuatan bulannya sailor moon tapi gak mempan, pake sihir Harry Potter buat ubah kacangpolong jadi sebatang sisir juga gak bisa mantranya, alhasil kepergok. SKAK MAT!

“Mbak, maaf kacang polongnya gak boleh dibawa masuk!”, kata masnya setengah melotot nahan kesel sambil ngankat tinggi kacang polong ijo gue yang gak berdosa.

Gue langsung pasang tampang bloon. Itu polong siapa? Siapa yang masukin itu kacang jahanam itu di tas gue? Gue ini siapa? Gue anak siapaaaa?

“jadi?”, gue masih pura-pura bego
“dititipkan aja mbak, di lokernya..”, masnya masih berusaha nahan senyum apa nahan pipis gue gak tahu.

Gue Cuma ngangguk pelan, pasrah nerima lirikan mata mas-mas sales tadi, mbak-mbak penjual pepsi dan popcorn dan keenam mata temen gue.
“Nanti bisa diambil lagi setelah selesei ya mbak..”

Belum juga sempet ngangguk pasrah lagi, temen temen gue udah nyeret tangan gue masuk, antara nahan malu, pengen nyelamatin gue dan ketinggalan filmnya lebih jauh.
Begitu nemu kursi, filmnya udah mulai. Tapi gue masih cengo. Masih berusaha nata muka yang udah kecabik-cabik di pintu studio depan. Sementara temen temen gue, ngakak-in gue. Puas lah mereka. Tengsinlah gue!

Kebegoan gue udah selesei? Belom sodara-sodara tenang aja. Kalian masih saya biarkan membaca lebih jauh aib saya.

Setelah nonton film, kami keluar dari studio menggunakan pintu yang telah disediakan. Sekali lagi gue keinget masa lalu, iya. Keinget kacang polong ijo yang nasibnya masih di dalam loker sinema 21. Gak relalah gue, snack enak gue ditinggalin di sana, keenakan masnya lah.. udah nertawain gue, dapet bonus makan jajanan gue pula. *kibas poni*

Gue berniat ngambil lagi itu kacang unyu, dan temen temen gue ngikutin gue di belakang. Berhubung pintu keluarnya menuju langsung ke luar sinema21 jadi gue kudu masuk lagi ke dalam buat ambil lokernya. Begitu keluar studio, dih buset. Sekelilingnya banyak banget anak-anak yang juga pengen nonton film midnight. Gue berjalan menuju pintu kaca sinema21. Gue pegang salah satu gagang pintunya dan berniat lilahi ta’ala buat masuk. Tapi, semesta menghalangi gue. Bukan, pintunya gak-bisa-dibuka.

Beberapa kali dalam diam gue terus pengen narik itu pintu tapi gak bisa juga dibuka, sampai akhirnya satpam yang baik berinisiatip buat bukain pintu kaca sebelah dengan menarik pintunya.



“Mbak, pintunya didorong, bukan ditarik..”, kata mas-mas satpamnya alus tapi JLEB sakit.

OMAIGAT! BEGO! Kenapa pintu diem dengan tulisan DORONG malah gue TARIK ya TUHAN?

Ditambah lagi, temen gue yang dari tadi udah berusaha nyadarin gue kalo gue buka pintu dengan cara yang salah gak kuasa nahan tawa. Beberapa anak yang photo selfie dengan temen-temennya yang juga niatan mau nonton gue ngakak puas liat gue.
Gue udah pengen banget nangis saking malu-bego-gak tahu diri.
Keluar dari mall, temen temen gue udah pecah ngakak guling guling gak bisa nahan tawa mereka.

“Awakmu koyoke dino iki gak100 % deh put. Awakmu gak popo a?”

translate:
"Lo kayaknya hari ini gak 100% deh put. Lo gapapa kan?"

Bener. Dugaan gue abis kejadian ini gue jadi bahan bullyan perkara pintu. Mau masuk indomaret, alfamart sampe tempat karaokean gue pake acara ritual keramat di depan pintu kacanya disuruh baca tulisan di deket gagang pintunya dan mikir apa hal yang bener-bener gue lakuin. Oke, thanks lo guys kalian kok perhatian banget.

Kalian yang baca ini ketawa gak? Kalo ngetawain gue berarti kalian hidup sehat beberapa tahun ke depan. Buat yang gak ketawa, gue jamin kalian pasti pernahbernasib sama kayak gue. Jadi sekarang giliran gue yang ngetawain kalian.. HAHAHAHA !

Banyak banget hal-hal yang nyadarin kalo gue gak 100 %. Satu diantaranya udah gue ceritain, ada satu lagi kejadiannya. Di perpustakaan.
Lokasi kuliah gue sekarang pindah, ke perpus. Haha buat apaan? Nyari bahan skripsian. Gue udah nyangka kalo hari-hari biasa pasti bakalan rame banget, nyulap persepsi perpustakaan yang sepi kaya kuburan cina berubah jadi pasar besar dengan diskon 80%. That’s right!



Hari itu hari sabtu, gue pagi-pagi berangkat ke perpustakaan pusat kampus. Masih sepi. Asyik nih, batin gue saat tiba di depan pintu masuknya. Ada peraturan kalau mau nitipin tas, kita harus ninggalin KTP/SIM sementara KTM buat kita masuk ke ruang perpustakaannya. Nah, di tempat nitipin itu ada 2 slot kartu, yang pertama adalah kartu yang digunakan untuk dikaretin bareng sama KTP  dan diberikan ke petugasnya dan satu slot lagi beserta kunci lokernya yang bisa kita bawa.


Setelah selesei nyerahin KTP, gue langsung berjalan menuju ruangan loker, buka tas mengeluarkan laptop, buku note dan revisi bahan skripsian. Begitu gue nyari nomer lokernya, gue tersadar sesuatu.

KOK KUNCINYA GAK ADA?


Gue masih ngebatin, lamaaaa banget. Diem sendirian di ruang loker yang sepi krik krik gak ada orang.
Gue obrak abrik laptop, note, map plastik yang isinya revisian. Kuncinya gak ada. DUH, kuncinya jatoh, pikir gue.
Secepat kilat, gue nyari di sekeliling dengan wajah udah mulai kelihatan gugup, dengan wajah yang udah mulai keringetan. KOK TETEP GAK ADA?

MATIH GUE. GUE KUDU GIMANA?

Setelah hampir 15 menit di ruang loker terkutuk itu, gue akhirnya memberanikan diri buat ngambil langkah. Menghampiri kembali penjaga kartu peminjaman kunci loker dengan tampang udah disetting melas, semelas melasnya.

Mendehem beberapa kali dan akhirnya angkat suara.
“pak, maaf.. kuncinya ilang.”, kata gue pelan
Pak penjaga kartu saktinya mengeryit gak ngerti.

“maksudnya mbak?”, tanyanya dengan suara berat, bikin gue keder buat jelasin lebih jauh
“iya.. gini pak, kunci lokernya gak ada. Ilang”, jawab gue berusaha menjelaskan dengan cool dan tetep tenang
“ehmm..”, bapaknya keliatan mikir sambil liat kartu nomer gue. “mbak, coba deh dicek. Itu.. slot yang buat dikaretin, makanya gak ada kuncinya!”, jelas bapaknya pelan, lembut tapi JLEB. Sakit

Dengan gerakan slow motion gue perlahan liat slot nomer loker yang gue bawa, dan..
ALAMAK! GUE SALAH AMBIL SLOT

*kalo digambarin di film-film kartun, mungkin wajah gue mendadak surem, item-item dengan garis-garis gelap ke bawah*



Seketika gue pengen lempar itu slot dan pura-pura gak tahu. itu-slot-bukan-punya-gue-oke?

Tapi kenyataannya, gue cuma nyengir dengan tatapan “oh-iya-pak-maafin-ya-maklumin-juga”

“makanya mbak, minum mizone dulu!”, olok bapaknya puas.

Gila kan, gila gak tuh. Disetiap tempat kayaknya gue bikin malu, apa iya gue kudu diem di kosan aja sambil cengo nonton tv 24 jam sehari. Astaga! ADA APA DENGAN PUTRI? *mendadak denger backsound AADC*


Sebenernya gue ini kenapa? Gue ini kena penyakit apa? Pikiran gue lagi dimana? Gue lagi mikirin siapa? Gue ini siapa?

kemudian hening.

Jumat, 19 Desember 2014

HEALING PART II



Gak kerasa, semester tujuh sudah berakhir. Dan itu artinya apa? Lu udah tua put.
Iya, makasih banget udah diingetin.
Gue belom lupa kalo gue udh tua harus mikir keras tentang  skripsi dan masa depan. Udah capek banget gue bahasin skripsi di setiap postingan gue. Padahal sebenernya gue jalanin skripsi juga enjoy aja, seperti kuliah pada umumnya. Target tahun depan harus lulus. Amin.



Udah stres-stresnya skripsi. Gue nyari selingan lain.
Mulai dari pulang ke rumah selama seminggu setelah sekian lama gak pulang dan potong rambut jadi super pendek sebagai tanda penghilang sial, maen maen ke kampung coklat, akhirnya buku gue dikit lagi bisa terbit sampai acara inagurasi kelas di villa kemaren. Dan kebahagiaan itu yang pengen gue ceritain sekarang di sini.

Mulai dari buku gue.
Jelek-jelek gini gue ternyata punya bakat dari juniornya Dee Lestari, Raditya Dika ataupun Dara Prayoga meskipun level gue masih di bawah level tiarap. Hahaha
Gapapalah, setidaknya gue udah bisa berkarya.
Seneng gak sih rasanya punya buku? Seneng lah. Banget.
Rasanya tu kaya lo bisa bagi cerita ke semua orang yang udah lo kenal maupun belum. Dan bahagianya tu emang di sana.
Meskipun masih dalam tahap revisi, setidaknya tinggal selangkah lagi biar buku gue bisa self publishing di website penerbitnya sebelum nanti booming baru bisa dibeli di toko toko buku terdekat. Amin ya ALLAH.



Lanjut ke acara refreshing gue yang kedua adalah jalan-jalan ke Blitar
Setelah seminggu di rumah, Sabtu pagi minggu kemaren gue balik ke Malang dengan tujuan sore harinya akan ke Blitar ke rumah Agita, adek kos gue dan Minggu paginya ke nikahan mbak Anis meskipun resepsinya sebenarnya udah jauh jauh hari. Ya mau gimana lagi, mbak-mbak udah pada sibuk kerja, dan gue sendiri juga yang jadwalnya semrawut ini Cuma bisa ngikutin mereka jadi kami ambil amannya yaitu hari minggu dimana kita bisa quality time, meet up. Girls day out lagi kaya dulu semasa dalam kosan.
Kangen kangenan, curhat sampek bahas kapan masing-masing dari kami bakalan nyusul mbak Anis ke pelaminan. Gue mah, belom mikir, skripsi aja belom kelar, calon pendamping hidup juga belom nemu. (mendadak sedih)
Udah udah. Intinya tu gue pengen berbagi kebahagiaan kenapa endingnya dari melow gini bahas jomblo. 

 
ki-ka. Saya,Mbak Niki.MBak Ruli. Mbak Anez. Mbak Fita. Mbak Anis

Dua hari di Blitar udah bikin gue ngerasa beruntung, karena apa? Gue udah sempet jalan jalan kemana mana sampek Kampung Coklat yang lagi gencar banget diomongin sama orang. Letak Kampung Coklat ternyata juga Cuma beda desa sama rumah Gita. Beruntung banget kan, udah deket, bisa ke sana lebih awal, belom rame secara hari itu adalah hari minggu dan bisa beli beberapa produk sampek nonkrong sambil dengerin live music di sana. Hahaha, its so healing you know!

ki-ka. mbak Anez.Gita.Saya. TIte


Begitu gue ganti depe BBM dengan foto tiket masuk ke Kampung COKLAT temen temen gue udah pada heboh pengen diajakin, ngambek juga karena gak diajakin sampek titip cokelat rasa ini itu ke gue yang mumpung ada di sana. Lengkap lah pokoknya, DP BBM gue membawa berbagai macam reaksi.

Gue, mbak Anes, Agita dan Tite sampek di sama baru jam 9 pagian masih lengang, bisa milih tempat duduk, bisa kelilin dulu sambil liat liat dan bisa pesen chocolate chake tanpa antri.
Dari sini gue makin kepikiran lagi dengan pemikiran gue yang pengen banget jadi enterpreneur tapi belom juga kesampean. 

bapak petugas kebun lagi nyetek coklat

tiket masuknya

Bisa bisanya kebun cokelat biasa, disulap jadi cafe kebun coklat yang penuh dengan pohon pohon cokelat di sekitarnya terdapat  banyak banget tempat nongkrong lengkap dengan makanan kecil dan minuman yang dijual disana, selain itu kita juga bisa beli bibit coklatnya dan beli hasil produksi coklatnya. 

Kreatif. Gila

Itu yang ada dipikiran gue. Adaaaa aja yaa orang jaman sekarang nyiptain duit. Dari pohon coklat sekarang bisa jadi tempat wisata yang banyak diserbu penonton. Semangat gue jadi pedagang ise cream duren amatiran kembali tergugah. Hahaha
Healing party gue yang terakhir adalah malam inagurasi kemaren malam bersama temen temen sekelas gue nginep di villa Songgority Batu. Dalam rangka apaan put? Sebenernya Cuma sebagai ajang menyatukan silaturahmi kami selama 3,5 tahun ini.
Bohong kalo selama ini kami tidak ada problem, tidak ada masalah internal. Maka dari itu, dengan acara ini kami pengen menyatuin keping keping problem itu, disatukan dan dipecahkan bersama sama diluar dari kegiatan seneng seneng yang kami lakukan. Mulai dari akustikan, karaokean, baca puisi, masak bareng, barbeque an bareng dan tidur bareng.
Komplit. Dan itu emang titik bahagianya



Selama ini, setelah KKL kami jarang banget bisa kumpul bareng, seru seruan. Paling juga temen temen main yang udah bisa ketemu. Tapi ini menyatukan 45 kepala dalam sat rumah selama semalem adalah hal yang paling tak terlupakan bagi gue dan bagi kami semua. Tiap moment kami lewati bersama, mulai dari kumpul kumpul, kuis, makan makan, masak bersama, sholat berjaah, istigosah,pentas seni, perenungan dan tukar kado.



Masih segar banget di ingatan gue setiap momen yang kami lewatin hari itu. Di hari kami semua seperi melebur menjadi satu, meninggalkan tugas kuliah, meninggalkan revisi skripsi, menjadi satu dalam rasa persaudaraan yang semakin kuat walaupun kami sekarang mungkin udah bakalan jarang ketemu bareng bareng karena udah ribet sama skripsinya masing-masing.

hasil tuker kado dengan caption "mulai sekarang rajib nabung buat bekal nikah yaa." awww



Oiya, kebahagiaan yang terkahir adalah tadi malam.
Nonton film supernova sama temen temen gue.
Lagi hits banget kan ya tu film sekarang, mungkin Cuma gue dan 4 temen gue yang belom nonton. Hahaha, ketinggalan jaman sementara yang lain udah apdet nonton film yang lain. Bodo ah, pentingkan sekarang udah liat. Wkwk
Gue udah nyangka kalo visual pemain filmya itu emang penting, gimana enggal bintangnya aja kaya artis artis 5 cm pindah ke lain judul. Ada Herjunot Ali, atau yang lebih seneng gue panggil Bang Zafran ( di supernova KPBJ jadi Fere), Rhalin Shah (jadi Rana), Feddy Nuril jadi Arvin serta beberapa bintang lainseperti Arifin Putra.
Seru banget,walaupun emang ini dalah film berat buat orang dengan ilmu sastra amatiran kaya gue. Bahasanya yang dipake tinggi banget elah, puitis sampek gue nonton sesekali nyodok Arik di samping gue samping cengo nanya “ini maksudnya apa seh” saking beratnya ini film.

Dan walaupun menurut gue, masih susah dipahami apalagi endingnya, tapi ini film juga patut kok buat dinonton. Visual grafisnya alus banget beda dari film film yang dulu pernah gue liat.

Dari semua kegiatan yang gue ceritain di atas, itu semua adalah sisi lain dari kerumitan dan keribetan gue yang tengah menghadapi skripsi. Skripsi itu Cuma sekali, jadi nikmati.
Itu kutipan yang sampai sekarang selalu bikin gue terpacu. Lu bisa put, pasti bisa. Orang lain aja bisa, kenapa lu enggak. Yakan?
Psssttt...
Udah diem aja, guelagi natap cermin ngomong sama diri gue sendiri biar diri gue yang lain ngadep di cermin ini semangat lagi menghadapi hidup.

 

Beautiful Days Template by Ipietoon Cute Blog Design